Prelude

Kita semua terlahir spesial, begitulah pesan dari sosok sempurna yang berdiri gagah menghalangiku dari sinar matahari. Aku selalu berjalan di belakangnya, menatap tubuh yang tegap ditempa olahraga dengan bahu lebar tempatku berpegangan saat dia memboncengku dengan sepeda BMX berkeliling kota kecil tempat kami tinggal. Kamu terlahir membawa sial, begitulah katanya. Dia duduk di bayang-bayang gelap rumah kami, berwujud tidak lebih dari siluet di depan televisi. Menghabiskan hari dalam diam meski tawa maupun air mata melintasi layar perak yang tak pernah mati.

Aku mengenal sepasang lelaki tua dan muda ini di ulangtahunku yang keempat, saat telapak gempal Bibi menepuk bahuku dan berbisik: ”Tuh, papa sama kakak kamu. Kenalan gih!”

Senyuman hangat melintangi sosok lelaki yang lebih muda saat dia menghampiriku dan berjongkok agar tinggi kami sejajar. Tubuhnya tinggi dengan rambut belah tengah dan alis tajam yang mengingatkanku pada lelaki di acara televisi hari Minggu yang bisa berubah menjadi ksatria belalang. Aku merasa nyaman dengan senyumnya, namun lelaki satunya yang lebih tua menatapku dengan tatapan datar, tanpa senyum. Dia lalu berbincang dengan Bibi, meninggalkanku berdua dengan orang yang mulai hari itu kukenal sebagai kakakku.

-x-

“Mulai hari ini kamu tinggal sama aku dan Papa ya”

“Bertiga? Aku nggak punya mama?”

“Punya, cuma Mama ndak tinggal sama kita. Dia tinggal sama Tuhan.”

“Kenapa?”

“Karena kita semua nanti akan tinggal sama Dia, tapi Mama aku dan kamu berangkat duluan.”

“Aku nggak boleh nyusulin Mama?”

“Ndak, kita punya giliran masing-masing. Sekarang kamu sama Kakak dan Papa saja ya.”

Satu hari telah berlalu sejak aku meninggalkan rumah Bibi di Jakarta, matahari senja mewarnai langit menjadi jingga, bias cahayanya merambati udara dan menembus jendela kamar tempat aku dan kakak saat itu berbicara. Ruangan itu dipenuhi buku yang berjajar rapih dengan sebuah televisi kecil di sudut ruangan, di sampingnya terletak sebuah mesin game berwarna abu-abu dengan beberapa CD game berserakan. Di sisi lain kamar itu terdapat sebuah tempat tidur tingkat dengan kasur atas rapi sementara kasur bawahnya sedikit berantakan dengan bantal dan guling yang terlihat sudah digunakan sebelumnya.

“Kamu mau tidur di kasur atas atau bawah?” tanya Kakak.

“Atas!”

“Kamu ndak takut jatuh?”

“Enggak, kan ada pinggirnya. Emangnya Kakak takut?”

“Dikit.”

Aku tertawa kecil dan berlari memanjat tempat tidur itu, kakakku hanya menatapku sambil tersenyum.

-x-

Konon harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri, namun itu hanya sebatas konon di mataku. Aku pernah menonton satu episode Discovery Channel yang membahas mengenai singa jantan yang membunuh anaknya selagi kecil untuk mempertahankan posisinya sebagai alpha male. Aku pun pernah membaca kisah di buku Kakak mengenai raja yang membunuh anaknya hanya karena ramalan. Aku tidak percaya kalau darah menihilkan kebencian.

Dan aku sangat yakin Papa membenciku.

Sudah duabelas tahun sejak aku tinggal di rumah itu dan Papa mungkin hanya pernah mengatakan sepuluh kata per tahun dan itu pun penuh pengulangan kata “remote TV mana?”. Sapaanku hanya dibalas suara menggumam, bahkan uang jajan hanya dititipkan melalui Kakak. Kesehariannya dihabiskan di depan televisi atau di bengkel miliknya dan hanya berbincang sesekali dengan Kakak. Suasana rumah selalu tegang untukku saat dia ada, dan semua ini memuncak di satu malam saat aku tidak sengaja mencabut kabel televisi saat menyapu lantai.

Hal pertama yang aku ingat adalah suara keras saat asbak itu menghantam pelipisku. Aku tersungkur dan hantaman-hantaman berikutnya menyusul dengan berbagai makian terdengar menusuk telingaku. Dia memanggilku pembunuh, pembawa sial, dan nama-nama lain yang menghilang tenggelam di dalam geraman amarahnya. hal berikutnya yang kuingat adalah tinju Kakak yang melayang telak ke wajah Papa. Suara berisik terdengar semakin sayup sebelum aku akhirnya hilang kesadaran.

Esoknya aku tidak sekolah, aku tidak mau wajahku yang memar menjadi pertanyaan. Kakak memintaku untuk tidak keluar kamar, setidaknya sampai Papa berangkat kerja ke bengkel sementara dia berjanji akan pulang secepatnya setelah urusan kuliahnya beres. Aku menuruti sarannya, dan hari itu kuhabiskan di kamar sampai kulihat Papa meninggalkan rumah.

Aku menyelinap turun untuk mengambil minum, dan saat aku tiba di dapur terdengar suara wanita berbincang di pekarangan. Aku mengintip dan melihat beberapa pembantu rumah tangga dan seorang ibu pemilik toko kelontong bercengkerama, salah satunya adalah Siti yang datang sesekali untuk mencuci dan membereskan rumahku.

“Ah, mosok?” ujar Siti dengan suara keras yang disambut desisan dari teman-temannya.

Iyo, Ti! Simbokne mati wektu mbayen anake sing ragil.

“Tapi kok tega yo? Anake dhewe kok dienteki koyo ngono”.”

“Eeeh… mengko sik, bapaknya bukan dia!”

“Lhoo, terus?”

Ono limo, ning penjara!”

“Kok iso tho?”

Kene, tak kandakne…”

Obrolan itu terputus oleh suara keras dari dapur tempatku berdiri. Pecahan keramik berserakan di lantai dengan dihiasi ceceran darah dari kepalanku yang masih menetes. Di luar Siti terlihat kaget dan panik, sementara kerumunan itu bubar seketika.

“JANCUK, KON ISO HATI-HATI, ORA?” terdengar teriakan dari belakangku. Aku menoleh dan menatap wajah lelaki yang baru saja memukuliku tadi malam.
“KON SING JANCUK, ASU!” teriakku spontan sambil melempar gelas yang terletak tidak jauh dari tanganku. Aku melompat menaiki meja makan dan menerjang lelaki itu.

Kami bertukar pukulan, kepalanku terasa nyeri dengan darah masih mengucur, membasahi wajah orang yang selama duabelas tahun terakhir kupanggil Papa. Emosiku memuncak dan kupukul wajah itu sekeras-kerasnya.

Jantungku berdetak keras di dalam dadaku. Nafasku memburu, tatapanku kabur. Yang kulihat di hadapanku hanyalah lelaki tua yang mengerang kesakitan memegangi wajahnya yang berlumuran darah, entah darah siapa. Aku berdiri, meski dengan kaki bergetar aku berlari sekencang yang aku bisa sejauh-jauhnya.

-x-

Kowe iso gitaran? Nyanyi?”

Ra iso gitaran, mas. Nyanyi aku bisa.”

“Yawes, ndak apa-apa, aku ajari.”

“Tapi tanganku luka begini.”

“Sing kanan thoNdak masalah.”

Suara kereta terdengar di kejauhan, menembus tembok tripleks bedeng tempatku beristirahat. Tanganku masih terasa nyeri, namun pendarahannya sudah berhenti dibantu balutan perban. Tiga lelaki berpakaian hitam-hitam bergambar logo band metal duduk memenuhi ruangan kecil itu; beberapa gondrong, semuanya bau.

“Mulai besok kamu temenin kita ngamen ya,” ujar lelaki dengan rambut yang mau mengajariku bermain gitar. Rambutnya yang keriting terurai panjang melewati punggung, dan kaosnya memperlihatkan lelaki tua yang mengacungkan sepasang telunjuk dan kelingking ke udara.
“Omong-omong, namamu siapa?”

Aku termenung, menatap tulisan di kaos yang dikenakannya.

“Dio.”

RustyrevolveR