(D)evolusi (R)evolusi

Tidak hanya sekali saya membaca tulisan menuntut, menyemangati, dan menginginkan revolusi. Ya, REVOLUSI (ditulis dengan huruf kapital untuk menegaskan) !!! Tentu ini adalah sesuatu yang wajar, namanya juga demokrasi. Setiap orang punya suara dan setiap orang bisa bicara. Tentu saya tidak mempermasalahkan itu. Yang saya pikirkan hanya satu hal, tidak kah kita, (kalian, mereka (?) ) belajar dari sejarah? Tidak usah kita belajar jauh-jauh, kita lihat dari kejadian sebelas tahun yang lalu. Sang Pemimpin Lalim™ digulingkan oleh kekuatan Rakyat™ yang lelah tertindas dan terbungkam, digeserkan oleh kekuatan massa, untuk digantikan oleh…



Oleh siapa?

Tentu saja pada waktu itu ada berbagai figur Pejuang Reformasi™ yang mencuat ke permukaan, tapi tetap tidak ada satu figur yang dijadikan panutan, pimpinan figur yang satu. Atau istilah lainnya mungkin adalah pimpinan revolusi, dia yang dielu-elukan untuk memegang tampuk kepemimpinan dan membawa negara ini ke kondisi yang lebih baik.

“Apa salahnya, Can? Toh kita punya musuh yang sama, kejahatan berhasil dikalahkan!”

Tentu saja. “Kejahatan” memang berhasil dikalahkan. Tapi lihat apa yang terjadi setelah itu? Kekosongan posisi di atas membuat mereka-mereka yang punya kesempatan saling berebut, menjatuhkan satu sama lain untuk memegang tampuk kepemimpinan. Dan dalam perjalanan ke sana, dalam persaingan yang tidak sehat itu, segala macam bentuk korup yang dulu dihina-hina dan dijadikan alasan menjatuhkan Sang Pemimpin Lalim™ dilakukan sendiri, sadar tidak sadar.

Saya rasa kita tidak buta, sebelas tahun ke belakang kita sudah melihat belang masing-masing figur yang tidak perlu saya sebutkan namanya satu per satu di sini.

Lalu saya ingin bertanya, apa bedanya dengan saat ini? Apakah kita memang sudah punya figur pengganti? Apakah kita punya visi, misi, dan segala macam perencanaan jika memang revolusi terjadi?

Saya ragu.

Saya ragu, seragu-ragunya, bahwa kita yang berpikir mengenai revolusi ini sudah lebih maju daripada sebelas tahun yang lalu.

Yang saya lihat selama ini hanyalah teriakan, tuntutan, dan amarah tanpa pemikiran ke depan. Tanpa perencanaan yang jelas, sebuah revolusi hanya akan berakhir pada instabilitas yang berujung pada keterpurukan yang lebih dalam lagi. Dan apakah kita menginginkan itu?

Saya rasa tidak.

Dan jika kita mencoba beralasan: “perubahan tidak segampang itu, tidak ada perubahan instan!” tolong berkaca kepada tuntutan kita sendiri kepada seluruh orang yang memimpin negeri ini. Apakah kita tidak menuntut perubahan instan pada mereka?

Jadi tolong, wahai kalian yang merindukan revolusi. Pikirkan dan rencanakan lebih matang. Ini tidak menyangkut kalian saja, ini juga menyangkut kepada saudara-saudara kita yang berada di bawah garis kemiskinan. Ketika kisruh dalam negara terjadi, merekalah yang paling pertama merasakan dampaknya, padahal ikut-ikutan (atau bahkan peduli) juga tidak. Jangan terbawa nafsu; a revolution can’t be undone.

Kita sudah mendapatkan pelajaran sepanjang satu dekade ke belakang, dan itu bukan sejarah yang kita baca di buku melainkan sejarah yang kita jalani dan rasakan sendiri. Jadi tolong, berkacalah di sana.

RustyrevolveR

Leave a Reply