I wish my birthday was as fun…

So Liongky got the best birthday bash ever. A fucking war with the Hitmans.

No.

Yeah, close enough.

And because I happen to have a life that day, I missed the bash.

They said the so-called “nyinyir war” run epic enough, and I begin to wonder… do they deserve such attention? I think at some point they do, because of some issues that’s troubling me as I read some of their tweets and articles.

First of all, I’m not against the idea of “relationship consultant” because I do that a lot, and I think some clueless idiots do need someone to give them dedicated help. But what HS do isn’t quite… proper, for the lack of better word. Here’s the thing, some of them have the basic motivational shits, the usual stuffs, some giving clue about the social skill needed and stuffs like that. But on the other hand, some are creating the attitude of “being player is cool”.

That’s my first problem.

Sure, it’s cool to stay single and fucking around. But showing it off is just plainly… desperate. Again, for the lack of better words. You can sugarcoat it all you want, but when stuff like this get posted:

 

It’s a trophy gallery, nothing more, nothing less. Just in case you didn’t get it, the “women” is the “trophy”, because “getting them” is such an “achievement”. It’s not being said blatantly, but would you deny that “get these trophies” is the main thing being promoted here?

And it’s quite adorable to see how far someone try to prove himself “a player”. And this is a “glossy” guy from the romance revolutionary institution? Give me a break and let my fake-japanese accent call him “grossy”. Lex once said to me that they only give the knowledge, the rest is up to the guy on how to use the knowledge. But seeing how they advertise it on their Facebook page, I would call that reasoning bullshit.

And now you wonder why some people calling Hitman System chauvinistic pig institution? Do the math, and you can see where that image came from.

Dear Hitman System, you asked for it.

Then comes the teaching. I don’t know what the content of the workshop is, and I’m not interested on wasting money on workshop I don’t need anymore. And this is only one part of stuffs that I disagree on, to help answering people on “kenapa sih banyak yang bilang kalo HS itu tempat belajar jadi player?”

Would I add more? Probably, if I’m not being lazy again. There are too many stuff I can criticize on, but since I’m not getting paid for this shit~

Oh by the way, if you want to argue “that photo was from 2009!” then you need a better PR to create new image because frankly, people still remember. And if you want to argue that “it’s not like what it looked like, it was part of the social game!” then you DEFINITELY need to have a better PR because when people look at stuff like this:

“Pigs showing off” naturally pops into people’s mind, now matter how you put it. And putting yourself as “victim of misunderstanding” only making you look like a wuss.

Real men have balls, dude. Man it up.

Oh, before people ask my motivation, let me put it this way: I’ll let the mockery for the stupids and the lazies, if I disagree on something, I will put proper effort on stating it.

And this is only one of my points.

(originally posted on 

Pluralisme (?)

Hari ini dihebohkan oleh diskusi(?) atau lebih tepatnya perkara kaos bertuliskan “Pluralisme? Injak saja!” yang dikenakan si vokalis-band-itu yang udah lah yah, nggak usah dibahas di sini. Gue akuin, ketika pertama kali ngebaca, gue sangat sentimen. Berat banget sentimennya, karena seperti yang banyak orang tahu, gue sangat pro-pancasila dengan segala kekurangannya. Gue nggak peduli ya orang mau punya paham apa, atau punya pemikiran apa. Itu bebas, itu hak hidup setiap manusia untuk berpikir dan berpendapat sebebas imajinasi dan pikiran mereka membawa. Tapi ada satu batas yang harus jelas, jangan sampai pendapat dan pemikiran tersebut menyakiti orang lain.

Dan jujur aja, pernyataan yang agresif seperti itu membuat gue marah. Bukan karena gue inkonsisten dengan paham yang gue pegang, tapi karena gue manusia yang melihat tulisan di kaos itu sebagai ajakan untuk menginjak sesuatu yang mendasari terbentuknya negara gue.

Apakah itu “pluralisme”? Kalau menurut mereka-mereka yang mengaku anti pluralisme (atau JIL lah, kalau mau jujur-jujuran), pluralisme adalah paham yang menganggap semua agama itu sama, dan melarang untuk menganggap agamanya yang paling benar.

Are you fucking kidding me?

Ya, gue berpendapat kalau semua agama itu sama aja. Semua menghadap Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Itu pendapat gue, paham gue, tapi apakah itu berarti pandangan keagamaan gue adalah “pluralisme”?

Let’s get this short: NO.

Pluralisme itu tidak hanya mencakup keagamaan saja. Plural, banyak, many, the name should be self-explanatory. Ini adalah paham yang memiliki dasar bahwa perbedaan bukan alasan untuk sebuah permasalahan dan perpecahan. Perbedaan agama hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak perbedaan yang umum dipermasalahkan. Hell, bahkan perbedaan support tim sepak bola aja bisa jadi ajang bunuh-bunuhan (Jak-Viking anyone? Remember the mob lynching in GBK?). Masih ada sisi lain di hidup ini yang lebih dari sekedar agama; suku misalnya, atau ras, atau beda tongkrongan, atau bahkan beda gadget aja bisa bikin orang berantem. Di sinilah pluralisme mencoba masuk untuk menengahi segala bentuk perbedaan dengan mencoba mencari jalan tengah, win-win solution dari segala perbedaan ini. Bukan dengan menyamaratakan semua paham, tapi dengan memberikan batas sejauh mana paham itu bisa dibawa.

Sounds familiar? Ya, itu adalah sisi paling mendasar dari idealnya idealisme Pancasila. Win-win solution dari segala perbedaan yang ada di negara kita yang plural ini. Karena di mata hukum, semua agama (yang banyak itu) nilainya sama. Jadi kalo ada gerakan anti-pluralisme ya secara nggak langsung anti-Pancasila dan berarti anti-Indonesia.

Dan apakah “pluralisme” itu melarang menganggap agama lo paling benar? Nggak lah, silahkan aja mikir gitu, namanya agama ya dipeluk, yakin ya sok atuh, cuma ya jangan dibawa ke keseharian sampai merugikan orang. Buka puasa bersama di bundaran HI, misalnya.

Oke, oke, gue nggak mau ambil contoh ekstrim deh. Contoh yang paling simple seagama aja, pake sudut Islam, agama yang gue pelajari sedari kecil: “Lo tatoan ngapain sholat? Nggak sah lho sholat lo!”

Lepas dari segala macam aturan agama Islam yang lo yakini, apakah lo yang punya hak untuk ngelangkahin Raqib dalam mencatat pahala sholat temen lo, atau bahkan ngelangkahin Allah yang lo sembah di sholat untuk menilai sah-tidaknya sholat orang lain?

Apa hak lo untuk merasa bahwa (paham pengetahuan) agama lo yang paling benar?

Gue nggak perlu menjabarkan dengan contoh yang mengkafir-kafirkan orang lain. Pikirin aja pertanyaan di atas.

Dan kembalikan ke pernyataan “pluralisme” tadi. Apakah lo berhak merasa agama lo paling benar? Lo punya hak untuk itu. Tapi apakah lo punya hak untuk mengatakan bahwa paham orang lain itu (pasti) salah?

No.

Singkat aja lah, gue akan nulis lebih banyak lagi lain kali.

Cheers

(originaly posted on 

Just Another 2 Cents

Today I had a talk with Mrs. Myra Brown (no relation to Chris Brown), speaker from U.S. Embassy on one of @america’s event. The talk was kinda random, so there wasn’t really any conclusion from that. But that’s not what I’m gonna write now.

During the discussion, there’s one statement that I actually disagree, but also agree at the same time:

“Superstition holds us back.”

Well okay, we were talking about Robert Johnson and the mumbo-jumbo about occultism (Hoodoo, to be precise) behind his death. I was curious and ask about it because I thought occultism tied firmly with the culture of a society, thus might give another point of view about the society itself because in every culture we have occultism. Shaman, Druid, Witch Doctor, Oracle, you name it.

The talk between me and her kinda derailed after that, because “spiritualism” vs “science” always derail any kind of discussion. Like I do right now with my writing, so let’s go back to the subject.

Do(es) superstition(s) really hold us back? The answer is yes and no. Why is that? It depends on where do you put the superstitions at.

Let’s put it this way;

Robert Johnson is dead. His song, Crossroad and Hellhound on My Trail give clue about the occultism, but rumour also said that he’s been poisoned because he slept with someone’s wife (wives make much more sense, btw. He’s the first rockstar anyway).

In superstitious point of view:
“He’s being killed because he made a pledge with the devil on the crossroad in exchange of the whole popularity.”

In non-superstitious point of view:
“He slept with someone’s wife. Duh.”

Okay, the language is kinda cynical, but you get my drift.

My problem with these statement is: they both conclude. Yes, both of them give conclusion and use their belief as the base for it.

Let’s use another example. This isn’t exactly apple-to-apple, but what the hey~

Religious point of view:
“God exist because the Holy Books said so and I believe that.”

(Yes, I put “superstitious” and “religious” in the same equation, sue me.)

Scientifical:
“God don’t exist because there’s no scientifical proof that He exists.”

Same problem; conclusion. Religions (superstition, and all that jazz) are basically philosophical. And what are the base of philosophy?

Question.

The deeper you learn about religion, the more questions you get. Is God an entitiy with his own mind or the whole universe by itself? Is He a “he” or a “she”? If He exist and all-loving, why do we still suffer?

When you question, not merely believing it, you’ll learn more about your belief and broaden your mind.

Same apply to science. When you conclude that: “God is not scientifical, period,” you actually being non-scientifical.

Why? Because when you conclude that something don’t exist because there’s no proof, at the same time you also don’t put any proof that He don’t exist.

See the loophole here? To say something true/false, you need to give hard, unbiased evidence that’s more than just a theory. Even the Big Bang Theory explanation started with: “Scientists believe that…” as make sense as it is, it’s still a theory.

The skeptical scientists have conducted experiments to prove there’s “no afterlife” and along the way, they created many unrelated discovery that, though not related to the “afterlife” question, benefit the humanity in one way or another.

On the flip side, the superstitious scientists (yes, they exist) try to prove the existence of the “afterlife” and “spiritual being” and the rest of the story went like the previous one.

Okay, maybe not as useful, but it’s still something new.

And not to mention, the fear of “higher being” also build the base of the modern day humanity. The fear on karma/sin is actually the very primitive concept of law; the philosophy of “you sow what you seed”.

The writing has gone way much more broad than I thought it would be, so let’s put the conclusion from me.

It’s not “superstition” or any kind of belief that hold us back, it’s how you use it. When you use any kind of belief (including scientifical) as a Deus Ex Machina, you close the door to any kind of argument that *might* broaden your view and give answer to the question. Don’t make it as a dogma; because no matter what, dogma is a period, full stop, that make you stuck and not moving forward.

Don’t make your belief the answer, make it the question. Make it as healthy pre-assumption, as a base of your search of an “answer”.

I mean hey, I’m a creationist that also believe in evolution. I believe God exist, but I also believe that Darwin was right. It’s possible to have a belief and being scientifical, but I think I should save this for another time.

…or in some sense maybe the “Devil on the Crossroad” is Robert Johnson’s promoter and the “Hellhound on My Trail” is the promoter’s henchman and everything is a metaphor. It’s plausible~

And it’ll be interesting to search whether this “Crossroad Blues” have any relation to “Rock and Roll is the Devil’s music” stereotype. It also make sense, seeing how a stigma can put fear to certain kind of people on the certain kind of culture. Connecting the music, where it came from, and how it affect the fear of the stuck-up society back then. I need more data, though.

…I better end this before I get even more derailed. It’s almost midnight anyway.

A (very) Old Writing

(ini beneran gue yang nulis, 2006 kalo nggak salah)

 

Hari semakin gelap, dan aku menggigil kedinginan. Stasiun kereta ini sudah mulai sepi, beberapa wajah melihatku ketika aku melewati mereka. Mereka berbisik-bisik, tersenyum menjijikan, beberapa menggodaku dengan kata-kata yang mungkin tidak akan pernah kuucapkan. Aku memaki dalam hati, menyesali kebodohanku karena lupa waktu dan pulang terlalu malam.

Namaku Liana, kelas dua SMA, dan hari ini aku terpaksa pulang malam karena panitia pentas seni sekolahku mengadakan rapat dan aku terlalu lama ngobrol dengan anak-anak panitia yang sebagian besar baru aku kenal belakangan ini. Aku menghela napas dalam dan duduk di sebelah warung kecil yang menjual makanan kecil dan minuman ringan. Penjualnya tersenyum kecil kepadaku, aku memang biasa duduk di sini kalau aku pulang sekolah di siang hari dimana premannya tidak sebanyak malam-malam begini.

Sebenarnya aku tidak terlalu takut, karena di dalam tasku aku selalu membawa semprotan lada — itu lho, semprotan yang mengeluarkan lada untuk disemprot ke muka orang yang mengganggumu. Tapi yang membuatku tidak pede adalah karena badanku yang kecil. Umurku enam belas tahun, tapi tinggiku hanya seratus empat puluh tiga sentimeter. Jangan tanya berat badanku, kau akan menyangka aku anoreksia. Dengan badan seperti ini, aku bisa apa kalau ada orang yang setengah meter lebih tinggi dariku menyerangku?

Oke, mungkin aku salah bicara. Di sebelah kananku ada seorang laki-laki tinggi kurus dengan rambut lurus kaku berwarna hijau yang menutupi sebagian besar mukanya duduk tepat di sebelahku sambil membaca buku bersampul hitam dengan gambar pentagram merah. Tunggu, buku itu judulnya di belakang? Jangan-jangan itu kitab salah satu agama satanis yang sering kudengar? Malam ini akan betul-betul sempurna kalau itu memang yang aku duga.

Suara klakson kereta terdengar nyaring ketika ia memasuki stasiun. Aku cepat-cepat menaikinya, aku ingin secepatnya pulang ke rumah dan berendam air hangat berharap muka-muka mesum yang tadi menggodaku bisa hilang dari ingatanku. Namun belum sempat kereta berjalan, aku merasa ada hawa panas di belakangku. Benar saja, seorang lelaki setengah baya sedang tersenyum lebar sambil mengobrol dengan temannya dan pahanya ditempel-tempel ke pantatku. Sumpah, aku menahan godaan besar untuk menyemprot mukanya. Aku rasa itu bukan tindakan bijaksana, mengingat dia sedang bersama dua-tiga temannya. Aku sekarang hanya bisa berharap orang ini cepat-cepat turun.

Kereta bergerak maju dengan lumayan mengagetkan hingga beberapa orang tertarik ke belakang termasuk om-om mesum itu.

“Aduh! Hati-hati dong…” teriak om-om mesum itu mendadak. Semua gerakan yang terinspirasi film porno jepang itu juga berhenti.

“Maaf pak, bapak terlalu mepet ke sini. Bisa geser sedikit?” ujar seseorang dengan nada rendah yang datar.

“Tapi dik, saya…”

“Kalau bapak nggak geser, jangan protes kalau bapak kena sikut lagi.”

Om-om itu terdengar bergumam ragu, namun akhirnya dia bergeser. Jangan tanya bagaimana aku tahu, silahkan tanya pantatku kalau masih penasaran.

Maaf, masih emosi.

Didorong rasa penasaran, aku melihat asal suara rendah itu. Ternyata suara itu berasal dari cowok seram yang berambut hijau tadi. Dia sekarang berdiri tepat di sebelahku, dan aku lebih takut dengannya dibanding dengan om-om tadi. Serius, badannya benar-benar tinggi. Sekarang kalau aku menengok, yang terlihat hanya garis-garis kuning-biru dari kaos polonya. Untung badannya cenderung tidak bau untuk standar keringat mayoritas orang yang pulang naik kereta jam segini karena aku praktis berada tepat di bawah ketiaknya.

Perjalanan pulang naik kereta yang seharusnya hanya memakan waktu kurang dari satu jam ini terasa lebih lama dari satu minggu untukku. Cowok ini setiap semenit sekali kupergoki sedang mengintipku dari sela-sela rambut ajaibnya itu. Aku baru sadar kalau di kantung baju seragamku sebuah handphone terdiam dengan manis seolah meminta untuk diambil sambil sang maling mendapat sedikit bonus, meskipun ukuran dadaku agak pas-pasan.

Hei, dalam kondisi seperti ini aku boleh sedikit sinis ‘kan?

Semakin lama aku semakin curiga kalu cowok ini memang mengincar handphoneku. Maksudku ayolah, apa sih kemungkinan yang lain dari dia melirikku setiap semenit sekali? Emang sih tampangnya lumayan cakep, tapi sejak kapan sih yang ganteng itu orang baik-baik? Setan aja mukanya pada ganteng kok.

Aku kaget setengah mati waktu dia mencolek bahuku. Dengan takut-takut aku menoleh tepat ketika kereta brengsek ini memutuskan ini waktu yang tepat untuk mati lampu. Cahaya putih di depanku membuatku silau sejenak sebelum akhirnya aku sadar bahwa itu berasal dari handphonenya. Sederet teks tertulis di situ:

bole knalan nda? ^^

Mungkin karena terlalu kaget, reaksi pertamaku adalah memalingkan muka sambil menahan tawa. Tidak lama kemudian aku merasakan colekan lagi, dan aku dengan sedikit rasa lega di dadaku menoleh.

jangan takut dulu, biar tampang gw kyk gini gw bukan preman. gw anak band baik-baik kok ^^; srius d!

Wajah yang tersembunyi di balik rambut ajaib itu terlihat tersenyum gugup dan mendadak semua ketakutanku menghilang entah kemana. Meskipun aku sendiri masih memasukkan tanganku ke dalam tas dan menggengam semprotan ladaku erat-erat.

Aku tertawa kecil. “Siapa yang takut?” ujarku.

“Iya lah, elo berani pulang malem naik kereta begini. Pastinya elo bukan cewek penakut,” jawabnya dengan senyum yang kelihatan lebih rileks sementara dia menunduk bergantungan di pegangan kereta mencoba menyamakan kepalanya dengan tinggi badanku. Iya, maaf deh kalau aku pendek.

“Jadi,” lanjutnya, “boleh nggak?”

“Apaan?”

“Yang tadi, kenalan,” lanjutnya sambil nyengir lebar.

“Liana,” jawabku singkat. Dan aku langsung menyesalinya. Cewek waras mana yang ngasih nama mereka sama cowok serem yang ngajak kenalan di kereta?

Aku cukup yakin aku waras. Bodoh mungkin, tapi waras, dia bisa dapat apa sih dari nama? Yah, itu cukup pintar untuk standarku.

“Drean.”

Aku mengangkat alis sambil meliriknya. Ini nama macam apa lagi?

“Hey, anak band pasti punya nama panggilan yang aneh-aneh buat di atas panggung kan? That’s how we gain popularity!” lanjutnya dengan semangat yang mendadak berapi-api.

“Iya deh, gue sih iya-iya aja,” jawabku dengan senyum sedikit tidak enak.

“Jangan gitu lah, lain kali gue manggung, elo harus nonton ya! Jangan enggak. Omong-omong elo turun di mana?”

“Satu stasiun lagi,” jawabku enteng, dan tidak bohong lagi.

“Kok sama?”

“Mungkin karena elo ikut-ikutan?”

“Jangan jahat gitu lah, pasti elo nyangka habis ini gue bakal ngajak lo ke rumah gue terus gue kasih minuman yang ada obat biusnya, terus…”

“Iya deh, gue nggak curigaan lagi,” potongku sebal.

“Yah, ngomel gitu sih. Udah nyampe nih, omong-omong. Turun kan lo?”

Aku mengangguk kecil dan mau tidak mau ikut dengannya turun. Harus diakui, aku senang juga sih bisa turun dari kereta tanpa harus mendorong-dorong orang. Dengan adanya Drean di depanku, sebagian besar orang minggir dengan sendirinya.

“Nah, gue naik angkot dari sini. Elo baik-baik aja kan pulang sendiri?” tanyanya ketika kami akan berpisah di depan stasiun kereta.

“Tenang aja deh, nggak usah parno gitu.”

“Terang aja parno, cewek imut kayak elo pasti rawan banget digangguin. Kayak tadi di stasiun, atau tadi pas di kereta,” jawabnya dengan nada ringan.

“Udah deh, gue bisa baik-baik aja kok.”

“Ya udah, hati-hati ya,” lanjutnya sambil tersenyum.

“Iya,” jawabku sambil melihatnya berjalan menjauh.

Aku membalik, dan berjalan menuju arah rumahku. Tersenyum tipis karena paling tidak malam ini ada hal lucu yang bisa aku ceritakan ke Aya besok di sekolah. Aku sudah terlalu capek untuk meneleponnya malam ini.

“Liana!” kudengar suara memangilku dan aku spontan menengok. Di kejauhan aku melihat Drean tersenyum sangat lebar, raut wajahnya terlihat cerah dan tangannya menyapu rambutnya sehingga menunjukkan seluruh wajahnya. “Makasih udah ngasih tahu gue nama asli lo, semoga kita bisa ketemu lagi,” lanjutnya setengah berteriak tanpa sedikitpun rasa malu.

Aku melambai gugup, dan membalik setengah berlari pulang. Aku rasa wajahku memerah.

 

 

“Dan itulah akhir dari malam teraneh hidup gue,” ujarku kepada Aya esok harinya di kelas.

“Dan cowok itu bilang namanya siapa?”

“Drean.”

Aya terdiam dan terlihat menahan senyum. Aku menatapnya curiga, biasanya senyum itu keluar ketika ada hal yang dia sembunyikan.

“Apaan, Ay?”

“Apanya apaan?”

“Elo senyum-senyum mencurigakan begitu pasti ada yang elo umpetin. Jangan boong lo, gue udah kenal lo dari lama. Ada apaan, ceritain!” ujarku sambil mencolek pinggangnya.

“Geli tahu, jangan di sini ah!”

“Mau di mana? Mau di mana?”

“Entar aja, di rumah gue,” ujar Aya sambil masih menghindar dari colekanku.

“Rumah lo? Mau dong!” aku mendadak menjadi semangat, lebih karena selama beberapa kali berteman dengan Aya aku sama sekali belum pernah main ke rumahnya. Paling mentok aku mengantar-jemput dia di depan rumahnya. Dia memang tinggal dengan sepupunya karena orangtuanya bekerja di konservasi alam jauh di pedalaman hutan Kalimantan.

“Oke, kalo gitu…” sebelum Aya sempat menyelesaikan kalimatnya sebatang kapur melayang dan mengenainya telak di dahinya.

“Kalian kalau mau mesra-mesraan jangan di kelas pas jam pelajaran, oke?” ujar sang pelempar yang tidak lain adalah Pak Broto. Guru fisika yang juga kebetulan wali kelas dan juga kebetulan salah satu aktivis BP.

Jangan heran kalau aku dan Aya menjadi sangat pendiam selama sisa jam pelajaran.

Aku dan Aya berjalan menyusuri komplek perumahan elit di kawasan Jakarta Selatan tempat rumah sepupu diamana ia menumpang. Pepohonan yang masih rimbun tumbuh rapi di pinggiran jalanan sepi menuju rumah besar yang terletak di ujung jalan. Aya membuka pagar rumah itu dan mengajakku masuk.

“Ay, tante dan om lo mana?” tanyaku begitu melihat rumah besar yang sepi itu.

“Mereka emang pergi-pergian kok, gue tinggal di sini sekarang cuma berdua sama sepupu gue. Yah, emang ada pembantu harian datang dan pergi sih, tapi itu nggak gue hitung sebagai penghuni tetap,” lanjutnya sambil tertawa kecil.

“Nah, sepupu lo sendiri ada di mana?”

“Paling lagi di atas, nongkrong sama temen-temennya,” jawab Aya sembari mengambil sebotol air dingin dan dua gelas. Aya lalu mengedikkan kepala mengajakku mengikutinya.

Aku mengikuti Aya memasuki kamarnya. Kamarnya terhitung rapi untuk orang yang suka ribut seperti dia. Mungkin aku perlu menceritakan lebih tentang Aya. Aku mengenalnya semenjak SMP karena dia menolongku dari kakak kelas yang melabrakku karena aku memakai kaos kaki panjang. Mereka tidak pernah menggangguku sejak itu. Lebih karena takut Aya akan melakukan hal yang mengerikan, mengingat dia memiliki badan yang tinggi atletis. Hal ini juga yang membuatnya belum pernah memiliki cowok sampai saat ini. Aku sering mengganggunya dengan mengatakan bahwa kalau sampai kita lulus SMA dia belum mendapat pacar, aku akan menghabiskan sisa hidupku menjadi istrinya.

Aku sendiri sebenarnya cukup heran, karena Aya sendiri tidak bisa dibilang kurang muka, bahkan aku bisa mengatakan kalau dia cantik. Kulitnya putih, matanya ramah (cenderung sadis kalau lagi marah sih), bibirnya yang penuh berwarna pink bahkan tanpa lipstik, aku bisa menghabiskan seharian mengatakan betapa cantiknya dia sebenarnya, dan dia sebenarnya bisa menjadi idola sekolah andaikan saja dia mau merubah penampilannya sedikit. Karena aku sendiri sangat iri dengan kelebihan fisiknya yang cenderung dia sembunyikan di balik rambut ekor kudanya yang acak-acakan dan seragam sekolahnya yang lima nomer kebesaran.

“Ay, gue mau ke kamar mandi nih,” ujarku sambil menggesek-gesekkan daguku ke atas kepalanya.

“Ke luar aja, belok kanan. Kamar mandinya ada di ujung,” balas Aya sambil menyundul daguku.

Aku mengambil bantal dan memukulnya di kepala dan kabur tepat ketika dia melempar guling ke pintu. Aku berjalan menyusuri lorong rumah itu, sayup-sayup aku mendengar suara musik yang disetel dengan volume keras dari dalam kamar sepupu Aya. Aku membuka pintu kamar mandi dan aku tersentak melihat pemandangan yang ada di depanku.

Seorang cowok berjongkok di depan WC membelakangi pintu. Dia telanjang dada, kepalanya dibalut plastik transparan dan isinya seperti dipenuhi cairan merah yang mengalir turun di lehernya. Dia berbalik, dan aku berteriak kencang, terbelah rasa kaget dan takut.

“Eh, eh, jangan teriak gitu dong… aduh gimana nih, gue nggak bakal ngapa-ngapain kok tenang dulu, nanti gue jelasin. Aduh, man, gimana nih….” Makhluk tidak jelas itu menceracau di depanku Pintu kamar sepupu Aya menjeblak terbuka, dan aku mendengar teriakan yang tidak kalah kerasnya dari orang yang keluar, dan aku menengok seketika.

Aku melihat sosok tinggi kurus dengan rambut berantakan yang berwarna hijau yang berekspresi seolah baru menerima setruman ribuan volt. Drean, cowok ajaib dari hari kemarin.

Dan aku pun berteriak lagi.

Dan dia pun berteriak juga.

Dan makhluk ajaib di kamar mandi itu berteriak juga.

Dan Aya keluar dari kamarnya sambil meniup terompet tahun baru yang baru lewat beberapa minggu yang lalu.

Drean menengok, menatap Aya dengan tatapan kesal, aku tidak mengerti kenapa. Sementara Aya sendiri nyengir lebar sambil meniup-niup terompetnya dan masuk ke kamarnya secara perlahan tapi pasti. Pintu kemudian menutup dan terdengar suara mengunci yang membuat Drean tersadar dan menggedor-gedor pintu itu sambil memanggil-manggil Aya.

“Anu… gue bisa jelasin semuanya kok,” mendadak cowok berkepala dilapisi plastik itu berujar di sampingku. Aku menengok dan menatapnya dengan tatapan heran, mencoba menebak apa penjelasan yang akan dia beri kepadaku, sementara di belakang kami ada Drean yang masih menggedor-gedor pintu kamar Aya sementara pemilik kamar itu sendiri sedang memainkan mars pemilu dengan terompet tahun barunya.

“Oke,” jawabku setelah mengatur nafas. “Gue bakalan tertarik ngedenger penjelasan soal plastik di kepala dan cairan merah menjijikan itu.”

“Gue lagi… ngecat rambut.”

Dan aku merasa menjadi orang paling idiot di muka bumi. Ngecat rambut? Dengan adanya Drean di sini, segalanya menjadi sangat jelas. Ini pasti salah satu makhluk dari bandnya.

“Elo… udah nggak takut ama gue lagi kan?” tanyanya lagi dengan suara pelan, seolah takut aku berteriak lagi.

“Ngapain lagi kepala lo dilapis plastik gitu? Gue udah bisa ngerti masalah cat rambut, tapi yang satu itu gue masih belom nangkep maksudnya.”

“Itu buat pengganti heater. Di rumah ini kan nggak ada satupun alat pemanas, jadi gue pake suhu tubuh gue sendiri buat ngegantiin itu alat.”

Oke, mereka memang makhluk aneh. Harus aku akui kalau ide mereka memang pintar, meskipun aku rasa ini hanya akibat dari terlalu banyak bergaul di salon.

“Ini ide lo atau dia?” tanyaku lagi sambil menunjuk Drean yang makin heboh menggedor-gedor pintu sementara Aya menyanyikan ‘Row-row-row your boat’ dengan nada fals dari terompet yang memang seharusnya tidak punya nada itu.

“Kita diajarin Frans,” jawabnya.

“Banci salon?”

“Bukan, tukang nasi goreng di seberang jalan,” jawabnya enteng.

Aku mengangkat alis ku sebelah, menatapnya dengan tatapan bertanya sekaligus tidak percaya.

“Gue nggak bercanda. Liat di seberang jalan deh, ada warung nasi goreng Le Frans. Yang punya emang mantan kapster yang dipecat gara-gara pacaran sama anak yang punya salon,” lanjutnya meyakinkanku.

“Kok bisa dipecat?”

“Anaknya cowok.”

“Oh…”

Obrolanku dengan cowok berambut merah ini terputus ketika Drean memutuskan bahwa mendobrak pintu kamar Aya adalah ide yang sangat bagus. Sayangnya, Aya dengan sengaja membuka pintunya ketika Drean menyerbu masuk dan mengulurkan kakinya dari balik pintu. Suara keras terdengar selama beberapa detik kemudian, campuran antara suara barang jatuh, teriakan cowok dan tawa cewek. Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi di dalam sana.

Ketika keadaan mulai menenang, aku dan cowok berambut merah itu mengintip ke dalam kamar Aya dan mendapati pemandangan paling aneh dalam hidup kami (meskipun tidak seaneh sewaktu tadi aku membuka pintu WC sih). Tempat tidur Aya, yang memang hanya sekedar kasur yang digelar di lantai, kini berada di atas badan Drean yang meronta-ronta sementara Aya menindihnya.

“Li, masuk bentar deh,” ujar Aya sambil menahan Drean yang kelihatannya semakin menggila meronta mencoba keluar dari bawah kasur itu.

Aku berjalan memasuki kamar yang mendadak berantakan itu, kemudian Aya berdiri dan menarik kasurnya sehingga Drean bisa keluar dan menarik napas di udara bebas.

“Liana, kenalin ini Andreas. Dia sepupu gue sekaligus tuan rumah ini,” ujar Aya sambil nyengir lebar dan menjulurkan tangannya menunjuk Drean yang masih megap-megap kehabisan nafas. “Dan Andre, kenalin ini Liana, temen sekelas gue yang udah sebulan belakangan elo ngotot minta kenalin,” lanjutnya lagi.

“Tunggu dulu, jadi nama asli dia Andreas? Dan apa lagi dia ternyata sepupu lo? Kok bisa-bisanya dia pulang searah sama gue? Ngajak kenalan, lagi!” cerocosku tanpa henti. Aku menuntut jawaban lengkap, diketik rapi dengan spasi 1.5, font Times New Roman ukuran 12, minimal tiga halaman A4 besok pagi di mejaku.

Kok rasanya ada yang aneh ya?

“Kalau masalah itu, elo bisa tanya sama dia,” jawab Aya ringan sambil menepuk punggung Drean dengan keras sampai ia terbatuk keras lagi.

Drean terduduk lemas seolah dia sedang disidang sementara semua orang memperhatikannya: aku yang penasaran, Aya yang tidak henti-hentinya cekikikan, dan cowok kepala plastik merah yang telanjang dada dan mengintip dari luar pintu. Drean mengangkat kepala dan menatap ke luar pintu.

“Nyong, balik kamar mandi lo!” ujarnya ke makhluk di luar pintu itu.

“Tapi ini kan udah setengah jam, harusnya rambut gue sekarang dibilas dan dikeramasin…” jawabnya enteng.

“Ya udah, cepetan urusin tuh rambut!”

“Keramasin!”

“Ogah!”

“Elo kan udah janji, lagian gue takut shampoonya masuk mata,” rengeknya seperti anak lima tahun yang minta dibelikan mainan.

“Ya udah, gue yang keramasin elo deh,” potong Aya mendadak. “Elo berdua, selesaiin urusan yang bisa lo selesaiin sekarang, oke?” ujarnya kepada aku dan Drean, atau Andreas, atau apapun aku harus memanggilnya, aku bingung.

“Makasih ya Aya… budi baik lo bakal gue ingat sepanjang masa deh!” ujar cowok itu dengan nada yang mendadak terdengar teramat senang.

“Iya, iya,” jawab Aya sambil menariknya menuju kamar mandi.

“Mau sekalian bubble bath nggak?”

PLAKK!!!

Aku menatap Drean, yang juga kelihatannya mencoba cuek terhadap suara menyakitkan dari telapak tangan yang beradu dengan punggung telanjang itu.

“Jadi,” ujarku sambil menatap Drean, “boleh gue minta penjelasan?”

“Mau dari mana?” jawabnya pelan.

“Siapa elo, selengkapnya. Dan bagaimana elo bisa kenal sama gue, ketemu gue di kereta, pulang searah, dan hal-hal lainnya.”

“Nama gue Andreas, tapi dipanggil Drean sama anak-anak band gue. Gue sepupu Aya, dan gue bisa tahu elo dari situ,” ujarnya sambil menunjuk ke foto aku dan Aya yang ada di atas meja belajar Aya. “Waktu gue minta kenalin sama Aya, dia nggak ngasih, berhubung dia emang suka ngerjain gue. Dia akhirnya bilang kalo gue mau kenalan sama elo, gue harus usaha sendiri. Jadilah gue nungguin lo seharian di stasiun kereta.”

“Tunggu, jadi elo nungguin gue dari siang?”

“Eh… iya,” jawabnya.

“Tapi gue kan waktu itu pulang sekitar jam sembilan.”

“Eh… iya.”

“Berarti elo nungguin gue seharian?”

“Eh… iya,”

Aku terdiam, menatap mata yang masih tersebunyi di balik lebatnya rambut hijau itu. Aku tidak bisa dengan tepat menyatakan apa yang tersirat di sana, tapi aku cukup yakin kalau dia sangat menghindari tatapan langsung dariku.

“Lihat gue,” ujarku.

“Hah?”

“Lihat mata gue,” ujarku lagi, kini dengan lebih tegas.

Drean menatap takut-takut ke arahku, dan dengan spontan aku memegang mukanya dan menarik rambutnya ke atas. Matanya yang polos menatap lurus ke mataku, meskipun terlihat kalau dia gugup, atau takut.

“Dari tadi kek begini,” ujarku sambil melepaskan rambut dan mukanya. Dia terlihat kaget dan buru-buru mengembalikan posisi rambutnya kembali seperti awal. Aku mendadak merasakan wajahku panas, dan tersadar betapa nekatnya aku barusan.

“Jadi?” tanya Drean.

“Jadi apaan?” tanyaku kembali.

“Ada yang mau elo tanyain lagi?”

“Gue rasa, fase kenalannya udah lewat deh. Ujarku sambil mencoba tersenyum, meskipun dalam hati aku ingin berteriak-teriak panik.

Drean tertawa kecil, dan tersenyum. “Gue rasa elo bener deh. Jadi sekarang kita bisa ngobrol dengan enak dan maki-maki Aya yang udah ngatur insiden hari ini, kan?”

“Emangnya dia ya, biang masalah hari ini?” tanyaku.

“Masa iya dia tadi kabur dan main-main terompet kalau dia emang nggak salah apa-apa?”

Dan kami pun tertawa berdua di kamar yang berantakan itu. Seluruh ketegangan yang tadi ada seolah hilang entah ke mana.

“Jadi kapan ada latihan band main ke rumah lagi ya? Studionya ada di lantai tiga kok, jadi kita biasa latihan seharian seenak hati,” ujar Drean ketika aku turun dari motornya di depan stasiun kereta sore harinya.

“Iya, elo kontak-kontak gue aja, pasti gue dateng nonton kok,” jawabku mencoba sesantai mungkin padahal di dalam hati aku berharap dia cepat-cepat mengundangku. Oke, mungkin aku kedengaran munafik setelah semua tuduhan dan kecurigaanku kemarin ketika dia mengajak kenalan di kereta, tapi ayolah. Maksudku, dia ternyata MEMANG enak dilihat, dan MEMANG baik hati. Dan berapa sering sih, kamu bertemu orang ajaib seperti ini? Aku sangat menikmati kekonyolan dan keluguannya, yang tersembunyi di balik figur seram itu.

“Elo yakin nggak mau gue anter sampe rumah?” tanyanya lagi, mungkin untuk ke lima kalinya semenjak aku pulang.

“Nggak usah, masih sore kok. Lagian gue juga nggak enak nyusahin elo.”

“Ya udah, nanti gue SMS atau telepon deh,” ujarnya sambil melompat naik ke atas motornya.

Aku melambai ketika perlahan sosoknya menjauh meninggalkanku di tempat pertama kali kami bertemu ini. Aku tersenyum kecil, setengah berterima kasih kepada Aya yang membuatku mengalami salah satu pengalaman terajaib yang mungkin seorang cewek SMA bisa alami.

Omong-omong, dia tahu nomer Hpku dari mana ya? Aku juga nggak punya nomer Hpnya soalnya.

Dan Hpku berdering seolah membaca pikiranku. Sebuah SMS masuk, dari Aya. Aku sedikit bingung, karena seingatku tidak ada barangku yang ketinggalan di rumahnya atau apa, namun isi SMS itu ternyata benar-benar berada di luar dugaanku.

Li, makasi y udah kelupaan ngasi nomer hape lo k Drean. gw skrg punya kesempatan ngerjain dia lagi >D~

Yang Tertinggal

Dibaca baru saja di launching @kreanesia

“Aku akan menunggu, tanpa menganggu hubunganmu,” tertulis sederet kata dengan titik kuning di sisi kirinya yang masih terus kubaca di layar telepon yang perlahan mulai meredup. Aku tersenyum, namun sudut bibirku bergetar getir ingin melepas kata yang tersangkut di balik dada.

Namun aku tahu itu percuma.

Jika aku bicara, tak kan pula ada kata yang mampu merasuk masuk menusuk hatimu yang kau buat beku untuk melindunginya dari sakit tak terperi yang mungkin akan kuberi, secara sengaja atau tak sengaja.

Ataukah begitu adanya? Aku hanya bisa mengira.

Aku menarik nafas, mencoba lepas dari batu besar yang mengganjal jalur otak dan hati. Bagai tumor ganas, buas, menghabisi jiwa yang terlahap isi kepala.

“Hadapilah, kamu salah, kamu kalah. Lepaslah lepas, biarkan dia bebas terbang ke mana dia seharusnya bersarang. Mungkin denganmu, tapi bukan sekarang,” ujar kepala yang terbias logika.

“Sakit,” ujar hati yang terkunci ego ingin memiliki.

“Tidak ada terakhir kali?” ujar hati kembali.

“Tidak, biarkan dia pergi.”

Hening. Hanya terdengar nadasela sebuah lagu lama yang menohok dada, terputus bersambut sebuah suara yang mungkin kudengar untuk terakhir kalinya.

“Ya?” ujarnya.

“Selamat tinggal, Yang Tertinggal,” jawabku tulus.

Sambungan kuputus.

Dan hidup berjalan terus.

Cinta Mati

Aku bertemu denganmu ribuan malam yang lalu
Kala hari lambat melaju
Langit telihat sayu
Dan tubuhku terbujur kaku

Lenganku kebas, hanya kudengar ritma
Dari tetes infus, desah suara pompa
Tirai bergoyang lemah dan lampu malas menyala

Berdirilah kau di ujung sana
Dengan senyum terkulum dan pipi berlesung

Sang kala berlari
Sendiri
Di sudut itu kau masih berdiri
Dengan senyum terkulum dan pipi berlesung

Kesadaranku datang dan pergi
Namun engkau selalu ada menemani
Sesekali datang dan berbisik

Istirahatlah, cantik

Saat rambutku hilang helai demi helai
Dan tubuhku semakin lemah terkulai
Saat mereka semua datang dan pergi
Seakan-akan tidak peduli
Sebagian berharap aku mati
Yang lain menganggap aku memang mati

Hanya sebujur jasad menyisa
Dengan sebuah nyawa yang terlupa
Tak bisu namun tak bisa bicara
Hanya padamu lah aku bisa berkata

Aku merindukan cinta
Aku merindukan yang pernah ada
Aku merindukan yang kuharap ada
Mimpi-mimpi yang setengah nyata

Dan engkaupun berkata

Cinta ada
Tak usah kau rindu, karena di hatimu ia berlabuh
Apa yang pernah kau punya akan selalu pergi
Jadi lepaskanlah yang memang tak abadi

Tak ada yang abadi? aku bertanya

Tak ada, terkecuali kita.

Maka kita akan selalu bersama? tanyaku untuk kali kedua

Nanti di suatu masa
Kini belum saatnya
Anggaplah ini janji yang tertunda

Dan kau pergi
Bersama semua yang tadi menggerogoti

Dokter berkata ini mukjizat
Pastur berkata ini sebuah berkat
Aku berkata ini janji yang datang terlambat

Ribuan malam berlalu kembali
Yang hilang berangsur kembali
Sang kala berputar kembali
Dan engkau tak pernah kembali

Kutatap jendela, kulihat mereka tertawa
Sepasang wanita dewasa dan anak mereka
Hasil benihku dan Yosua
Yang lama pergi meninggalkan aku dan mereka
Dua gadis yang kini telah menjadi wanita
Yang hidup untuk terus membagikan cinta

Kudengar gerakan di balik pintu
Aku berbalik menemukan dirimu
Masih terlihat sama tak menua
Saat diriku sudah menjadi wanita renta

Ikutlah denganku, dia berkata
Engkau yang bernama sama seperti Sang Bunda
Yang bernama sama dengan wanita yang dicintaiNya
Kini saatnya kita bersama

Menuntaskan janji yang tertunda? Aku bertanya

Diawabku tanpa kata-kata
Hanya dengan senyum terkulum
Dan pipi belesung