Suatu Masa, Sebelum Mereka Bersama

Aku melayang.

Aku tidak tahu apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkannya. Aku melayang, terbang di udara kosong nyaris menembus plafon. Aku mencoba menggerakan tanganku, kakiku, aku tidak bisa merasakan apa-apa.

Kosong.

Tidak ada kata yang lebih tepat menggambarkan ini. Kosong, empty, nil, zilch, void. Empat indera mati; tidak merasa maupun mendengar, tidak bicara maupun meraba.

Hanya melihat.

Tembok putih kecoklatan dengan bekas tapak kaki kita saat bercanda menjadi spiderman, kasur dengan seprai yang terlempar entah ke mana, pakaian kotor dan bersih berserakan di lantai, serpihan piring terpecah berkeping-keping… piring yang dulu kita beli di pasar, bersama untuk mengisi ruangan ini dan menjadi rumah kedua kita.

Rumah pertamamu adalah rumahmu dan istrimu.

“Rumah pertamaku adalah hatimu,” ujarku, dulu, entah berapa saat yang lalu.

Dulu, sebelum ‘kita’ menjadi hanya ‘aku’ tanpa ‘kamu’.

Pandanganku kabur, aku tidak bisa memanggil satupun ingatan solid, hanya fragmen-fragmen kecil bagai kubus rubiks yang teracak tanpa rumus membongkarnya.

Namaku kucing liar, aku binal dan mencintai ular.

Dan ular itu mati karena menggigit bibirnya sendiri.

Aku menatap ke bawah. Sesosok tubuh terbaring kaku dengan separuh bagiannya menggantung di tepi kasur dan satu lengan tertiban badan yang jauh dari kata ‘besar’ itu. Satu lengan, lengan kiri, menjuntai lemah dengan sisi dalam menghadap langit memperlihatkan guratan-guratan merah asimetris yang membocorkan sungai merah kehidupan dari gorong-gorong bawah kulit mereka. Postur akrab yang sering kutatap dari balik cermin.

Dalam kesadaran seketika, gravitasi berbicara. Aku terjatuh, sebuah tangan dingin bagai meremas jantungku yang terhenti sesaat sebelum semuanya hilang dalam basuhan cahaya putih.

“Sakit,” ujar gadis itu sambil melirik ke lengannya yang bersimbah darah. Di sampingnya teronggok sebuah tempat permen bekas terbuka dengan isi obat-obatan yang seharusnya tidak berada di sana berserakan keluar. Sebau botol pipih dengan isi yang sudah tuntas tergeletak di sisi lain kamar itu.

Gadis itu menatap berambut sepipi itu menatap langit-langit dengan tatapan berkaca-kaca.

“Tuhan,” ujarnya, “kenapa aku tidak mati saja?”

RustyrevolveR

Leave a Reply