Kisah Nafsu Yang Sederhana

Suara tawa kecil terdengar dari speaker komputerku yang mulai pecah, menemani gambar patah-patah yang menunjukkan apa yang terjadi di sisi lain bumi ini. Internet mempermudah segalanya, beberapa tahun yang lalu mungkin aku tidak menyangka bisa menatap wajah Erika lagi selain melalui foto-foto yang dia bagi di laman Facebook-nya.

Sudah berapa tahun sejak dia meninggalkan negara ini? Lima? Sepuluh? Atau baru tiga? aku tidak bisa mengingatnya, yang aku tahu hanya satu: ini sudah terlalu lama.

“Nggak malam mingguan, Ya?” tanyanya dengan suara sedikit tersendat koneksi negara dunia ketiga ini.
“Enggak, Er. Aku malam ini di rumah aja.”
“Lah, pacar ke mana?”
“Tidur, masih jetlag kayaknya. Habis dari Rotterdam.”
“Terus kamu sendirian aja di kosan? Uuu… kecian kecepiaaan…”

Aku tertawa.

“Nggak pantes, kamu tuh bagusnya yang galak-galak gitu,” ujarku.
“Ah basi lo, Ya. Kayak baru kenal aja…”

Kami berdua lalu tertawa, entah mentertawakan apa. Mentertawakan jarak yang mempermudah masa lalu terhapus, mentertawakan kisah yang mungkin tidak akan pernah ada, atau mentertawakan aku yang tidak pernah berani berkata…

“Aku kangen, Er.”

Ah, terucap juga, kan?

“Kan kita lagi ngobrol, Arya…”
“Kangen ketemu sih maksudnya.”
“Udah jam berapa di sana?”
“Setengah tiga.”

Erika tersenyum.

“Pasti lo udah ngantuk deh, makanya ngawur begitu. Tidur dulu gih. Kita ketemu di mimpi aja.”

Aku mengangkat sebelah bibirku, menggerakkan bahu naik dan turun sambil mengucapkan selamat malam dan mematikan komputerku.

“Mimpi ya…” desahku sambil menarik selimutku menutupi kepala.

“Arya,” ujar Erika. “Bibir kita mirip ya, kamu sadar nggak?”

Aku menatap wajah di hadapanku, melihat bibirnya yang berwarna kemerahan dan sedikit tebal. Wajah wanita itu nampak seperti refleksi diriku yang lebih manis, jauh lebih manis.

“Iya, beda warna aja,” aku membalas ucapannya dan mengelus pipi serta membiarkan ibu jariku meraba bagian bawah dari sepasang bagian tubuh yang membuatku tergila-gila kepadanya itu.

“Kamu suka?”
“Suka banget,” jawabku.
“Dasar narsis, kamu cuma suka sisiku yang mirip-mirip sama kamu,” Erika terkikik kecil sambil mencubit daguku.

“Emang,” aku berkata sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. “Dan kamu tahu? Bibir-bibir yang mirip itu wajib saling berkenalan.”
“Bersentuhan.”
“Berciuman.”

You’re taking too long,” ujarnya.
Not as long as you coming here.”

Detik berikutnya, kami sudah saling bertukar nafas dalam kecupan-kecupan panas. Tanganku menggenggam erat kepalanya, sementara dia mengalungkan kedua lengannya di leherku. Dengan hentakan keras, gadis ini terangkat dan mengaitkan kakinya di pinggangku sementara tanganku yang satunya mengangkat seluruh tubuhnya dari balik summer dress yang dikenakannya.

Lust makes you strong, isn’t it?
“Pastinya,” ujarku sambil memberikan satu remasan kuat dan gerakan pasti melalui jemari yang bergerak menyusupi sela-sela yoni.

Teriakan Erika tertahan saat aku membungkamnya dengan bibirku. Dia memberikan satu gigitan kencang dan memelukku erat.

Too long, Arya.”
Get used to it. It’s not the only thing from me that’s too long for you, dear.”

Erika memekik saat tubuhnya terjatuh turun saat kulepaskan dan disambut pinggulku yang bergerak menahannya.

Aku membuka mata, nafasku sedikit memburu. Jam dinding meunjukkan pukul sepuluh, dan lampu indikator handphoneku berkedip-kedip merah.

Sebuah SMS dari Erika.

“Gimana tidurnya, Arya? Eh, aku juga semalem mimpiin kamu lho. Dua bulan lagi aku mau ke Jakarta, kita ketemuan yuk. Ternyata aku juga kangen.”

Tanpa sadar satu sisi mulutku terangkat saat mulai mengetik balasan ke Erika:
Best dream I’ve ever had for some times.

(Kisah nafsu yang sederhana, dengan premis dari seorang kawan)

RustyrevolveR