Metro Mini (dan sejenisnya)

Metro Mini mungkin sudah jadi semacam peyorasi untuk semua bis ukuran menengah yang memenuhi Jakarta. Dengan suaranya yang menggeram seperti anak metal keselek biji kedondong, kondektur yang suaranya seringkali mengalahkan bintang JAV amatir secara kadar desibel, dan sopir yang merasa dirinya Vin Diesel.

Ya, bis kota yang satu ini memiliki hubungan cinta tapi benci yang sangat erat dengan kebanyakan warga Jakarta. Saya sendiri mungkin lebih dominan kadar benci daripada rindu, berhubung saya menjelajahi Jakarta dengan motor bebek tua yang sering dipepet secara semena-mena, belum lagi dengan semburan asap cumi-cumi penuh timbal yang katanya bisa menurunkan IQ.

Saya bukan ilmuwan, jadi saya nggak bisa memberikan konfirmasi apa-apa soal ini.

Tapi sebetulnya saya menulis ini hanya atas dasar penasaran, seberapa jauh andil pemda dalam mengatur mereka? Jujur, keberadaan mereka memberikan lebih banyak masalah dari yang kita kira. Mungkin sekarang para sopir sudah tidak seugal-ugalan dulu di medio 90an sampai berapa kali terjadi kecelakaan yang cukup fatal. Namun begitu, masih sering terjadi kecelakaan karena gaya menyetir yang membangkitkan inner road rage dari insan-insan yang cinta damai di jalanan (ceritanya curcol). Belum lagi asapnya yang saya rasa dalam jangka panjang bisa meningkatkan jumlah siswa yang tidak lulus UN.

Entahlah, adakah yang bisa memberi pencerahan sebaiknya mereka diapakan? Saya pribadi sih maunya semua bis itu di lem-biru aja, tapi kayaknya kan nggak ada duit.

Kayaknya lho…

(Ditulis di Sency sambil menatap lapangan golf di bawah. Masih menunggu yang katanya mau mencabut nyawa.)

RustyrevolveR

Leave a Reply