Kita Seharusnya Tidak Mendukung Jokowi

(Pilpres beneran membuat gue produktif menulis ya)

“Ngapain sih ngepost capres melulu? Lo pikir dia dewa yang harus dipuja-puja? Ngapain ngomongin kejelekan Prabowo, emangnya Jokowi sempurna?”

Omongan ini selalu membuat saya tertawa miris. Banyak relawan Jokowi yang bersikap memuja seolah dia bisa menyelesaikan semua masalah di negara ini dengan mudahnya, pun para skeptis yang cenderung ingin golput yang muak dengan segala puja-puji berlebihan dan hinaan yang sama berlebihannya.

Kenapa tertawa miris? Karena seperti sudah saya tulis sebelumnya, pemujaan ini adalah mentalitas yang sesungguhnya harus direvolusi.

Teman-teman yang berpihak pada Jokowi serta teman-teman yang masih berada di tengah, saya ingin memberikan satu pernyataan yang menurut saya harusnya sudah jelas:

Jokowi tidak sempurna, dia manusia dengan banyak cela. Dan kita harusnya tidak mendukung dia.

Pun dia bukan juru selamat, satrio piningit, atau apalah itu. Dia manusia biasa seperti kita yang kebetulan memiliki etos kerja dan itulah yang membuat dia layak dipilih. Betul, layak dipilih, bukan didukung. Pola pikir kita selama ini sudah dibentuk bahwa presiden itu adalah seseorang yang kita angkat ke atas untuk kemudian memerintah negara ini.

Salah.

Presiden adalah pemimpin, benar. Namun posisi presiden dalam hirarki kenegaraan ada di bawah warga negara. Maka dari itu, kita tidak mendukung mereka untuk naik, kita memilih mereka untuk bekerja. Ingat, presiden adalah seorang pejabat negara yang kita gaji, dia bukan raja, kaisar atau sultan, presiden adalah pegawai.

Oleh atas dasar inilah saya memilih untuk membantu Jokowi agar dia terpilih. Saya tidak mendukung dia yang secara harfiah berarti saya menaruh posisi saya di bawah dia dan mendorong dia agar terangkat, namun saya menjalankan kewajiban saya sebagai warga negara untuk memilih pimpinan eksekutif negara ini.

Warga negara, bukan rakyat. Karena saya masih memiliki kebanggaan diri sebagai seorang manusia, maka saya menolak menyebut diri saya sebagai “rakyat kecil”.

Jokowi adalah pemimpin yang melaksanakan pola “lead by example“, saya sudah menjelaskan itu. Di sinilah kunci yang membedakan dia dengan calon satunya. Pola pikir dan pola pimpin bekerja-bukan-memerintah ini menunjukkan bahwa dia tidak kebal kritik, malahan mungkin dia membutuhkan kritik dari warga negaranya agar dia bekerja lebih baik.

Pola pimpin “lead by example” serta ide besar “revolusi mental” inilah yang membuat saya berpikir bahwa mungkin bisa ada perubahan, sekecil apapun itu, di pola hidup masyarakat. Karena “revolusi mental” ini bertujuan untuk membuat setiap manusia menjadi berdaya dan mampu melakukan perubahan atas dirinya sendiri namun tetap bertanggungjawab karena memiliki sense of belonging terhadap negara.

Ini sedikit-banyak utopis, tapi ini adalah ide yang menarik untuk dicoba diimplementasikan.

Hal inilah yang menurut saya membuat banyak aktivis yang sebelumnya sangat apatis terhadap pemerintahan bisa bergerak merapat ke Jokowi. Karena saat Jokowi terpilih maka oposisi, baik dalam pemerintahan ataupun di masyarakat, tetap terjamin keberadaannya. Dan mereka-mereka yang berada di sisi Jokowi, sekarang maupun nanti, memiliki hak dan kewajiban untuk mengkritisi kerja presiden yang mereka pilih.

Karena pilpres ini tidak bertujuan mencari orang yang sempurna, hanya mencari yang lebih cocok dengan kebutuhan kita sebagai warga negara.

– M

(credit untuk seorang wartawan penuh mudharat yang kadang ada manfaatnya yang pemikirannya saya pinjam sedikit)

RustyrevolveR