Jatuh Cinta Itu Bisa Biasa Saja

(Ditulis di tengah panasnya Pilpres 2014)

Politik sedang panas belakangan ini, dan gue adalah salah satu yang terjerumus ke dosa politik itu. Harus gue akui, gue punya masalah lumayan major dengan Prabowo, dan gue minta maaf kalau sering kepancing komentar dengan emosi. Padahal seperti judul tulisan ini, jatuh cinta (dan benci) itu bisa biasa saja.

Kemarin Joseph (yang menginspirasi judul artikel ini, btw) mengingatkan bahwa jatuh cinta (kepada Jokowi) itu bisa biasa saja. Dan pagi ini gue baru sempat menonton pidato Jokowi di Rakernas Nasdem yang juga cenderung biasa saja (meskipun menyenangkan ditonton).

Tapi di pidato ini gue melihat satu hal yang menarik. Pernyataan dia soal “revolusi mental”. Sesuatu yang kurang-lebih isinya:

“Percuma kita punya infrastruktur baik kalau kita tidak punya mentalitas yang baik.” – Jokowi.

Dan itu mengembalikan gue ke pemikiran lama gue bahwa kita memang punya masalah mentalitas yang membuat banyak orang mendukung Prabowo. Semua orang beranggapan bahwa mentalitas bangsa yang rusak ini bisa bener kalau pemimpinnya ditakuti.

Meskipun gue nggak setuju, itu bisa sangat dimengerti.

Mentalitas apa sih yang bermasalah? Coba kita ingat, apa yang sudah dibangun selama ini kan jarang banget yang dirawat, kita sering ngelunjak dengan segala fasilitas yang diberikan pemerintah. Pun kita punya kebiasaan untuk mengekor secara membabi-buta sampai sering lupa menegur atasan, dan ketika sang atasan mengecewakan, semua orang langsung lompat ke hate-train sebagai barisan sakit hati.

Satu alasan kenapa orang Jakarta sering ngeluh soal Jokowi kerjanya nggak beres, Jakarta masih macet dan banjir, masih ini dan masih itu, harapan tidak sesuai kenyataan dan seterusnya.

Sebagai orang yang sehari-hari bekerja dan hidup di Jakarta, gue bisa bilang bahwa sebagian besar masalah itu ada di mentalitas juga. Kita masih terbiasa melanggar aturan, nyuri lampu merah dikit-dikit, lawan arus dikit-dikit, ngetem dikit-dikit, naik trotoar dikit-dikit, buang sampah sembarangan dikit-dikit. Kebiasaan kecil yang saat dilakukan secara kolektif memberikan andil besar kepada chaos kota ini.

Dipadu dengan kebiasaan mengekor yang keterlaluan, jadilah itu masalah yang lebih besar.

Pembangunan image Soekarno sebagai “pemimpin kemerdekaan” membuat kita terbiasa dengan sosok “sang juru selamat” seolah-olah pemimpin yang kuat adalah satu-satunya yang kita perlukan untuk mencapai kemerdekaan. Dan ini bercampur dengan kepemimpinan Soeharto yang otoriter, membuat kita terbiasa manut kepada “pemimpin” dan membiarkan “pemerintah menangani semuanya” karena membantah adalah subversif.

Ini membuat peran kita kita sebagai “warga negara” direduksi menjadi “rakyat kecil”. Kita menjadi another brick in the wall, bergerak hidup rutin menghidupi keluarga tanpa perlu ngurusin negara. Dan di sisi lain kita menjadi orang-orang manja yang merasa hidup itu sudah cukup karena semuanya diurusin negara, we took this country for granted, dan kita menjaga apa yang ada semata karena sistem dan ketakutan dengan pihak yang memiliki kewenangan mengatur negara.

Seperti murid yang nggak berani nyontek karena takut ketahuan, bukan karena mau mengukur kemampuan dan pengetahuan.

Lalu 1998 terjadi, kita kehilangan sosok otoriter tersebut dan kita kembali hidup tanpa rasa tanggung jawab kepada negara, tapi kali ini juga tanpa rasa takut dan menghasilkan banyak dari kita jadi seenaknya sambil mengharap datang Soeharto atau Soekarno berikutnya yang akan membereskan masalah negara ini dan kita bisa hidup dengan diurusin “sang juru selamat”.

Gue lihat, mentalitas inilah yang di mata Jokowi perlu direvolusi dan ironisnya mayoritas pendukung Jokowi justru melihat dia sebagai juru selamat itu.

Kepada para pendukungnya, tolonglah, dia bukan juru selamat, satrio piningit, atau apalah itu. Dia cuma orang yang berasal dari bawah kayak kita dan mau bekerja sampai terdorong ke atas secara politis. Dia tidak spesial, dan itulah kelebihan dia. Maka dari itu, jangan perlakukan dia seolah dia sempurna dan spesial. Jokowi berkampanye dengan menundukkan kepala, kalian tidak perlu menunduk lebih rendah untuk menjadi pijakan dia. Coba biasa saja.

Berhentilah mencari juru selamat karena juru selamat itu tidak ada. Hanya kita yang bisa menyelamatkan diri kita sendiri melaui apa yang kita lakukan di keseharian. Berhentilah bergantung kepada pemimpin, karena kita ini manusia yang berdaya. Siapapun yang naik nantinya, kita bisa maju karena kita maju sama-sama, bukan karena diangkat satu-dua manusia.

Saya menulis ini tidak untuk mengajak kalian mendukung Jokowi atau Prabowo. Kita semua punya pilihan masing-masing dan saya (mencoba) menghargai itu. Tapi siapapun pemimpin yang kalian pilih, coba pikirkan mengenai revolusi mental ini, karena tanpa perubahan di sana sampai kapanpun kita sebagai bangsa tidak akan bisa maju.

28 Mei 2014

RustyrevolveR