Hell Knight: Belial – Chapter 01

Suara berdesis keras terdengar keras saat asap putih dihembuskan ke atas panggung dan mengambang dengan warna kemerahan disorot lantai yang berpendar. Suara kick drum menghentak diiringi lampu yang menyala dari belakang panggung, memperlihatkan siluet lelaki berambut panjang. Lampu itu lalu berkelap-kelip mengiringi musik keras yang dimainkan band pimpinan lelaki tersebut. Lampu menyorot sang vokalis band itu bersamaan dengan dia mengeluarkan lengkingan panjang mengawali pertunjukan malam itu.

Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah, namun bibir yang tak nampak tersenyum itu tetap terlihat menemani tatapannya yang tajam ke arah para audiens yang berlompatan seiring hentakan musik yang dimainkan. Dio nama lelaki itu, sosoknya yang tinggi ramping terbalut celana kulit dan kaos putih dengan lengan dan kerah yang dipotong. Satu kakinya diletakkan di atas monitor panggung dan kedua tangannya direntangkan saat dia chord terakhir dimainkan oleh band pengiringnya, mengakhiri pertunjukan malam itu.

-x-

Sebuah sedan empat pintu melaju melintasi jalanan utama Jakarta yang sudah kosong. Aspal basah malam ini hanya dihiasi bias-bias lampu jalanan sambil sesekali genangan air di atasnya terpecah lindasan kendaraan yang berlalu. Jam di dashboard menunjukkan waktu hampir melewati tengah malam saat mobil itu berhenti di lobby sebuah mall yang masih cenderung ramai dengan segerombolan remaja tanggung di depannya. Kerumunan itu terpecah dan tiga orang gadis keluar dari tengahnya sambil melambaikan tangan kepada fans-fans yang tadi mengerumuni mereka. Salah satu dari ketiga gadis itu langsung duduk di jok depan mobil, sementara dua temannya duduk di sisi belakang. Gadis yang duduk di jok depan itu berambut lurus sepanjang dagu yang disisir ke sisi kanan wajahnya, sementara sisi kiri rambutnya dijalin dengan model cornrow sampai ke belakang telinganya. Raut mukanya nampak lelah, namun senyum lebar terpampang di wajahnya.

“Gimana tadi konsernya, Fir?” tanya Dio yang mengendarai sedan tersebut kepada gadis yang duduk di depan itu.
“Ih, kak Dio sih pedulinya cuma sama Fira doang,” sela salah satu gadis yang duduk di belakang yang disambut tawa temannya.
“Tadi bukan konser kok, kita cuma meet and greet aja,” ujar Fira sambil mendorong wajah temannya yang menjulurkan wajah ke samping Dio.

“Tapi fans kalian itu cenderung tertib ya,” Dio berseloroh sambil melirik kaca spion. “Kalau aku ngadain acara yang mirip bisa rusuh, barangkali.”
“Fans kakak itu kan cewek-cewek histeris, beda lah pasarnya…” jawab gadis yang sedari tadi hanya tertawa. Rambutnya yang hitam tergerai lurus sampai melewati bahunya.
“Tapi Risa, memangnya fans kita nggak histeris?” tanya gadis satunya.
“Ya histeris sih, tapi nggak agresif kan. Paling mesem-mesem malu-malu, yang agresif juga cuma sok kenal, ga berani nyenggol,”jawab Fira.
“Soalnya image kita kan dibentuk jadi imut, bukan sexy ka–”

“Risa sama Ai mau diantar sampai apartemen?” ucapan Risa yang belum selesai itu dipotong Dio.

“Oh boleh, ‘makasih ya kak,” jawab dua gadis yang duduk di jok belakang itu bersamaan.

-x-

“Kamu bisa gugup juga ternyata ya, kak…” ujar Fira sambil terkikik.
“Sst ah, kamu tahu kalau aku paling susah dipuji,” balas Dio. Mereka berdua baru saja pergi meninggalkan apartemen di daerah pusat kota tempat Ai dan Risa tinggal dan meluncur menjauh melintasi kolong jalan layang yang belum selesai dibangun menuju area pinggir Jakarta di mana Fira tinggal.

Dio memelankan laju mobilnya ketika dia melihat keramaian di kejauhan. Orang-orang berlarian dikejar orang yang membawa senjata tajam, tidak satu pun polisi nampak di dekat situ.

“Aduh, tawuran warga kayaknya nih. Kita cari jalan lain saja ya Fir,” ujar Dio sambil memundurkan mobilnya. Namun belum jauh kendaraan itu bergerak, Fira mendadak menjerit melihat pemandangan di depannya.

Salah satu orang yang dikejar itu berlari ke arah mobil mereka dengan tangan menggapai-gapai sebelum jatuh berlumuran darah. Di belakangnya beberapa tengkorak manusia berjalan sambil mengacungkan pedang-pedang berkarat. Mayat-mayat hidup itu lalu membacoki orang tadi yang menjerit-jerit meregang nyawanya. Tanpa menunda, Dio menginjak pedal gas sedalam-dalamnya namun laju kendaraan itu mendadak berhenti dibarengi suara keras dari atas kap mesinnya.

Sesosok raksasa setinggi lebih dari dua meter bersimpuh di atas kap mesin yang kini hancur dengan sebuah lubang besar di tengahnya di mana tinju raksasa tadi memukul. Dia berwajah singa, dengan surai berkibar dihembus angin malam. Dari antara surai itu, sepasang tanduk kemerahan mencuat seolah menyatakan dari mana asal makhluk itu. Raksasa singa itu menatap tajam ke arah mata Dio, nampak kilatan puas di matanya. Dia lalu pergi menjauh sambil mengedikkan kepala kepada para tengkorak itu, memberikan kode sebelum melompat menjauh.

Dio menarik tuas di sisi tempat duduknya, membuka bagasi mobil itu.

“Kamu kunci pintu sembunyi di jok belakang, Fir,” ujarnya sambil melangkah keluar mobil itu, mengabaikan Fira yang mencoba menahan langkah nekatnya itu.

Lelaki itu berlari ke bagasi, mengambil Tongkat golf yang tersimpan di sana dan berjalan ke arah para tengkorak hidup itu sambil berteriak sekencang-kencangnya dan mengayunkan tongkat golf di tangannya. Tongkat itu menghantam tengkorak pertama yang mencoba menyerang Dio, meninggalkan retakan di pelipisnya sebelum tersungkur saat hantaman kedua diberikan Dio di ubun-ubunnya.

Tiga tengkorak lain mengeluarkan desisan aneh, dan bergerak mengelilingi Dio yang memasang kuda-kuda bertahan dari serangan yang bisa datang dari mana saja itu. Ketika salah satu tengkorak itu menyerang, Dio bergerak mundur dan memukul ke arah ubun-ubunnya, menghasilkan suara keras yang menggema di kolong jalan layang itu. Dengan sigap Dio mengacungkan stik golf itu ke arah dua tengkorak yang tersisa, menatap tajam memperkirakan serangan berikutnya. Belum sempat mereka menyerang, sebuah tongkat bisbol besi menghantam kepala salah satu tengkorak itu dari belakang, membuatnya terhuyung sebelum hantaman-hantaman berikutnya menyusul. Tengkorak satunya menoleh kaget dan kelengahan tersebut digunakan Dio untuk menghajar sisi belakang lehernya dan memukulinya sekuat tenaga ketika dia tersungkur di atas aspal.

“Aku tadi nyuruh kamu sembunyi, kan. Ngapain kamu keluar?” ujar Dio kepada pemegang tongkat bisbol itu, Fira.
“Terus aku diam di dalam sana, cuma menonton kakak dikeroyok? Kakak pikir aku perempuan manja atau lemah? Aku bisa ngelindungin diri aku sendiri,” balas Fira dengan tatapan membelalak ke arah Dio.
“Kita omongin nanti, sekarang yang penting kita lari dulu.”

Dio memegang bahu Fira, mengarahkannya untuk berlari menjauh dari keramaian di kejauhan itu. Mereka lalu bergerak dengan cepat sambil tetap memegang senjata masing-masing. Belum jauh mereka melangkah, Dio merasakan besi dingin di punggungnya, bergerak cepat menembus kulitnya memasuki organ tubuhnya. Nafasnya mendadak tertarik dari mulutnya ketika besi dingin itu merobek paru-parunya, seperti menarik arwahnya menjauh dari tubuhnya yang jatuh tengkurap di atas aspal dengan sebilah pisau tertancap di sisi belakang tubuhnya.

Fira dengan kaget membalikkan badan dan menyadari pisau itu dilempar oleh seorang lelaki berambut pirang yang memimpin sepasukan tengkorak hidup. Pasukan itu mengelilingi Fira dan tubuh Dio yang terkapar itu. Salah satu tengkorak itu berjalan mendekat dengan mengeluarkan suara seperti tawa yang dihasilkan keletak tulang-tulang. Dia menjulurkan tubuh seolah mengejek, namun detik berikutnya kepala tengkorak itu sudah melayang karena hantaman tongkat bisbol Fira.

“JAUH-JAUH DARI KAKAK GUE,” teriak Fira sambil mengacungkan senjatanya ke arah monster-monster yang mengelilinginya.

…つづく

RustyrevolveR