Consistency!

Indonesia itu bikin bingung. Penjahat kemarin, pahlawan hari ini. Kasus-kasus datang silih berganti yang -katanya- pengalihan isu. Susno, cicak, buaya, anggodo, apalah itu namanya.

Bikin capek.

Tapi ada uang lebih lucu juga dari sana yaitu “pengalihan isu” yang tadi disebutkan. Apakah memang ada pengalihan itu, atau memang sudah ada auto-distraction dari mentalitas orang-orangnya sendiri? Let’s see the most obvious example; democracy. Dulu semua orang menuntut kebebasan berpendapat, berbicara, berkumpul dan berorganisasi. Dulu juga orang-orang itu menuntut agar Presiden tidak menjadi diktator, “batasi kekuasaannya”. Dan voila, kun faya kun.

Lalu?

Saya yang jujur aja, nggak berjuang di era itu ya nerima-nerima sajalah apa yang sejarah berikan kepada saya. It’s not like I have any other choice, am I?

Tapi memang dasarnya orang nggak pernah puas (atau dulu minta tanpa pikir panjang), sekarang banyak yang tanpa sadar menuntut pengembalian kondisi seperti dulu.

Bukan, bukan pengembalian dollar menjadi hanya 2500 rupiah. Tapi pengembalian kekang untuk kebebasan dan diktatorisme.

Lho?

Ya, memang begitu adanya. Percaya atau tidak, fundamentalis agama menjadi semakin kuat selepas reformasi. Tidak ada tangan besi “stabilitas” yang membuat mereka takut menuntut macam-macam. Dan ketika kita meminta ruang gerak mereka dibatasi, kita juga ada di lubang yang sama dengan mereka yang menghalangi kebebasan beragama (atau tidak beragama) dan menuntut pembatasan ruang gerak mereka sama saja melakukan apa yang mereka lakukan.

Say, UU mengenai poligami. Ada beberapa yang memang percaya itu adalah legal menurut agamanya. Jadi kalau kita menghalangi itu, bukankah kita sama saja dengan mereka menghalangi kita untuk membicarakan atheisme?

Tapi ya sudahlah, itu memang paradoks yang diwariskan dari tahun 1945. Kita sih tinggal gontok-gontokan hari ini dan berharap sisi kita yang menang. The least we can do is to admit, we can’t accept freedom that against our value.

Dan soal presiden… Ini udah saya ungkit di status facebook sih, yang kayaknya udah jarang yang mudeng. Setiap ada masalah, kita meminta presiden untuk turun langsung membenahinya. Let’s say, Bibit-Chandra, atau masalah Koja. Tapi apalah kita lupa kalau ada yang namanya sistem yang membatasi kemauan presiden? Jikalaupun dia mau menembak mati Anggodo, dia tidak bisa melakukannya tanpa menjadi seorang diktator.

And do we want that? I don’t. I don’t want a president that messing around with the system to make himself limitless. Entah kalau anda.

Kalau mau demo masalah ini yah silahkan saja, mumpung kasusnya lagi hype lagi dan semua orang mengalihkan matanya ke sana.

HIDUP AKTUALISME!!!

*uhm*

Cuma yah kali ini tolong jangan demo presidennya. Saran aja sih, soalnya kelihatan rada gimana… gitu. Demo MA kek, KY kek, biar jelas menuntut masalah perhukuman, bukan pemerintahan. Dan kalau bisa, nggak usahlah nyalah-nyalahin SBY melulu, kalian yang minta presiden yang bukan diktator dan taat hukum kan? Konsisten lah. Jangan bidik target yang paling gede karena gampang, okay?

-Tepi jalanan kisaran Gandaria, ditemani macet, bakpau, dan Black Menthol.

RustyrevolveR

Leave a Reply