Maaf || #30HariMenulisSuratCinta: Day 2

Selamat siang Eka,

Sudah berapa lama sejak kita terakhir bersua? Sudah berapa purnama, berapa senja, berapa cahaya dan berapa Bayang berlalu?

Entah, aku tak menghitungnya dan nampaknya kamu pun juga. Namun aku melihat sepertinya hidupmu berjalan terus dengan bahagia dan dengan sepenuh kejujuran aku akan mengatakan bahwa aku senang melihatnya. Hidupku? Ah, masih sama seperti biasa, tidak banyak yang berubah meskipun banyak tanjakan dan turunan yang memberikan dinamika untuk keseharian yang begitu-begitu saja.

Ada banyak hal yang bisa kutulis, banyak hal yang bisa kubagi, banyak cerita dan banyak penjelasan yang sebenarnya perlu kukatakan. Tapi semua rasanya hanya bisa kurangkum dalam satu kata:

Maaf.

Maaf karena kekanakanku dahulu, ujar dan drama, segala argumentasi yang tak perlu terjadi, maaf untuk itu semua. Sepantasnya aku dahulu lebih dewasa.

Ah dewasa, sampai menjelang dasawarsa ketiga hidupku ini aku merasa diriku masih lelaki yang sama. Spontan, keras, emosional dan baru berpikir setelah bicara. Sifat yang merusak apa yang (mungkin) pernah ada di antara kita, entah itu cinta atau sekedar saling perlu. Sesuatu yang masih menjadi hantu bisu di sudut hatiku bahkan setelah lebih dari setengah windu berlalu.

Dan aku pun tak mengharap apa-apa, hanya sekedar dibaca saja tak mengapa. Karena toh pada akhirnya barisan kata ini bisa dirangkum dalam empat huruf saja.

Maaf.

Maaf untuk yang terjadi.
Maaf untuk yang tak sempat terjadi.
Maaf untuk kebohongan.
Maaf untuk jujur yang kadang keterlaluan.

Dan terima kasih. Untuk apa yang sempat terjadi, terima kasih untuk lima menitnya hari ini, dan pada akhirnya teruslah berbahagia. Seburuk apapun kenangannya, percayalah bahwa di sana sempat ada cinta.

– M

RustyrevolveR