Surat Terakhir

Pantai ini masih sama, selalu sama. Aku menatap cakrawala hitam di kejauhan sambil menghisap rokok mentol dan membiarkan asap putih melayang lesu di udara, menyapu wajahku yang semakin lesu.

Ya, mungkin ini surat terakhir yang kutulis untukmu, cinta. Nampaknya kita sudah terpisah masa dan dinding maya yang menutupi mimpi yang pernah aku punya selama tahunan kita bersama. Perpisahan ini adalah salah satu perpisahan yang paling menyakitkan, membuatku kehilangan kewarasan, kehilangan kewajaran, dan terseret dalam pusaran emosi yang berlebih.

Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, itu sesuatu yang aku rasa kita sama-sama mengerti. Tapi cinta ini ternyata tidak baik untuk aku dan untukmu, dan aku (terpaksa) harus mengerti.

Maka sudahlah cinta, aku rasa mungkin sudah sepantasnya kamu pergi, rumahmu bukan di sini.

Aku? Aku rasa kamu tidak peduli lagi denganku kini, namun bukankah cinta memang seharusnya tidak memaksa memiliki?

Aku selalu mendambakan kita menua bersama, aku mendambakan Jibril kecil di rahimmu di suatu waktu saat kita menyatu. Namun itu hanyalah mimpi yang kini berlalu bagai abu rokok yang melayang tertiup bayu di pantai ini.

Aku mendengar gemeletak suara bara yang membara tercumbu udara dari hisapan yang menyembunyikan desah asa dan bergulirnya air mata menanti pagi yang tak kunjung jua.

Ah cinta, kamu memang membuatku gila.

Entah besok, entah lusa, entah kapan mungkin aku akan sepenuhnya pergi dan lupa. Mungkin aku akan menerima apa yang kini ada atau apa yang sudah terjadi.

Sudahlah, memang mungkin saatnya aku tutup lembar yang ini.

Aku pergi.

9.11.2014

RustyrevolveR