Mengintip dan Berkaca pada Tetangga, Sedikit.

Thank God I’m Indonesian

Jews “had always been a problem in European countries. They had to be confined to ghettoes and periodically massacred. But still they remained, they thrived and they held whole governments to ransom,” Mahathir said.

“Even after their massacre by the Nazis of Germany, they survived to continue to be a source of even greater problems for the world.”

Saya rasa di antara saudara sebangsa dan setanah air kita ada yang memiliki pikiran seperti ini diam-diam, tapi setidaknya dia bukan politisi ternama dan bukan orang yang mempunyai pengaruh sekuat itu di kalangan masyarakat luas.

Or are we?

Entahlah, saya tidak tahu dan saya harap optimisme saya benar bahwa tidak ada di antara kita, bahkan di kalangan yang suka menyalahkan Yahudi untuk segala masalah di dunia, tidak ada yang berharap mereka disingkirkan dan dibantai. Untuk apa kita menebarkan kebencian dan fitnah dengan menjual ayat yang kita sendiri sucikan? Seperti yang terjadi di forum ini beberapa hari yang lalu.

Tapi ya sudahlah, saya tidak menulis ini untuk ber”khotbah” yang mungkin semua orang sudah bosan. Demokrasi, toleransi, apalah itu semua. Saya sendiri masih tidak bisa menempatkan sebuah toleransi secara menyeluruh dalam hidup saya. Saya masih sangat tidak toleran kepada orang-orang yang tidak punya toleransi. Bahkan sikap saya sangat keras pada mereka. Saya di sini hanya ingin menyampaikan contoh dari negara tetangga betapa seseorang yang terhormat dan pernah memimpin sebuah negara selama bertahun-tahun bisa mengatakan hal yang serupa dengan pemimpin lainnya puluhan tahun yang lalu.

Pimpinan yang dikenal sebagai inspirator utama Jojon dalam hal berkumis.

RustyrevolveR

Avatar

All I can say, this probably the best movie to close this year. I mean, screw 2012 and the controversy surrounding it, Avatar promise me better CG, better director, and probably better “love-earth” message.

Think I’m exaggerating? Take a look at the trailer and judge it by yourself:

Yes, I’m currently Photobucket-ing.

RustyrevolveR

91209 : Retrospective

Jadi yah, saya sedikit memperhatikan jalannya demo kemarin, meskipun nggak ke mana-mana juga. Unlike some people, I actually put priority to my job rather than yelling on the street about corruption while in the same time corrupting my work hour.

Seriously, people.

Jujur saja, dengan segala ekspektasi dan kehebohan yang ada dari seminggu sebelumnya, 9 november kemarin tidak ada sesuatu yang benar-benar spesial. Dengan pengecualian rusuh mahasiswa di Makassar dan demo jin di Lamongan, tentunya. Tapi jujur saja, itu juga bukannya kejadian yang jarang.

Demonstrasi massal, rusuh di satu-dua titik, orang ajaib dengan logika klenik, copet, dan diakhiri dengan bagi-bagi amplop. Just an everyday’s life in this beautiful world of democracy. Someone got a need, someone got an issue, someone got a money, there’s timing, and then voila, we got a demonstration.

Kenapa saya bilang kalau kemarin itu sama saja kayak biasanya? karena selain momen peringatan hari anti korupsi, tidak ada subjek atau aksi yang berbeda dari biasanya (sekali lagi, selain demo jin). Saya malah ragu mengenai jumlah masyarakat yang benar-benar peduli dengan demonstrasi kemarin, karena sejauh yang saya lihat kebanyakan orang justru lebih banyak yang berdiam diri di rumah karena takut rusuh.

Saya rasa pada saat ini demonstrasi sendiri juga sudah tidak efektif untuk menyampaikan pendapat. Sebagian masyarakat sudah memandang sinis karena setiap kali ada demo efektivitas kerja dan omzet perdagangan di daerah yang dilewati demo menjadi berkurang, belum lagi macet dan lain-lainnya. Saya rasa juga kalangan “tertentu” memandang demonstrasi ini dengan sinis karena dengan banyaknya jumlah pendemo bayaran, kita sulit memisahkan mana demo yang benar-benar serius mana yang cuma bayaran. Apalagi kebanyakan memang hanya berjalan ramai-ramai sambil mengangkat poster yang terlihat seperti headline koran kuning dengan kekasaran disetel pada volume 12. Belum lagi aksi-aksi konyol semacam memantati gedung putih ramai-ramai.

Entahlah, mungkin ini memang preferensi personal saja, tapi saya sangat sulit memandang serius suatu gerakan yang lebih terlihat seperti gerombolan domba dengan satu orang gembala yang menyuruh mereka mengembik ramai-ramai secara kompak setiap beberapa menit sekali. Kalau begitu apa bedanya dengan anggota dewan yang selalu kompak bilang setuju?

Dan dengan segini banyak masalah yang terlihat di dalam sebuah proses demonstrasi, bisakah kita berharap demonstrasi akan dianggap serius selain “paling BSH” atau “ada maunya tuh” atau malah “coba kita lihat siapa yang nyetir”. And we can’t blame people for thinking that way, because seriously, that happened a lot of time.

Tapi sudahlah, saya tidak ingin marah-marah terus terusan. Saya ingin bertanya saja, tidakkah ada cara lain penyampaian pendapat selain demonstrasi? At this rate, it’s kinda pointless, tiring, and kinda hypocrite seeing how much inconsistency and corruption inside the demonstration itself.

RustyrevolveR

[Kopi Pasta] Amnesia Sejarah Itu…

Tidak hanya di Indonesia, sepertinya. 

JAKARTA – Heboh film berjudul Balibo ternyata ternyata hanya melanda publik Indonesia. Di Australia, film tersebut tidak disambut antusias. Apalagi di Timor Leste, tempat terjadinya tragedi Balibo Five.

“Di Dili, film Balibo kalah tenar dengan sinetron Cinta Fitri. Bila sinetron Cinta Fitri tayang, jalanan di Dili pasti lenggang,” ujar Ketua AJI Ezky Suyanto dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki, Minggu (7/12/2009) malam.

Sebelum acara diskusi digelar, AJI mengajak para undangan menyaksikan bersama film yang disutradarai Robert Connolly itu. Diskusi menghadirkan narasumber sejarawan Asvi Warman Adam dan pelaku sejarah Kolonel (purn) Gatot Purwanto.

Ezky menyebutkan, film Balibo diputar di Timor Leste selama tiga hari pada November lalu di Dili. Hasilnya, film yang menceritakan kronologis tewasnya lima jurnalis asing di Balibo itu tidak begitu diminati publik.

“Bahkan dari enam media di Dili tidak ada satu pun yang menjadikannya ulasan utama,” pungkasnya.

Lembaga Sensor Film (LSF) melarang pemutaran film Balibo di Indonesia. Pemerintah beralasan film tersebut bisa membuka luka lama dengan Australia dan Timor Leste.

Film Balibo Five diangkat dari kisah terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Timur (kini Timor Leste) pada tahun 1975. Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris tewas saat tengah meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste.

Berdasarkan hasil investigasi, pengadilan koroner New South Wales menyatakan, kelima wartawan dibunuh tentara Indonesia. Namun, pemerintah Indonesia berpendapat lain. Tewasnya wartawan asing itu karena terjebak di medan peperangan. (teb)

Mungkin emang nggak tepat dibilang amnesia juga sih, cuma lucu aja kayaknya kita heboh sendiri dan filmnya makin dicari sementara di sini dan di sana malah nggak laku.

RustyrevolveR

(D)evolusi (R)evolusi

Tidak hanya sekali saya membaca tulisan menuntut, menyemangati, dan menginginkan revolusi. Ya, REVOLUSI (ditulis dengan huruf kapital untuk menegaskan) !!! Tentu ini adalah sesuatu yang wajar, namanya juga demokrasi. Setiap orang punya suara dan setiap orang bisa bicara. Tentu saya tidak mempermasalahkan itu. Yang saya pikirkan hanya satu hal, tidak kah kita, (kalian, mereka (?) ) belajar dari sejarah? Tidak usah kita belajar jauh-jauh, kita lihat dari kejadian sebelas tahun yang lalu. Sang Pemimpin Lalim™ digulingkan oleh kekuatan Rakyat™ yang lelah tertindas dan terbungkam, digeserkan oleh kekuatan massa, untuk digantikan oleh…



Oleh siapa?

Tentu saja pada waktu itu ada berbagai figur Pejuang Reformasi™ yang mencuat ke permukaan, tapi tetap tidak ada satu figur yang dijadikan panutan, pimpinan figur yang satu. Atau istilah lainnya mungkin adalah pimpinan revolusi, dia yang dielu-elukan untuk memegang tampuk kepemimpinan dan membawa negara ini ke kondisi yang lebih baik.

“Apa salahnya, Can? Toh kita punya musuh yang sama, kejahatan berhasil dikalahkan!”

Tentu saja. “Kejahatan” memang berhasil dikalahkan. Tapi lihat apa yang terjadi setelah itu? Kekosongan posisi di atas membuat mereka-mereka yang punya kesempatan saling berebut, menjatuhkan satu sama lain untuk memegang tampuk kepemimpinan. Dan dalam perjalanan ke sana, dalam persaingan yang tidak sehat itu, segala macam bentuk korup yang dulu dihina-hina dan dijadikan alasan menjatuhkan Sang Pemimpin Lalim™ dilakukan sendiri, sadar tidak sadar.

Saya rasa kita tidak buta, sebelas tahun ke belakang kita sudah melihat belang masing-masing figur yang tidak perlu saya sebutkan namanya satu per satu di sini.

Lalu saya ingin bertanya, apa bedanya dengan saat ini? Apakah kita memang sudah punya figur pengganti? Apakah kita punya visi, misi, dan segala macam perencanaan jika memang revolusi terjadi?

Saya ragu.

Saya ragu, seragu-ragunya, bahwa kita yang berpikir mengenai revolusi ini sudah lebih maju daripada sebelas tahun yang lalu.

Yang saya lihat selama ini hanyalah teriakan, tuntutan, dan amarah tanpa pemikiran ke depan. Tanpa perencanaan yang jelas, sebuah revolusi hanya akan berakhir pada instabilitas yang berujung pada keterpurukan yang lebih dalam lagi. Dan apakah kita menginginkan itu?

Saya rasa tidak.

Dan jika kita mencoba beralasan: “perubahan tidak segampang itu, tidak ada perubahan instan!” tolong berkaca kepada tuntutan kita sendiri kepada seluruh orang yang memimpin negeri ini. Apakah kita tidak menuntut perubahan instan pada mereka?

Jadi tolong, wahai kalian yang merindukan revolusi. Pikirkan dan rencanakan lebih matang. Ini tidak menyangkut kalian saja, ini juga menyangkut kepada saudara-saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan. Ketika kisruh dalam negara terjadi, merekalah yang paling pertama merasakan dampaknya, padahal ikut-ikutan (atau bahkan peduli) juga tidak. Jangan terbawa nafsu; a revolution can’t be undone.

Kita sudah mendapatkan pelajaran sepanjang satu dekade ke belakang, dan itu bukan sejarah yang kita baca di buku melainkan sejarah yang kita jalani dan rasakan sendiri. Jadi tolong, berkacalah di sana.

RustyrevolveR

Another Musical Rant

The Mindless Rant

I’ve been thinking lately, I know I’m not musician or anything but I raised among them and most of them are awesome. By I mean awesome, i don’t mean about their music or anything. Heck, some of them make music that I don’t even understand but I admire the way they put their heart through their song and play it out. Some might say that they will never go anywhere with that kind of music, some might say they are stupid, but time shows that great musician becoming great because they simply being themselves through their music.

Honesty, I think that’s what’s been missing from music I hear recently. Seriously, what are you make it for? If I want to make money, I can (which already are, by the way) work from 9 to 5 and get the stable income. I mean, what the fuck, if I have to continuously make music that I don’t like, sing a song that I think is dumb by default, I’d rather stick on my job since what’s the fucking difference does it make from having a 9 to 5 job? The only difference is the degree and education and prolly the popularity and the hot chicks. But the latter can be gained from working 9 to 5 too, some of my friends are experienced on that (you know who you are :P).

Going Major

Is this that important? Sure, you can be popular and rich if you’re lucky, but there’s always consequences, and we all know that. I already mentioned previously about making and playing music that you don’t like, no? If you don’t have strong enough characteristic in you, you’d only be a clay doll for the people on the management. They can shape you the way they want to be, put you on the shelf, and cross their fingers. If you sell, good. If you don’t, they gonna replace you with the next clay doll with enhanced look and music learning from your mistake. I may not experienced this myself, but I surely watch and learn.

Some say that making music is not always about yourself. It’s about letting the people enjoy the music that you make which means, you can’t be selfish on making music. True. To make people enjoy you have to make something that they can hear without twitching their eyes. But this doesn’t mean you have to make something exactly like what they want to hear. There’s a difference between following the stream and compromising with it. For example, not everyone like to hear Hard Rock, that’s why they create Ballad Rock for the mellow-eared.

(Of course, that’s a very simple analogy. But at least I can show the big picture.)

No, I’m not saying “just throw your guitar and get 9 to 5”. I’m not saying “let’s all burn the mainstream media and sing Anarchy in INA” either. I just want to ask: why don’t you be honest to yourself and make something that you actually want to make? The industry is always changing, the listener’s preferences never stay the same for a long period, if you make something according what’s popular now, in the next year you’ll be a forgotten pile of shit that might be lucky enough to get into the VH1 “pop of the last decade”.

(From my other Facebook note again, not in the mood on writing something new)

RustyrevolveR