Keripik, Nostalgia, dan Ancol

Tahun lalu Arian13 di atas panggung Java Rockin’ Land mengatakan dengan lantang: “Semoga tahun depan makin banyak kesempatan band lokal untuk manggung.”

Harapan frontman Seringai itu keihatannya terkabul tahun ini. Daftar band lokal yang bermain semakin banyak dan, uhm, variatif. Okelah, gw nggak akan melancarkan protes nyasar-genre juga. Itu udah dijatahkan untuk kawin silang sendok-garpu di artikel sebelah. Gw akan membahas mengenai…

Seringai? Bukan, maaf ntar gw mewek inget mantan.

Andra and the Backbone? Idem. Meskipun ini adalah band major favorit gw.

Gw pengen membahas sedikit mengenai Kripik Peudeus. Satu band yang punya kesan nostalgia buat gw dan beberapa orang yang gw kenal.

It was… 2002, if I’m not mistaken. Gw baru lulus SMP dan masih berkeliaran dengan t-shirt, celana baggy yang selangkangannya di bawah lutut, sepatu Adidas Superstar putih dan topi NY Yankee merah dan manggung dengan “Break Stuff” sebagai lagu wajib. Dengan pede jauh di atas kemampuan, mendaftarlah gw untuk audisi mengisi pensi sebuah sekolah khusus cowok di bilangan Jakarta Selatan.

…okay, what the fuck lah. It was PL Fair.

As we all can guess, I didn’t make it. Pada akhirnya, gw dan gitaris gw pergi menonton acara itu untuk melihat band-band yang “katanya lebih keren daripada kita”. Ah, the glorious day of youth and tht cockiness…

AAAAAANYWAYS.

Sebelum gw jadi kedengeran kayak kakek-kakek, kita lanjutkan ke bahasan utama kita. Kripik Peudeus.

Kenapa waktu itu band ini menarik perhatian gw? Dua kata: Rap Metal.

Selain karena memang jaman itu sedang booming (berbarengan dengan Melodic Punk), band gw jaman itu memang membawakan musik sejenis. Ditarik kesamaan genre, gw yang waktu itu masih hijau banget ternganga dengan hentakan musik yang dalam bahasa gw waktu itu: “ngeboom banget”. Not to mention, mereka waktu itu nyambit-nyambitin penonton dengan keripik pedes beneran.

Masalah utama jaman itu adalah internet belum secepat sekarang. No MySpace and YouTube making me hard to keep in touch with this band. Apalagi kaset (ya, KASET) band-band lokal non-mainstream itu cukup susah dicari di Depok.

Sebagai remaja no-life, gw masih bisa mengejar eksistensi mereka di MTv sampai akhirnya pelan-pelan kehilangan sama sekali seiring menghilangnya Music Television digantikan Reality Television.

Sigh, mungkin gw memang sudah menua.

Dan lelaki yang sedang mengalami krisis akhir masa muda ini mendadak hyped up ketika melihat nama band ini di salah satu performer JRL. Mungkin karena aroma nostalgia, mungkin karena impian manggung di panggung sebesar itu belum kesampaian, atau mungkin juga karena alasan-alasan yang dia nggak juga mengerti.

Celana boleh mengetat, skateboard boleh ditinggalkan, tapi somehow, selama beberapa saat di ancol nanti gw akan kembali menjadi 16.

RustyrevolveR

0 thoughts on “Keripik, Nostalgia, dan Ancol”

Leave a Reply