Malam Pertama

Alexa memutar tangan dan NSR ’98nya meraung kencang dengan asap putih tipis menyembur dari dalam knalpot ramping itu. Beberapa detik kemudian dia sudah melesat pergi bergabung dengan keramaian lalu lintas. Motor sport tua itu melesat kencang di tengah padatnya jalanan Jakarta, dibawa Alexa menyelip-nyelip di antara mobil dan bis. Tidak terpikir apa-apa lagi, lebih baik menyerempet kanan-kiri daripada terlambat. Matanya yang tidak memiliki lipatan itu memicing di balik kaca helm, memperhatikan setiap celah yang bisa dia masuki. Suara berdecak kecil terdengar diiringi makian dalam beberapa bahasa ketika sebuah bis mendadak menepi dan menurunkan penumpang menghalangi jalannya. Alexa menendang keras bemper belakang bis itu sambil mencekik tali gas motor kesayangannya dan mengacungkan jari tengah sambil melaju jauh meninggalkan bis yang tidak mungkin mengejar sebuah motor di antara kemacetan.

Raungan motor itu terdengar keras sebelum dilanjutkan hening seiring Alexa melompat turun dari atasnya. Dia melempar helm secara asal-asalan ke atas sofa di dalam ruangan dengan pintu yang terbuka di ujung nya. Seseorang berdiri di hadapan pintu itu sambil menatap Alexa dengan mata memicing.

“Elo. Telat. Banget,” ujar seorang laki-laki bertubuh ramping dan tidak terlalu tinggi yang berdiri di hadapan pintu itu. Rambutnya yang tidak terlalu panjang tergerai lemas menutupi dahinya tanpa cela celah sedikitpun.

“Lima menit, Stan! Elo jadi manager rileks sedikit kenapa sih?” jawab Alexa ketus sambil merapikan rambutnya yang dipotong pendek acak-acakan dengan jarinya.

“Lima menit itu udah satu lagu. Nggak ada yang namanya ‘cuma’ di sini.”
“Lo nggak mikir kalau elo ngomelin gue justru bikin gue makin telat?”
“Makanya gua nunggu lo di sini, supaya lo bisa dengerin omongan gua sambil kita naik!”

“Ada apaan sih yang segitu pentingnya, Stan?” ujar Alexa sambil melangkah menaiki tangga menuju studio di lantai dua ruko tersebut. “Lo biasanya nggak pernah sampe seniat ini buat marah-marah.”

“Hari ini calon bassist baru kita datang, oke? Gue pengen etos kerja band kita terlihat baik di depan calon member baru…”
“Sebelum belangnya kita ketahuan semua,” potong Alexa ketus.
“Sinis amat sih lo?”
“Sinis lah, gue ngebut nyeberangin Jakarta dari barat ke selatan cuma buat dibentak-bentak sama elo.”

Stan melirik dengan mata menyipit sementara Alexa menatapnya balik dengan wajah menantang.

“Bisa nggak usah diperpanjang? Kita udah telat,” Stan mengetuk-etuk jam tangannya.

Alexa memutar bola matanya sambil mengerang dan melangkah naik mengikuti Stan.

Udara dingin menyambut Alexa dan Stan ketika memasuki studio. Ruangan itu cukup besar, dengan lantai kayu dan karpet melapisi dinding dan setiap sudut ruangan. Alexa melangkah ke belakang drum set dan mulai mengatur posisi seluruh set alat perkusi tersebut.

“Lo kena ceramah banci lagi ya?” ujar seorang lelaki bersuara serak.
Alexa terkekeh. “Iyalah, gue kan emang langganan sama dia.”

Pemilik suara serak itu tertawa kecil. Bahunya yang lebar berguncang, mempertontonkan tulang yang menonjol dari balik kaosnya yang berkerah longgar. Dia lalu mengibaskan rambutnya,yang panjang bergelombang dan mengikatnya di belakang kepala.

“Ya udahlah, kita tes dulu tuh anak baru,” ujarnya lagi.

Alexa melirik, seseorang yang mengenakan jaket dengan tudung dinaikkan sedang duduk menunduk di depan deretan tombol dan lampu yang menyala sambil sesekali menaik-turunkan setelan nada di bassnya.

“Anak mana, Cen?” tanya Alexa kepada Vincent, sang pemilik suara serak itu.
“Bawaannya Evan, temen gereja, atau sekolah minggu, atau apalah gitu,”
“Si Evan sejak kapan pergi ke gereja?”
“Nggak ngerti deh gue… yah pokoknya gitu deh katanya.”

Alexa kembali melirik ke pemain bass itu. Sebagian wajahnya tertutup poni yang dipotong miring menutupi sebelah matanya. Kulitnya yang putih dengan bibir merah muda kontras dengan rambut hitam mengkilap. Alisnya tipis dengan bulu mata lentik di pinggir mata yang berbentuk seperti mata kucing.

“Okay, kita coba lagu yang agak umum dulu gimana?” ujar Vincent sambil mengedikkan kepala ke arah anak baru itu.

Anak baru itu mengangkat bahu dengan ekspresi ‘terserahlah’.

“Ya udah, Highway to Hell?” Vincent melanjutkan ucapannya sambil meminta persetujuan anggota band lainnya.

“Fine,” jawab Alexa.

“Oke atau nggak Lex?” tanya Vincent selepas latihan. Mereka semua sedang duduk di lantai paling atas studio. Langit di atas mereka gelap, sedangkan ruangan tanpa atap tersebut hanya diterangi sebuah lampu neon yang menempel di atas pintu menuju tangga turun. Di samping pintu itu sebuah tulisan tertera dengan cat warna merah dan perak: “RUSTYREVOLVER” dengan gambar sebuah pistol revolver panjang yang terlilit duri mawar di bawahnya.

“Oke sih,” ujar Alexa sambil mengetuk-ngetukkan stik drumnya ke tempat duduk plastik yang diletakkan di depannya. “Ada tampang lagi. Udah lama kan elo pengen punya groupies homo?”
“Tai lo,” sahut Vincent sambil melempar Alexa dengan kaleng minuman ringan.
“Tapi, serius deh. Skill ada, tampang ada. Gue agak kurang sreg sama rambut emo-emoannya dia itu sih, cuma itu masalah minorlah. Elo sendiri gimana, Cen?”
“Yah, rambut oke deh, tapi masing-masing gaya deh kalau itu. Tapi sense of rhythmnya cukup mumpuni ya?”
“Tai ah bahasa lo…”
“Elo kan drummer, harusnya elo dong yang nilai!”
“Gue bilang skill oke ‘kan? berarti gue nggak ada masalah.”

Vincent mengangkat bahu.

“Guys,” teriak Stan. “Ngumpul dong, belum pada kenalan kan?”

Pemain bass itu tersenyum sopan dengan raut wajah datar. Sebatang rokok terselip di ujung bibirnya.

“Nama gue Kat…”
“Kayak nama cewek,” potong Alexa.
“Gue emang cewek, kali,” lanjutnya dengan ketus.

Alexa terbengong. Di luar penampilannya yang maskulin-tapi-agak-cantik, suaranya yang berat masih terdengar seperti suara perempuan.

“Alexanya ada dua nih,” ujar Vincent sambil terkikik. Alexa meliriknya dengan tatapan kesal.
“Atau malah si Stan yang jadi dua?” balas Evan sambil menyenandungkan Dude Looks Like a Ladynya Aerosmith yang disambut dengan keplakan tumpukan kertas di kepala.
“Berisik,” ujar Stan sambil mendengus. “Terusin, Kat?”

Kat hanya terdiam sambil mengangkat bahu. “Apa lagi?”

“Jadi sekarang kita cuma tahu nama…” ujar Alexa.
“…dan jenis kelamin,” potong Vincent yang lalu diiringi tepukan tangan dari Evan.

“So far with the ‘jaga image band’, Stan?” desis Alexa kepada Stan yang dibalas dengan muka merengut.

“Elo pulang ke mana, Kat?” tanya Alexa sambil mengenakan jaket ketika mereka semua sedang bersiap untuk pulang.
“Rumah gue deket sama kos-kosannya si Evan, paling gue nanti balik bareng dia.”
“Nggak mendingan sama gue aja? Evan pasti bakal nongkrong lagi sama Stan dan Vincent di Baby Band’s buat karaokean.”

“Kayaknya asyik kalau ikutan juga,” ujar Kat sambil menaruh tas bassnya di punggung.
“Elo bercanda? Gue nggak mau ada di ruangan yang sama waktu si gondrong kembar itu ngegodain waitress setempat. Kalau berhasil, kita terpaksa ngelihat mereka towel-towel kiri-kanan.”

“Kalau gagal?”

“Malu, nanti disangka temennya.”

Kat hanya terkekeh sambil melempar batang rokok yang sudah habis terbakar ke bawah dan menginjaknya.

“Ayolah, biarin cowok-cowok itu senang-senang,” Alexa berkata dan mengambil helm yang tergeletak di atas sofa.

“Si Stan nggak ada yang nemenin dong?”

“Dia ikutan mereka lah!”

Alis Kat terangkat sebelah.

“Si banci satu itu tampilannya aja yang kayak begitu, tapi dia ganti cewek udah kayak ganti celana dalam,” ujar Alexa sambil tergelak.
“Ah, gue balik sama elo aja deh. Imagenya nggak enak banget di kepala.”

Alexa hanya tertawa sambil melangkah keluar menuju motornya.

“Jadi lo kenal sama Evan di sekolah minggu?” Alexa bertanya sambil mengendarai motornya dengan kecepatan rendah.
“Cerita dari mana tuh, ngaco banget!” jawab Kat.
“Vincent.”
“Paling dibohongin Evan.”
“Emang aslinya?”
“Kenalan di konser. Waktu Tribute to Rancid. ”

Alexa terdiam.

“Lebih masuk akal kan?” tanya Kat.
“Sejak kapan Evan tahan dengerin punk?”
“Nggak sejak kapan-kapan, gue bohong kok.”

Alexa mengerem dan menggas motornya dengan sebal, sementara Kat terkekeh pelan sambil memegang motor erat-erat untuk menahan guncangan.

“Emang sekolah minggu kok,” lanjut Kat. “Dia kan ngelatih anak-anak paduan suara, dan gue nganter adik gue latihan,”

Alexa terdiam lagi, dia membayangkan pria tinggi berpostur junkie dengan rambut lurus acak-acakan sebahu dan lengan bertato mengajar anak-anak kecil bernyanyi “Gloria, in Excelsis Deo”.

“Nggak masuk ah!”
“Rambutnya diikat, antingnya dicopot, dan dia pake kemeja lengan panjang.”
“Sedikit lebih masuk akal sih…”

Alexa terdiam cukup lama, image yang baru saja lewat di kepalanya mengenai gitaris band itu benar-benar tidak masuk akal.

“Kat,” ujar Alexa memecah keheningan. “Elo lapar nggak?”
“Agak sih, emangnya kenapa?”
“Mau nasi uduk? Di depan itu tempat makannya anak-anak kalau habis manggung atau latihan.”
“Boleh deh, nggak ada salahnya. Baru jam sembilan juga.”

Tidak lama kemudian, Alexa dan Kat sedang duduk di atas tikar yang digelar di samping tenda tukang nasi uduk itu ketika suara deru knalpot keras terdengar dari mobil station-wagon yang memasuki pelataran parkir. Sebuah Holden Premiere hitam mengkilap itu berhenti samping motor Alexa dan dua orang lelaki tinggi melompat keluar dari mobil itu dengan terbahak-bahak. Di belakang mereka Stan keluar dengan wajah tertekuk.

“Kenapa lo berdua?” tanya Alexa heran sambil menyuap sepotong ayam ke dalam mulutnya.

“Korban jebakan batman ngamuk!” ujar Evan sambil menepuk-nepuk punggung Stan.

“Ngegodainnya gagal?” tanya Kat.
Vincent tebahak. “Awalnya sih sukses,” lanjutnya setelah tawanya reda, “sampai mendadak si kutu satu ini balik dari WC. Ternyata waitress yang kita gangguin itu mantan mainannya dia…”

“…yang dia tinggalin setelah one night stand yang penuh janji,” sahut Evan.

“Gue pikir elo serius waktu elo bilang elo mau jadi cowok gue! Uhuhuhu…” Vincent berujar dengan suara yang ditinggi-tinggikan.

“Udah puas?” tanya Stan dengan nada sebal.

“Belum sih. Tapi terusin nanti aja deh, gue kelaparan banget,” Suara serak Vincent terdengar puas ketika dia mengambil segelas es jeruk dari atas tikar.

“Eh, minum gue tuh!” erang Alexa.
“Tahu kok.”
“Gue kepedesan nih!”
“Itu juga tahu.”
“Balikin!”
“Ogah!”

Alexa melempar tulang ayam ke arah Vincent yang hanya terkena ujung tangannya ketika dia menunduk menghindar.

“Elo minta muka lo gue jadiin kobokan ya?” ujar Alexa sambil menaruh piringnya dan mengejar Vincent dengan tangan kotornya teracung ke depan.

Vincent menaruh gelas minuman itu dan lari dikejar Alexa yang kelihatannya sudah lupa tujuan awal dia mengejar Vincent. Langit semakin gelap, namun kehidupan mereka baru saja dimulai.

RustyrevolveR

Leave a Reply