Kursi Nggak Salah Apa-Apa

Berapa sering kita melihat seorang anak berlari dan tersandung kursi dan menangis? Saya rasa ini adalah pemandangan yang sangat umum kita lihat. Dan setiap kejadian ini terjadi, berapa sering kita melihat pengasuh mereka (baik orangtua atau babysitter) yang memukul kursi tersebut sambil memarahi kursinya dan mengatakan kalau “kursinya nakal”? Bukan hal yang jarang, bukan?

 

Mungkin terlihat sederhana, tapi ada satu hal yang menurut saya cukup fatal di sini. Anak tersebut bisa tersandung bukanlah karena salah kursi tersebut, melainkan karena dia berlari dengan tidak hati-hati dan pengasuhnya tidak mengawasi. Si pengasuh, entah karena tidak mau merasa salah atau tidak mau menyalahkan si anak, akhirnya melimpahkan kesalahan tersebut ke sebuah benda mati yang tentu saja tidak bisa membantah dan akhirnya ada perasaan bebas dari rasa bersalah untuk si anak dan si pengasuh.

 

Kadang hal kecil kita sepelekan, namun hal besar bisa terjadi karena hal-hal kecil yang berkaitan; contohnya ya kebiasaan menyalahkan benda mati ini.

 

KPAI belum lama ini menuntut pemblokiran server game dan penghapusan beberapa game dari pasar Indonesia. Menyatakan bahwa game ini merusak anak-anak Indonesia dan hanya membawa dampak negatif pada mereka. Poin yang sesungguhnya debatable; permasalahannya adalah game-game tersebut memang dibuat untuk konsumsi dewasa, bukan anak-anak. Game itu tidak secara aktif meminta si anak untuk memainkan mereka, yang memiliki keputusan aktif untuk pergi memainkan game tersebut adalah si anak yang (seringkali) tidak diawasi atau dibimbing orangtuanya.

 

Namun seperti saat si anak tersandung kursi, di saat sesuatu hal yang buruk terjadi kita sudah punya defensive stance bahwa orangtua (atau pengasuh) dan anak itu tidak salah. Yang salah adalah “benda”; kenapa kursi itu harus ada di situ saat anak gue lari? Kesandung kan jadinya!

Dan hal ini membuat gue sangat sedih ketika membaca kasus pemerkosaan Yuyun beberapa hari yang lalu. Hell, kasus pemerkosaan manapun, karena selalu ada “benda” yang disalahkan selain si pemerkosa tersebut. Dia habis nonton film porno, oh salah film pornonya karena bikin nafsu. Dia habis minum bir, oh salah alkohol karena alkohol bikin dia mau memperkosa (?). Ceweknya pake baju seksi, oh salah ceweknya karena bikin nafsu.

 

Pause there.

 

Kalimat terakhir terasa kurang sreg? Tentu saja, saya juga ngetiknya kesel pake banget. Tapi faktanya kalimat itu sering banget terlontarkan dengan berbagai variasi yang intinya cuma satu: si cewek yang salah karena (isi sendiri).

 

Inilah yang bikin saya sedih sekaligus malu karena terlihat betapa masyarakat melindungi sekali “kelelakian” ini. Lelaki ini bagai anak yang tidak boleh salah, harus dilindungi oleh masyarakat sebagai pengasuh yang berkewajiban memberikan support agar si anak terus bisa berlari seenaknya dia tanpa halangan dan ketika dia tersandung atas kesalahannya sendiri, yang disalahkan adalah “benda” yang dihajarnya.

 

Ya, bagi si pengasuh kelelakian ini perempuan adalah “benda” yang ada untuk menggoda laki-laki agar mereka terjatuh. Andaikan si perempuan tidak “menggoda” (baca: tidak pake baju seksi) tinggal cari kambing hitam lain, bisa “kenapa keluar malam”, atau “salah sendiri jalan sendirian” atau, “nafsu habis nonton film porno” atau “namanya juga mabok”, atau banyak lagi alasan-alasan lainnya.

 

Seriously guys, people, how fragile is our masculinity? How weak are we, as men, until everyone have to protect us from the world rather than admitting the fact that we fuck up. Why do our masculinity have to be pampered like a rich baby being pampered by their maid to the point that we blame everything and degrading our VICTIM, a fellow human being, to a “thing” that “make us do evil stuffs”.

 

Kita manusia, kita punya akal. Di saat kita melakukan kesalahan dan itu adalah tanggungjawab kita sepenuhnya, bukan tanggungjawab siapa-siapa lagi. Ketika suatu saat kita terjatuh, ketika suatu saat kita berbuat salah, ingat satu hal sederhana:

 

Kursi nggak salah apa-apa.

 

Ditulis karena tergugah memberikan sekeping pikiran setelah membaca tulisan Bonni Rambatan di Rolling Stone mengenai budaya patriarkis kita.

RustyrevolveR