Piece(s) From L’arc’s Jakarta Concert

I’m not a fan of L’arc en ciel.

Gue rasa semua orang yang kenal gue udah tahu, dan siapapun yang baca blog gue tahu siapa-siapa aja musisi Jepang yang sangat gue idolain. Semuanya udah gue tulis kayaknya.

Oke, kecuali hide.

…dan Dir en grey.

Tapi dua nama di atas kayaknya udah banyak yang tahu, so what the hell lah yah.

Dari fakta itu, banyak yang ternyata cukup kaget ketika gue nonton konser L’aniversary di Senayan tanggal 2 kemarin. Tujuan gue jelas sih (selain karena “why the hell not?”), gue pengen naikin jumlah penonton, minimal satu, untuk bikin konser ini lebih penuh dan ngebuka mata promotor Indo kalau pasar penonton musik Jejepangan itu sebenernya cukup gede.

Call me naïve, but that’s how I view that.

Momen yang paling berkesan buat gue dari konser ini bukan dari L’arc nya sendiri, sebenernya. Momen yang paling berkesan adalah ketika gue ngobrol-ngobrol sama penonton di area reguler (where I watched the show, sebelum kebawa arus ke premium waktu pagar dibuka pas bagian akhir konser). Di sini gue ngobrol sama anak-anak Jejepangan (yang–jujur aja–salah satunya agak smelly gara-gara keringetan massively; Cheeses) dari Jepara dan Semarang, beberapa pada ngobrol sendiri dengan logat médok yang beda-beda.

A melting pot. Something I always wished for ever since I joined this community.

Yah tetep aja ada yang sok elit sih setelah acara selesai. Cocksucking hipster.

But nevermind that manwhore, let’s talk about the show!

Salah satu yang gue suka dari acara ini adalah; bahkan non-fan kayak gue pun bisa menikmati. Oke, selain akustik lapangan yang agak ngeselin di belakang sih, lapangan ini kurang bagus buat sound segede ini. Bassnya Tetsuya jadi agak ngegulung, dan gitarnya Ken suka timbul-tenggelam. It’s a pity, I know, cuma ya ga masalah juga sih, karena di bagian akhir (waktu playlistnya sudah gue kenal semua, har-har) gue tergeser ke depan FoH; tempat terbaik untuk mendapatkan sound mumpuni.

Another thing yang gue sangat suka, mereka bener-bener berusaha untuk berhubungan (not in that sense) dengan para audiens yang dengan bahagia pamer bikini yang dihiasi lighstick.

OH YOU KNOW WHO YOU ARE XDD

I’m an old person, gue cuma kenal lagu-lagu lama (not a fan, remember?) Tapi gue juga nggak bisa pungkiri kalau banyak lagu yang menarik gue ke… yah masa-masa di mana gue bermimpi menjadi guru yang paling keren sedunia.

Yes, THAT anime.

What else ya?

Sebetulnya kesannya banyak sih, terutama maksimalisasi penggunaan LED screen supergede di belakang yang dipadu lalampuan gede yang bisa ngalahin LED di Mall Taman Anggrek.

Oke, nggak juga sih, gue yakin tagihan listrik MTA masih tetap lebih gede.

All the skits are obviously hillarious. Youtube them, I won’t talk much about it because I think you’d know about it already.

Again, I put a really high hope on what’s coming after this show.

Yes, Luna Sea please?

Pretty please?

With sugar on top?

With sushi on my abs and whipped cream on my nipples?

…you get my point lah yah.

(originally posted on 

RustyrevolveR