Kritik-tik-tik bunyi hujan

Disclaimer: wrtitten some times ago.

Kemarin saya iseng-iseng membaca Kompas minggu dan membaca Panji Koming, komik strip yang sudah lama tidak saya ikuti sejak saya mulai menjauhi segala macam pemberitaan dan geliat politik dan opini yang, jujur aja, membangkitan gairah ingin memukuli anak kecil di mal.

Ya, seperti itulah rasanya melihat orang-orang kita saat ini. Seperti berjalan di mal dan melihat anak kecil obesitas meminta mainan pada orang tua yang uangnya pas-pasan.

Don’t take me wrong, I don’t hate critics. In fact, I AM critisizing right now, I’m not that stupid to create such paradox. Point is, there are differences between a critic and a dick.

Mari kita lihat, masalah Sri Mulyani yang disorot sekilas di Panji Koming. Di sana digambarkan SMI sebagai “pegawai yang bekerja baik dan dilepakan ke luar negeri”. Jujur saja, itu adalah opini publik kebanyakan saat ini, terutama di kalangan intelektual dan pseudo-intelektual.

One million dollar question; WHERE THE FUCK WERE YOU?

Ketika kasus Century sedang berada di puncak trending topic negara ini, ratusan orang berbondong-bondong berbaris di garda depan membawa poster wajah wanita malang ini yang ditambahi taring, darah, dan kalimat-kalimat hinaan, dan kutukan, dan tuduhan. Lalu di manakah kalian, oh pembela orang tertindas dan kaum marjinal? Apakah kalian terlalu disibukkan dengan mencari-cari blunder SBY?

Mungkin memang, SMI adalah tumbal untuk politik negeri ini. Tapi jangan lupa siapa yang melahap tumbal itu.

Kita, publik yang suka marah-marah. Masyarakat yang memanfaatkan kondisi politik sebagai katarsis dengan berbagai macam justifikasi untuk cacian-makian-tuduhan yang dilontarkan pada mereka.

Dan katarsis itu adalah sumber banyak masalah yang menjadi jari yang menyentil domino yang berderet. Setiap masalah cenderung dipandang dari sisi politik dan menjadi basis penentangan maalah tersebut. And where it ends?

No-fucking-where.

Kita terlalu sibuk berdebat ini-itu sampai masalah utamanya terlupakan dan tidak ada penyelesaian yang konkrit. Contoh paling nyata: konflik dengan Malaysia. Tidak pernah ada penyelesaian yang jelas, hanya menyimpan masalah saat ini untuk bahan ad-hominem kalau ada masalah baru lagi.

I mean, come on. Masalah perbatasan ngapain omongan reog masih dibawa-bawa lagi sih? Kita juga nggak sepenuhnya benar kok dalam konflik perbatasan itu. But do we care? No, we just hate them Malaysian.

Hate is also the keyword here.

Benci pemerintah!
Benci tentara!
Benci Malaysia!
Benci SBY!
Benci Orba!

Lalu di manakah semua itu berkhir? Mereka akan berakhir di mana mereka berawal; kebencian. No more, no less.

GM mempunyai quote “adil dalam pikiran”. Rendra juga sering mengajarkan kepada murid-muridnya untuk “tidak membenarkan yang salah, namun tanpa kebencian”.

Lau bagaimana kita bisa memandang sesuatu dengan objektif ketika kita terlalu sibuk berkutat dengan kebencian kita dengan subjek tersebut dan brakhir dengan melepaskan cacian, bukannya kritikan.

Oh tentu saja, kita tidak bisa melepaskan subektifitas dalam membuat suatu pandangan, karena itu manusiawi. Tapi kalau terus-terusan memandang sesuatu dengan kadar subjektifitas tinggi, itu sama saja dengan wanita yang terus-menerus minta dipahami moodnya karena sedang datang bulan.

It’s biological, it’s humane, but SERIOUSLY, WOMAN!

*uhm*

I still got loads to say, but I think I better stop here. This looks like a rant about people who love to rant, let’s take it that way unless you take it as something deeper. Put it this way, I don’t hate disagreement, I just hope that there’s a better way to express it.

To say that I’m a fucking idiot is easy.
To make peope think I’m a fucking idiot is also easy.
To show that I’m a fucking idiot is hard.
To make me accept that I’m a fucking idiot, that takes another kung fu.

Ada bedanya antara kritis dan provokasi tinggal pilih jalannya.

RustyrevolveR

Leave a Reply