Mengintip dan Berkaca pada Tetangga, Sedikit.

Thank God I’m Indonesian

Jews “had always been a problem in European countries. They had to be confined to ghettoes and periodically massacred. But still they remained, they thrived and they held whole governments to ransom,” Mahathir said.

“Even after their massacre by the Nazis of Germany, they survived to continue to be a source of even greater problems for the world.”

Saya rasa di antara saudara sebangsa dan setanah air kita ada yang memiliki pikiran seperti ini diam-diam, tapi setidaknya dia bukan politisi ternama dan bukan orang yang mempunyai pengaruh sekuat itu di kalangan masyarakat luas.

Or are we?

Entahlah, saya tidak tahu dan saya harap optimisme saya benar bahwa tidak ada di antara kita, bahkan di kalangan yang suka menyalahkan Yahudi untuk segala masalah di dunia, tidak ada yang berharap mereka disingkirkan dan dibantai. Untuk apa kita menebarkan kebencian dan fitnah dengan menjual ayat yang kita sendiri sucikan? Seperti yang terjadi di forum ini beberapa hari yang lalu.

Tapi ya sudahlah, saya tidak menulis ini untuk ber”khotbah” yang mungkin semua orang sudah bosan. Demokrasi, toleransi, apalah itu semua. Saya sendiri masih tidak bisa menempatkan sebuah toleransi secara menyeluruh dalam hidup saya. Saya masih sangat tidak toleran kepada orang-orang yang tidak punya toleransi. Bahkan sikap saya sangat keras pada mereka. Saya di sini hanya ingin menyampaikan contoh dari negara tetangga betapa seseorang yang terhormat dan pernah memimpin sebuah negara selama bertahun-tahun bisa mengatakan hal yang serupa dengan pemimpin lainnya puluhan tahun yang lalu.

Pimpinan yang dikenal sebagai inspirator utama Jojon dalam hal berkumis.

RustyrevolveR

Leave a Reply