Love Letter for No One

Dan kita akan merayakan ulang tahun kebersamaan kita untuk yang kesekian kalinya… seharusnya.

Entahlah, suaramu sudah menjauh seiring detik yang dengan iring bersambut menabuh langkah sang kala, meninggalkan kisah kita yang perlahan, tapi pasti, terlupa.

Bukan, bukan aku. Karena wujudmu yang maya dalam kepala itu senantiasa nyata adanya. Karena mungkin aku lelaki bodoh delusional yang seperempat gila karena cinta, dan tigaperempat sudah begitu dari aslinya.

Dan ya, ini tentang kamu. Bukan dia, dia, atau mereka. Ini kamu, sang ratu yang membeku dalam kenangan bisu.

Namun dengarlah cinta, aku rindu. Rindu akan “kita” di kala lalu atau yang sempat ada di masa kita tak lagi bersama.

Sisa romansa semata, mereka berkata. Tapi biarlah, toh dengan begini tak ada yang terluka.

Terkecuali aku, tentu saja.

Dan jangan merasa bersalah tentang itu, manis. Aku adalah seorang masokis yang menikmati setiap senti hati yang teriris oleh cambuk kenangan yang tak kunjung habis.

Kuputar kembali lagu-lagu lama. Arkarna, mengenai waktu yang kita habiskan bersama. Ingatkah ketika kau menangis mendengarnya? Dan ingatkah ketika aku menyanyikannya seperti remaja dengan berjuta mimpi berbinar dari kedua bola mata?

Rindu, cinta. Rindu yang pernah ada dan tetap terangkai sama serupa. Rindu akan satu nama yang tertera selamanya di atas alur desir yang berdetak memanggil.

Dan dengarlah, meski kala telah menghantar pergi sebuah masa, rasa yang sama masih tetap ada meski kadang terlupa.

——

(Ditulis di suatu masa yang lewatnya sudah lama. Diunggah dalam rangka tidak ada apa-apa)

RustyrevolveR

0 thoughts on “Love Letter for No One”

Leave a Reply