Lupa?

Sesosok mayat ditemukan mengapung di bundaran HI pagi ini. Dia hanya mengenakan celana hitam, telanjang dada, meskipun begitu TMC Polda Metro Jaya bisa memberikan asumsi bahwa beliau berusia 55 tahun dan kemungkinan mengalami gangguan jiwa. Berita ini memang janggal, bagaimana mungkin seseorang bisa meninggal di bundaran paling ramai se-Jakarta dan tidak ada yang menyadarinya sampai pukul 08.20 (TMC Polda Metro Jaya) yang sebetulnya sudah cukup siang?

Menurut prediksi polisi (dikutip detik.com), orang tersebut meninggal di sisi depan kedutaan Amerika, yang saya bisa konfirmasi karena kebetulan saya melintas ketika mayatnya dievakuasi, yang jarang dilintasi pada pagi hari. Sedikit aneh, karena di sisi itu pula lah sebuah pos polisi besar berdiri.

Siangnya, pihak kepolisian melakukan reka ulang penemuan mayat tersebut. Bersamaan dengan itu, sejumlah demonstran sudah berkumpul untuk berdemo di siang harinya dengan mengacuhkan keberadaan polisi di situ. Apakah demo lalu berjalan? Entahlah. Tapi saya rasa kita semua bisa berasumsi bahwa demonstrasi akan tetap berjalan apapun yang terjadi.

Seperti Jakarta terus beraktifitas di hari ini.

Sebuah komedi yang kelam, memang. Bahkan saya yang melihat jalannya kisah ini berharap bahwa ini hanyalah salah satu cerpen satir yang diterbitkan di koran-koran minggu untuk menyindir betapa dinginnya kota ini. Tapi tidak, kota ini MEMANG dingin.

Kenyataan bahwa seseorang meregang nyawa tanpa identitas, tanpa keluarga, bahkan tanpa berita, di tengah kota tempat kita tinggal tidak membuat kita (termasuk saya) berhenti membicarakan video porno atau pengungsi perang yang kurang makan di negeri nun jauh di sana.

Kita lupa, bahwa kita saat ini mungkin sedang dijajah. Dijajah akan amnesia akan sejarah diri sendiri, bahkan ketika kita sedang menjalaninya. Bahwa banyak dari antara kita yang melupakan (atau tidak menyadari) bahwa Dewan yang kita pilih untuk mewakili kita sedang sibuk dengan anggaran-anggaran pemborosan. Kita lupa bahwa kita masih punya seorang buron tersangka korupsi di negara tetangga, negara yang sama yang melindungi pembunuh seorang putra bangsa yang berkuliah di sana.

Kita lupa bahwa saudara sebangsa (dan mungkin seagama, kalau kalian suka) kita banyak yang harus mengungsi tanpa rumah, tanah, atau kehidupan yang layak. Dan mereka masih dalam pulau yang sama dengan kita.

Kita lupa bahwa “kejahatan kemanusiaan” yang dilakukan bangsa lain itu juga dilakukan oleh bangsa kita. Dan beberapa tersangka berbagai “kejahatan kemanusiaan” itu masih bebas berkeliaran dan bahkan tersenyum tertawa-tawa berpolitik ria.

Apakah kita ingat?

Tidak usah “peduli” atau melakukan gerakan sejuta facebookers untuk menunjukkan memori kita akan kasus-kasus itu. Apakah kita masih ingat tanpa harus diingatkan. Tidak usah mengingat-ingat nama yang susah-susah semacam para mahasiswa yang meninggal di tragedi semanggi. Apakah kita masih mem-pahlawankan seorang Udin seperti mereka yang dulu menuntut keadilan atas meninggalnya dia yang pergi saat sedang mencari kebenaran? Ataukah kita terlalu sibuk mem-pahlawankan seseorang yang membongkar dosa teman-temannya ketika dia terpojok?

Mungkin kita terlalu sibuk menjadi “up to date”, mungkin.

Dan ketika seorang “gembel tua sakit jiwa” pergi melepas deritanya di dunia yang katanya fana, kehidupan terus berjalan. Karena seperti kamu, saya, dan mereka, sekali berlalu maka kita akan terlupa.

–di tengah kemacetan Tomang, ditemani bakpau.

RustyrevolveR

Leave a Reply