CD, mp3, and 2012

This was written back in 2012 when we have yet to have proper streaming service and digital marketplace, so some stuffs might not so actual anymore, hahahaha.

Jadi kemaren gue nemu MelOn.

It’s kinda cute, mengingat beberapa minggu yang lalu sempat ada pembahasan pembahasan mengenai ini di twitter dengan the almighty @midahn alias Jupiter (atau Julius yah? lupa) Aryo Verdian atawa J.A.V yang dikenal khalayak sebagai Otong Koil mengenai jualan lagu. Ya, intinya adalah dia (dan gue juga sih, yang ikutan partisipasi) berpikir bahwa jualan CD di jaman ini nggak make sense. Demi kebaikan ego gue yang nggak suka quoting, mari gue taro pemikiran gue aja yah.

Apa impian para musisi?

Punya pacar supermodel, mansion gede, dan mobil sport berjejer? IYA, tapi bukan impian yang itu. Impian yang paling mendasar itu adalah impian ingin lagunya didengar, kalau bisa dibeli orang. Banyak keluhan bahwa belakangan ini industri musik sedang terpuruk karena pembajakan merajalela, CD dianggap terlalu mahal, dan para musisi ramai-ramai jualan RBT.

Idealis yah, buat gue RBT itu konsep yang ngaco. Lo beli musik dengan bitrate rendah, suara acakadut dan berakhir didengar orang, bukan dinikmati sendiri.

But hey, it sells.

Gue coba merenungkan sedikit mengenai masalah ini. Kenapa RBT itu laku? Dan ternyata jawabannya lebih simple dibanding yang kita semua mungkin pikirin: kemudahan akses.

Kenapa jualan CD nggak laku dan download itu ramai? Coba lihat sekeliling kita dan perhatikan. Mungkin dari 1000 orang, yang pakai mp3 player (baik dalam bentuk handphone, mp3 player abal-abal, sampe sekelas iPod) itu ada 999 orang, sementara yang 1 pake discman. Kebanyakan orang cuma menggunakan CD di rumah atau di mobil. Di rumahpun kayaknya kebanyakan pakai laptop/komputer dengan mp3 player. Face it, yag kita hadapi adalah perkembangan teknologi yang merubah pola hidup orang menikmati musik. It’s inevitable, perlahan CD pun masuk ranah “konservatif” (kalau nggak mau dibilang kuno) bersanding dengan kaset dan kawan-kawan.

Lalu apa yang kita (well, musisi) bisa lakukan untuk mendorong kalangan yang bukan “penikmat musik” (yang menuntut kualitas audio setinggi-tingginya) dan “fans” (yang pasti beli CD, atau kaset, atau bahkan vinyl) untuk membeli hasil kerja keras kita demi kita meraih sesuap nasi dan segenggam berlian?

Kalau ingin kaya, duitnya para musisi sekarang berceceran di jalan. Ngamen lah istilahnya. Jalan, manggung, tur, jual value musik itu di atas sana. Penjualan lagu? Go digital.

Orang males beli CD dan mengkopi lagu-lagunya ke dalam gadget mereka, itu jelas. Bukan hanya perkara kemalasan sih, ini juga perkara gaptek. Mereka lebih suka langsung download, copy, atau stream. Di sinilah kita mengkompromikan idealisme kita. Biarkanlah mereka download, biarkanlah kualitas audio yang mereka dapatkan tidak maksimal, yang penting mereka bisa mendengar dan menilai lagu kita.

Di sinilah kenapa gue merasa cukup senang ketemu MelOn. Para pendengar bisa mendownload musik pilihan mereka, dengan sedikit biaya yang ditarik lewat pulsa atau bayar langganan. Sistem sekali bayar langganan (terutama yang lewat pulsa) ini menurut gue sangat sesuai dengan kondisi pendengar musik kita belakangan ini yang males ribet. Karena mereka tinggal beli pulsa yang ada di tiap tikungan, sekali-duakali ketik-klik dan voila, lagunya sudah mereka bisa dengar tanpa perlu jauh-jauh beli CD. Logika yang sama dengan RBT yang sangat populer itu. Dan kita sebagai musisi masih mendapatkan hak kita sebagai pembuat lagu tersebut, no?

Ini win-win solution yang cukup fair, dan potensial juga untuk para musisi mandiri bisa menjual lagu mereka tanpa perlu banting tulang ngejar-ngejar label atau gerilya distro ke distro demi rantai distribusi yang kadang mentok karena kurang jaringan. Dan minimal kalau ada fans di Palembang, Ujung Pandang, atau Gorontalo, mereka bisa membeli lagu band indie dari Bandung secara legal tanpa terbeban ongkos kirim.

Agree? Disagree? Your choice :D.

(Honestly, I’m learning more about them right now. Semoga aja Revelin bisa ikutan rilis di sana juga.)

RustyrevolveR