Late Night Show

Handphone itu tergeletak di atas meja plastik berwarna oranye yang dikelilingi tiga orang berbaju hitam-hitam, dua orang laki-laki berambut panjang dan seorang wanita. Lelaki pertama bertubuh tinggi dengan bahu lebar namun kurus, kaosnya yang berkerah longgar menampilkan tulang-tulang yang menonjol dari balik kulitnya yang pucat kontras dengan warna hitam choker kulit yang melingkari lehernya. Sementara lelaki kedua bertubuh lebih kekar, meskipun sedikit lebih pendek dari lelaki satunya, dengan rambut hitam panjang yang terurai lurus sampai ke batas belikat.

“Gue nggak ngerti mau dia apa,” ujar satu-satunya wanita di antara tiga orang itu. Rambutnya digelung di atas kepalanya dengan ditahan sepasang sumpit.
“Mau… telat?” jawab lelaki yang bertubuh kurus.
“Ya itu gue juga tahu sih Ron. Nggak usah bercanda deh, gue lagi kesel nih.”

“Sabar Lin,” lelaki yang lebih kekar menepuk bahu wanita itu sambil tersenyum tipis. “Elu kayak nggak tahu Dio aja.”
“Ya karena gue tahu, Ricko! Udah bertahun-tahun ngeband masih gini aja kelakuannya. Taik banget, tahu nggak sih?”

“Dia nggak telat karena nganter-nganterin itu cewek kan?” ujar Aylin, wanita berbaju hitam itu.
“Nggak kok, saya lihat Fira sudah di studio dari tadi,” jawab lelaki kurus yang dipanggil dengan nama Ron.
“Terserah dia deh,” Aylin berkata sambil berdiri dengan tiba-tiba sampai bangku yang didudukinya jatuh. Dia menendang bangku itu dengan seoatu boot tebalnya dan pergi meninggalkan ruangan tempat mereka berbicara itu.

“Kamu mau ke mana, Aylin?” potong lelaki separuh baya dengan rambut belah tengah kecoklatan yang mendadak muncul dan berdiri menghalangi pintu keluar ruangan itu.
“Bukan urusan lo,” jawabnya sambil mendorong lelaki itu minggir.

Lelaki berambut kecoklatan itu menoleh ke arah Ricko, alisnya terangkat dari balik kacamata hitamnya.

“Paling ngerokok, Mas Yos,” seloroh Ricko menjawab pertanyaan non-verbal lelaki itu.
“Dio mana?”
“Entah, katanya mungkin telat.”

“Kebiasaan. Ya udah, nanti main tanpa dia sekalian. Si Aylin aja suruh nyanyi atau kamu lipsync!”

Mas Yos melangkah mundur keluar dari ruangan itu, meninggalkan dua orang lelaki yang saling bertukar tatapan.

“Saya mah ikut kata Mas Yos aja,” ujar Ron memecah keheningan.
“Gua ngerokok juga deh,” Ricko berdiri tanpa sedikit pun niat menanggapi.

-x-

Jeritan melengking terdengar membahana di sebuah gedung terbengkalai. Suara itu terputus seiring terpisahnya kepala dari bahu makhluk neraka itu, ditarik oleh seorang ksatria dengan zirah dan jubah hitam. Zirah itu berubah menjadi gumpalan asap yang hilang ditiup angin, meninggalkan sosok Dio yang sedang memeriksa sms di telepon genggamnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih memegang kepala monster yang baru saja dibunuhnya.

10 menit lagi on air. Cepetan, njing.

Dio mengerang keras. Dia melempar kepala di tangannya dan berlari ke arah jendela yang terbuka lalu melompat ke sana sambil tubuhnya berubah menjadi kelebatan bayangan di malam yang belum terlalu gelap.

-x-

Amplifier oranye itu mengeluarkan suara berdenging saat Aylin mengarahkan gitarnya ke sana. Diiringi hentakan drum bertempo cepat dari Ricko, Aylin memainkan riff-riff bernada rendah dengan iringan bass ritmis dari Ron. Asap putih dari gun smoke memenuhi lantai studio TV tersebut dengan warna yang berubah mengikuti sorotan lampu.

Tigapuluh detik lagu dimainkan, perlahan asap itu berubah menjadi hitam dan semakin kencang berpusar. Lampu warna-warni studio itu mendadak mati satu-persatu, namun band tersebut tetap bermain dengan konstan.

“Taik kan,” maki Aylin sambil terus bermain. Dia melirik kedua rekan bandnya, dan mereka mengangguk.

“ONE, TWO!” Ricko berteriak sambil memukul simbalnya, memberikan cue.

Lampu panggung tersebut mati total.

Dengan ditemani satu hentakan chord berulang, seluruh lampu menyala menyorot ke arah tengah panggung di mana dia berdiri merentangkan tangannya dikelilingi asap hitam yang perlahan memutih seperti warna asalnya. Di belakang mereka sebuah proyektor menampilkan nama dan logo band itu, menandakan dimulainya konser.

—-

Apakah nama dan bagaimana bentuk logo tersebut? Semua itu tergantung kepada elo. Buatlah logo dan berikan nama untuk band ini, sertakan juga latar belakang pemilihannya dan kirim ke email: macan@rustyrevolver.net dengan subject #HellKnightContest. Gue akan memilih nama dan logo terbaik yang akan mendapatkan satu buah S.I.C Kiwami Tamashii dan poster Hell Knight spesial, plus nama band serta logo lo akan dipake buat band Dio di seri ini.

Deadlinenya tanggal 20 Oktober ya. Gue tunggu submisi lo!

RustyrevolveR