Reminder (from someone who care)

I think I have talked about this before, I can’t remember. I need to dig through my old writings and discussion on Politikana, but I guess I’ll write it again anyway just because of the momentum.

FPI, a real threat of democracy that’s also a bastard child of democracy and facism. Why do I put democracy as one of those that gave birth to FPI? Because it is.

We all used to struggle for the freedom of speech, freedom to form organization and freedom to study everything we want to study. This lead to the freedom to create organization that subtly (okay, that was sarcasm).

Let’s quote:

“Sesuai dengan latar belakang pendiriannya, maka FPI mempunyai sudut pandang yang menjadi kerangka berfikir organisasi ( visi ), bahwa penegakan amar ma´ruf nahi munkar adalah satu-satunya solusi untuk menjauh-kan kezholiman dan kemunkaran. Tanpa penegakan amar ma´ruf nahi munkar, mustahil kezholiman dan kemunkaran akan sirna dari kehidupan umat manusia di dunia.

FPI bermaksud menegakkan amar ma´ruf nahi munkar secara káffah di segenap sektor kehidupan, dengan tujuan menciptakan umat sholihat yang hidup dalam baldah thoyyibah dengan limpahan keberkahan dan keridhoan Allah ´Azza wa Jalla. Insya Allah. Inilah misi FPI.

Jadi, Visi Misi FPI adalah penegakan amar ma´ruf nahi munkar untuk penerapan Syari´at Islam secara káffah.”

( http://t.co/GxKu99Wk )

“”Posisi FPI menjadi semacam Pressure Group di Indonesia, untuk mendorong berbagai unsur pengelola negara agar berperan aktif dalam memperbaiki dan mencegah kerusakan moral dan akidah umat Islam, serta berinisiatif membangun suatu tatanan sosial, politik & hukum yang sejalan dengan nilai-nilai syariat Islam”

(Habib Rizieq, Ketua Umum FRONT PEMBELA ISLAM, 2007).”

( http://t.co/NjhU8umw )

( http://fpi.or.id/?p=tentangfpi&mid=1 )

Okay, “amar ma’ruf nahi munkar” or in English more or less means: “be close to the good and be far from the bad” IS a universal phrase, not limited to Islam as a religion only. But let’s look a bit deeper.

“Jadi, Visi Misi FPI adalah penegakan amar ma´ruf nahi munkar untuk penerapan Syari´at Islam secara káffah.”

“serta berinisiatif membangun suatu tatanan sosial, politik & hukum yang sejalan dengan nilai-nilai syariat Islam”

I don’t think I need to explain more, but the main idea of the group itself is already against Pancasila, the highest source of law of this country.

Because even if we wanna go back to Piagam Jakarta, FPI fail to fulfill the content of that version. Why? Let’s see it through again. On Piagam Jakarta version, sharia’ law only enforced to Muslims. And dare may I ask, are those who has been attacked by FPI 100% Muslims that have to follow the law of sharia’?

No. You can use any kind of survey, but I’m highly sure that the possibility of “punishing the lawbreaker” is way below 100%.

That’s one.

Secondly; “tatanan sosial, politik & hukum yang sejalan dengan nilai-nilai syariat Islam” is also against Pancasila, even in Piagam Jakarta version.

I think it’s elementary, I don’t need to explain more. Just read my point above.

Third. Rizieq’s statement clearly stated that they position themself as the group above the law. A vigilante. Batman or Punisher wannabe. I’m not a lawyer, but that clearly against Indonesian positive law.

It’s against Pancasila, broke gazillion laws and obviously not serving the purpose of “amar ma’ruf nahi munkar” because I fail to see anything “amar ma’ruf” from beating the shit outta people.

Some may say that they help the recovery of Aceh, securing various religious ceremonies, and all that “positive campaign”. Guess what, that doesn’t nullify the infamous violent acts so lot they got its own listing on a Wikipedia article.

I mean, cut the crap. If Aburizal Bakrie build an orphanage, would it make him a saint? Hell no, people would label him as “cari muka”.

Seriously, get real.

These are old news, old facts rewritten, restated, and reposted.

And supposedly, reminding.

I can’t join any demonstration right now while I know my friends are struggling in Bundaran Hotel Indonesia. This is the least I can do.

And let me state this clearly.

FPI is NOT Islam.

Making a move against FPI is NOT making a move against Islam.

A wise man that affect me so much in my life once taught all of his students to: “Tidak membenarkan yang salah, namun tanpa kebencian.”

Be strong, my friends. I hope you all can continue yourt fight without hatred.

Aku Cinta Padamu.

Kritik-tik-tik…. bunyi hujan

(Written some time ago)

Kemarin saya iseng-iseng membaca Kompas minggu dan membaca Panji Koming, komik strip yang sudah lama tidak saya ikuti sejak saya mulai menjauhi segala macam pemberitaan dan geliat politik dan opini yang, jujur aja, membangkitan gairah ingin memukuli anak kecil di mal.

Ya, seperti itulah rasanya melihat orang-orang kita saat ini. Seperti berjalan di mal dan melihat anak kecil obesitas meminta mainan pada orang tua yang uangnya pas-pasan.

Don’t take me wrong, I don’t hate critics. In fact, I AM critisizing right now, I’m not that stupid to create such paradox. Point is, there are differences between a critic and a dick.

Mari kita lihat, masalah Sri Mulyani yang disorot sekilas di Panji Koming. Di sana digambarkan SMI sebagai “pegawai yang bekerja baik dan dilepakan ke luar negeri”. Jujur saja, itu adalah opini publik kebanyakan saat ini, terutama di kalangan intelektual dan pseudo-intelektual.

One million dollar question; WHERE THE FUCK WERE YOU?

Ketika kasus Century sedang berada di puncak trending topic negara ini, ratusan orang berbondong-bondong berbaris di garda depan membawa poster wajah wanita malang ini yang ditambahi taring, darah, dan kalimat-kalimat hinaan, dan kutukan, dan tuduhan. Lalu di manakah kalian, oh pembela orang tertindas dan kaum marjinal? Apakah kalian terlalu disibukkan dengan mencari-cari blunder SBY?

Mungkin memang, SMI adalah tumbal untuk politik negeri ini. Tapi jangan lupa siapa yang melahap tumbal itu.

Kita, publik yang suka marah-marah. Masyarakat yang memanfaatkan kondisi politik sebagai katarsis dengan berbagai macam justifikasi untuk cacian-makian-tuduhan yang dilontarkan pada mereka.

Dan katarsis itu adalah sumber banyak masalah yang menjadi jari yang menyentil domino yang berderet. Setiap masalah cenderung dipandang dari sisi politik dan menjadi basis penentangan maalah tersebut. And where it ends?

No-fucking-where.

Kita terlalu sibuk berdebat ini-itu sampai masalah utamanya terlupakan dan tidak ada penyelesaian yang konkrit. Contoh paling nyata: konflik dengan Malaysia. Tidak pernah ada penyelesaian yang jelas, hanya menyimpan masalah saat ini untuk bahan ad-hominem kalau ada masalah baru lagi.

I mean, come on. Masalah perbatasan ngapain omongan reog masih dibawa-bawa lagi sih? Kita juga nggak sepenuhnya benar kok dalam konflik perbatasan itu. But do we care? No, we just hate them Malaysian.

Hate is also the keyword here.

Benci pemerintah!
Benci tentara!
Benci Malaysia!
Benci SBY!
Benci Orba!

Lalu di manakah semua itu berkhir? Mereka akan berakhir di mana mereka berawal; kebencian. No more, no less.

GM mempunyai quote “adil dalam pikiran”. Rendra juga sering mengajarkan kepada murid-muridnya untuk “tidak membenarkan yang salah, namun tanpa kebencian”.

Lau bagaimana kita bisa memandang sesuatu dengan objektif ketika kita terlalu sibuk berkutat dengan kebencian kita dengan subjek tersebut dan brakhir dengan melepaskan cacian, bukannya kritikan.

Oh tentu saja, kita tidak bisa melepaskan subektifitas dalam membuat suatu pandangan, karena itu manusiawi. Tapi kalau terus-terusan memandang sesuatu dengan kadar subjektifitas tinggi, itu sama saja dengan wanita yang terus-menerus minta dipahami moodnya karena sedang datang bulan.

It’s biological, it’s humane, but SERIOUSLY, WOMAN!

*uhm*

I still got loads to say, but I think I better stop here. This looks like a rant about people who love to rant, let’s take it that way unless you take it as something deeper. Put it this way, I don’t hate disagreement, I just hope that there’s a better way to express it.

To say that I’m a fucking idiot is easy.
To make peope think I’m a fucking idiot is also easy.
To show that I’m a fucking idiot is hard.
To make me accept that I’m a fucking idiot, that takes another kung fu.

Ada bedanya antara kritis dan provokasi tinggal pilih jalannya.

Kritik-tik-tik bunyi hujan

Disclaimer: wrtitten some times ago.

Kemarin saya iseng-iseng membaca Kompas minggu dan membaca Panji Koming, komik strip yang sudah lama tidak saya ikuti sejak saya mulai menjauhi segala macam pemberitaan dan geliat politik dan opini yang, jujur aja, membangkitan gairah ingin memukuli anak kecil di mal.

Ya, seperti itulah rasanya melihat orang-orang kita saat ini. Seperti berjalan di mal dan melihat anak kecil obesitas meminta mainan pada orang tua yang uangnya pas-pasan.

Don’t take me wrong, I don’t hate critics. In fact, I AM critisizing right now, I’m not that stupid to create such paradox. Point is, there are differences between a critic and a dick.

Mari kita lihat, masalah Sri Mulyani yang disorot sekilas di Panji Koming. Di sana digambarkan SMI sebagai “pegawai yang bekerja baik dan dilepakan ke luar negeri”. Jujur saja, itu adalah opini publik kebanyakan saat ini, terutama di kalangan intelektual dan pseudo-intelektual.

One million dollar question; WHERE THE FUCK WERE YOU?

Ketika kasus Century sedang berada di puncak trending topic negara ini, ratusan orang berbondong-bondong berbaris di garda depan membawa poster wajah wanita malang ini yang ditambahi taring, darah, dan kalimat-kalimat hinaan, dan kutukan, dan tuduhan. Lalu di manakah kalian, oh pembela orang tertindas dan kaum marjinal? Apakah kalian terlalu disibukkan dengan mencari-cari blunder SBY?

Mungkin memang, SMI adalah tumbal untuk politik negeri ini. Tapi jangan lupa siapa yang melahap tumbal itu.

Kita, publik yang suka marah-marah. Masyarakat yang memanfaatkan kondisi politik sebagai katarsis dengan berbagai macam justifikasi untuk cacian-makian-tuduhan yang dilontarkan pada mereka.

Dan katarsis itu adalah sumber banyak masalah yang menjadi jari yang menyentil domino yang berderet. Setiap masalah cenderung dipandang dari sisi politik dan menjadi basis penentangan maalah tersebut. And where it ends?

No-fucking-where.

Kita terlalu sibuk berdebat ini-itu sampai masalah utamanya terlupakan dan tidak ada penyelesaian yang konkrit. Contoh paling nyata: konflik dengan Malaysia. Tidak pernah ada penyelesaian yang jelas, hanya menyimpan masalah saat ini untuk bahan ad-hominem kalau ada masalah baru lagi.

I mean, come on. Masalah perbatasan ngapain omongan reog masih dibawa-bawa lagi sih? Kita juga nggak sepenuhnya benar kok dalam konflik perbatasan itu. But do we care? No, we just hate them Malaysian.

Hate is also the keyword here.

Benci pemerintah!
Benci tentara!
Benci Malaysia!
Benci SBY!
Benci Orba!

Lalu di manakah semua itu berkhir? Mereka akan berakhir di mana mereka berawal; kebencian. No more, no less.

GM mempunyai quote “adil dalam pikiran”. Rendra juga sering mengajarkan kepada murid-muridnya untuk “tidak membenarkan yang salah, namun tanpa kebencian”.

Lau bagaimana kita bisa memandang sesuatu dengan objektif ketika kita terlalu sibuk berkutat dengan kebencian kita dengan subjek tersebut dan brakhir dengan melepaskan cacian, bukannya kritikan.

Oh tentu saja, kita tidak bisa melepaskan subektifitas dalam membuat suatu pandangan, karena itu manusiawi. Tapi kalau terus-terusan memandang sesuatu dengan kadar subjektifitas tinggi, itu sama saja dengan wanita yang terus-menerus minta dipahami moodnya karena sedang datang bulan.

It’s biological, it’s humane, but SERIOUSLY, WOMAN!

*uhm*

I still got loads to say, but I think I better stop here. This looks like a rant about people who love to rant, let’s take it that way unless you take it as something deeper. Put it this way, I don’t hate disagreement, I just hope that there’s a better way to express it.

To say that I’m a fucking idiot is easy.
To make peope think I’m a fucking idiot is also easy.
To show that I’m a fucking idiot is hard.
To make me accept that I’m a fucking idiot, that takes another kung fu.

Ada bedanya antara kritis dan provokasi tinggal pilih jalannya.

Lupa?

Sesosok mayat ditemukan mengapung di bundaran HI pagi ini. Dia hanya mengenakan celana hitam, telanjang dada, meskipun begitu TMC Polda Metro Jaya bisa memberikan asumsi bahwa beliau berusia 55 tahun dan kemungkinan mengalami gangguan jiwa. Berita ini memang janggal, bagaimana mungkin seseorang bisa meninggal di bundaran paling ramai se-Jakarta dan tidak ada yang menyadarinya sampai pukul 08.20 (TMC Polda Metro Jaya) yang sebetulnya sudah cukup siang?

Menurut prediksi polisi (dikutip detik.com), orang tersebut meninggal di sisi depan kedutaan Amerika, yang saya bisa konfirmasi karena kebetulan saya melintas ketika mayatnya dievakuasi, yang jarang dilintasi pada pagi hari. Sedikit aneh, karena di sisi itu pula lah sebuah pos polisi besar berdiri.

Siangnya, pihak kepolisian melakukan reka ulang penemuan mayat tersebut. Bersamaan dengan itu, sejumlah demonstran sudah berkumpul untuk berdemo di siang harinya dengan mengacuhkan keberadaan polisi di situ. Apakah demo lalu berjalan? Entahlah. Tapi saya rasa kita semua bisa berasumsi bahwa demonstrasi akan tetap berjalan apapun yang terjadi.

Seperti Jakarta terus beraktifitas di hari ini.

Sebuah komedi yang kelam, memang. Bahkan saya yang melihat jalannya kisah ini berharap bahwa ini hanyalah salah satu cerpen satir yang diterbitkan di koran-koran minggu untuk menyindir betapa dinginnya kota ini. Tapi tidak, kota ini MEMANG dingin.

Kenyataan bahwa seseorang meregang nyawa tanpa identitas, tanpa keluarga, bahkan tanpa berita, di tengah kota tempat kita tinggal tidak membuat kita (termasuk saya) berhenti membicarakan video porno atau pengungsi perang yang kurang makan di negeri nun jauh di sana.

Kita lupa, bahwa kita saat ini mungkin sedang dijajah. Dijajah akan amnesia akan sejarah diri sendiri, bahkan ketika kita sedang menjalaninya. Bahwa banyak dari antara kita yang melupakan (atau tidak menyadari) bahwa Dewan yang kita pilih untuk mewakili kita sedang sibuk dengan anggaran-anggaran pemborosan. Kita lupa bahwa kita masih punya seorang buron tersangka korupsi di negara tetangga, negara yang sama yang melindungi pembunuh seorang putra bangsa yang berkuliah di sana.

Kita lupa bahwa saudara sebangsa (dan mungkin seagama, kalau kalian suka) kita banyak yang harus mengungsi tanpa rumah, tanah, atau kehidupan yang layak. Dan mereka masih dalam pulau yang sama dengan kita.

Kita lupa bahwa “kejahatan kemanusiaan” yang dilakukan bangsa lain itu juga dilakukan oleh bangsa kita. Dan beberapa tersangka berbagai “kejahatan kemanusiaan” itu masih bebas berkeliaran dan bahkan tersenyum tertawa-tawa berpolitik ria.

Apakah kita ingat?

Tidak usah “peduli” atau melakukan gerakan sejuta facebookers untuk menunjukkan memori kita akan kasus-kasus itu. Apakah kita masih ingat tanpa harus diingatkan. Tidak usah mengingat-ingat nama yang susah-susah semacam para mahasiswa yang meninggal di tragedi semanggi. Apakah kita masih mem-pahlawankan seorang Udin seperti mereka yang dulu menuntut keadilan atas meninggalnya dia yang pergi saat sedang mencari kebenaran? Ataukah kita terlalu sibuk mem-pahlawankan seseorang yang membongkar dosa teman-temannya ketika dia terpojok?

Mungkin kita terlalu sibuk menjadi “up to date”, mungkin.

Dan ketika seorang “gembel tua sakit jiwa” pergi melepas deritanya di dunia yang katanya fana, kehidupan terus berjalan. Karena seperti kamu, saya, dan mereka, sekali berlalu maka kita akan terlupa.

–di tengah kemacetan Tomang, ditemani bakpau.

Consistency!

Indonesia itu bikin bingung. Penjahat kemarin, pahlawan hari ini. Kasus-kasus datang silih berganti yang -katanya- pengalihan isu. Susno, cicak, buaya, anggodo, apalah itu namanya.

Bikin capek.

Tapi ada uang lebih lucu juga dari sana yaitu “pengalihan isu” yang tadi disebutkan. Apakah memang ada pengalihan itu, atau memang sudah ada auto-distraction dari mentalitas orang-orangnya sendiri? Let’s see the most obvious example; democracy. Dulu semua orang menuntut kebebasan berpendapat, berbicara, berkumpul dan berorganisasi. Dulu juga orang-orang itu menuntut agar Presiden tidak menjadi diktator, “batasi kekuasaannya”. Dan voila, kun faya kun.

Lalu?

Saya yang jujur aja, nggak berjuang di era itu ya nerima-nerima sajalah apa yang sejarah berikan kepada saya. It’s not like I have any other choice, am I?

Tapi memang dasarnya orang nggak pernah puas (atau dulu minta tanpa pikir panjang), sekarang banyak yang tanpa sadar menuntut pengembalian kondisi seperti dulu.

Bukan, bukan pengembalian dollar menjadi hanya 2500 rupiah. Tapi pengembalian kekang untuk kebebasan dan diktatorisme.

Lho?

Ya, memang begitu adanya. Percaya atau tidak, fundamentalis agama menjadi semakin kuat selepas reformasi. Tidak ada tangan besi “stabilitas” yang membuat mereka takut menuntut macam-macam. Dan ketika kita meminta ruang gerak mereka dibatasi, kita juga ada di lubang yang sama dengan mereka yang menghalangi kebebasan beragama (atau tidak beragama) dan menuntut pembatasan ruang gerak mereka sama saja melakukan apa yang mereka lakukan.

Say, UU mengenai poligami. Ada beberapa yang memang percaya itu adalah legal menurut agamanya. Jadi kalau kita menghalangi itu, bukankah kita sama saja dengan mereka menghalangi kita untuk membicarakan atheisme?

Tapi ya sudahlah, itu memang paradoks yang diwariskan dari tahun 1945. Kita sih tinggal gontok-gontokan hari ini dan berharap sisi kita yang menang. The least we can do is to admit, we can’t accept freedom that against our value.

Dan soal presiden… Ini udah saya ungkit di status facebook sih, yang kayaknya udah jarang yang mudeng. Setiap ada masalah, kita meminta presiden untuk turun langsung membenahinya. Let’s say, Bibit-Chandra, atau masalah Koja. Tapi apalah kita lupa kalau ada yang namanya sistem yang membatasi kemauan presiden? Jikalaupun dia mau menembak mati Anggodo, dia tidak bisa melakukannya tanpa menjadi seorang diktator.

And do we want that? I don’t. I don’t want a president that messing around with the system to make himself limitless. Entah kalau anda.

Kalau mau demo masalah ini yah silahkan saja, mumpung kasusnya lagi hype lagi dan semua orang mengalihkan matanya ke sana.

HIDUP AKTUALISME!!!

*uhm*

Cuma yah kali ini tolong jangan demo presidennya. Saran aja sih, soalnya kelihatan rada gimana… gitu. Demo MA kek, KY kek, biar jelas menuntut masalah perhukuman, bukan pemerintahan. Dan kalau bisa, nggak usahlah nyalah-nyalahin SBY melulu, kalian yang minta presiden yang bukan diktator dan taat hukum kan? Konsisten lah. Jangan bidik target yang paling gede karena gampang, okay?

-Tepi jalanan kisaran Gandaria, ditemani macet, bakpau, dan Black Menthol.