“Cewek Banget”

Apa yang membuat gue sedih selama beberapa minggu belakangan ini adalah bagaimana gue tersadar betapa keras macho culture tertanam di pikiran kita tanpa kita sadari. Bahwa kita melihat laki-laki kemayu, laki-laki dandan, atau apapun yang “banci” sebagai “salah” karena mereka terlihat ingin menjadi perempuan; gender yang ditindas.
 
Mungkin terdengar terlalu kejam kalau gue ngomong seperti itu, tapi coba kita pikirkan; ketika perempuan mengenakan celana mereka dianggap sebagai pihak yang “empowered”, lebih dominan dibanding perempuan yang masih mengenakan rok. Sebaliknya, tidak usahlah kita bicara mengenai pria yang mengenakan rok, v-neck yang terlalu turun pun sudah dikomentarin: “melambai banget jadi laki”.
 
Melambai itu konon salah karena itu tidak manly, tidak “kuat”, tidak “dominan”, dan…
 
“Cewek banget.”
 
Omongan “cewek banget” dengan nada mengejek ini bukan sesuatu yang hanya dikatakan laki-laki ke laki-laki lainnya, tapi juga sangat sering diucapkan oleh perempuan, tanpa sadar bahwa mereka sedang merendahkan diri sendiri di saat bersamaan.
 
Dan ini baru ngomongin baju, belum ngomongin stereotip lain semacam bergosip, lama mandi, apalah-apalah.
Karena laki-laki selalu dianggap sebagai simbol kekuatan dan dominasi; maka perempuan adalah sosok yang dianggap sebagai simbol submisi, pasif, mereka yang harus ditindas dan diatur.
 
Pemikiran ini sudah terpatri kuat di pikiran kita sejak kecil sampai sekarang sehingga kita menerima saja fakta tersebut tanpa bertanya banyak.
 
Dan memandang aneh ketika seorang laki-laki memutuskan tinggal dan bekerja di rumah untuk lebih banyak menjaga anak karena istrinya memiliki pekerjaan yang lebih padat.
 
Dan memandang aneh ketika seorang perempuan memutuskan untuk fokus bekerja dan tidak berkeluarga.
 
Dan menerima begitu saja saat seorang istri berhenti dari pekerjaan dengan posisi tinggi untuk “ikut suami”.
 
Beranggapan bahwa suami harus berpenghasilan lebih tinggi dari istri, yang mengakibatkan konflik yang sebenarnya tidak perlu di rumah tangga.
 
Pola pikir inilah juga yang membuat perang gender nggak penting dan berujung anggapan bahwa feminisme itu adalah semacam balapan siapa yang lebih dominan; bahkan di kalangan beberapa feminis yang gue kenal.
 
And it’s sad, really. Karena ini sebetulnya bukan perkara dominasi-submisi, tapi perkara bahwa semua orang, apapun jenis kelaminnya, memiliki kesempatan yang sama di masyarakat untuk menjadi dan melakukan hal yang mereka inginkan. Terlalu banyak perempuan yang kehilangan kesempatan karena stigma berdasarkan kelamin dan terlalu banyak laki-laki yang depresi karena ego yang sebetulnya tidak berharga apa-apa.
 
All in the name of “kamu perempuan” dan “kamu laki-laki”.
 
Ini semua sudah terlalu melebar. Mari kita kembalikan ke awalnya yang sederhana dengan berhenti mengatakan “lo cewek banget deh” sebagai ejekan kepada laki-laki.
 
Karena jadi perempuan itu bukan sesuatu yang salah, ataupun terhina.
 
Selamat Hari Perempuan Internasional.

Between Boss and Leader

(Last post from previous Pilpres, seriously)

Selama pilpres ini, wacana yang sering berkembang dalam perbandingan Jokowi vs Prabowo adalah yang satu “pemimpin” sedangkan yang satu adalah “pekerja” dan menurut gue, itu 50% benar. Tentu saja ini bias karena preferensi politis gue, tapi biarkan gue jelaskan dulu.

Alkisah di suatu masa waktu gue kelas 2 SMP, ada seorang kepala sekolah baru bernama Pak Ating. Dia adalah seseorang yang tahun sebelumnya tidak mengajar di sekolah gue, benar-benar baru dan di-assign untuk memegang posisi tersebut. Beliau memiliki satu kebiasaan yang menurut gue sangat jarang dimiliki orang di posisinya; selalu datang jam setengah 6 dan menyapu halaman sekolah, bahkan mendahului cleaning service sekolah gue.

Apakah ini adalah perilaku “pekerja”? Menurut logika kebanyakan orang dalam memandang Jokowi saat ini: iya. Tapi di mata gue, Bapak Ating ini adalah sosok pemimpin yang pertama kali gue temukan di lingkungan luar rumah (sosok pertama adalah Eyang Kakung gue, cuma itu kita bahas lain kali saja lah). Kenapa gue mengatakan beliau adalah “pemimpin”? Karena beliau menunjukkan bahwa kita bisa memimpin tanpa memerintah. Seiring waktu berjalan, mulai banyak murid yang datang lebih awal dan melaksanakan piket pagi karena merasa malu kalau “kalah” sama seseorang tua yang jabatannya ada jauh di atas mereka. Tidak semua murid melaksanakannya tentu saja, namun beliau telah melahirkan sejumlah murid yang memiliki keasadaran dan inisiatif melalui sikapnya.

Secara umum, ada dua jenis authorities yang gue temui sepanjang hidup: yang “leading by order” dan yang “leading by example“. Keduanya gue temui dalam beberapa kesempatan berbeda di berbagai posisi berbeda, mulai dari pemegang jabatan di kantor sampai sekedar pemimpin di rumah tangga maupun yang seremeh pacaran. Lho iya, bahkan di dalam pacaran pun biasanya ada satu pihak yang lebih memiliki kuasa dibanding satunya, sama kayak suami-istri, cuma levelnya jauh lebih rendah.

Tapi dalam interaksi-interaksi leaders-followers ini gue bisa lihat bagaiana cara mereka menangani situasi dan konflik, serta cara mereka memimpin. Kadar mungkin berbeda, tapi mindset dasar tetap sama.

Bapak Ating dan Jokowi adalah contoh “leading by example“. Tentu saja mereka bisa (dan akan) memberikan perintah dengan menggunakan hak mereka sebagai seseorang dengan kuasa, tapi mereka tidak akan semata menyuruh saja, mereka juga akan memberikan contoh dan menunjukkan kepada orang yang mereka pimpin kalau “gue nggak cuma nyuruh-nyuruh lho, gue juga kerja”.

Atau mari gunakan analogi yang lebih sederhana.

Dua keluarga pulang mudik; di keluarga A si bapak duduk di depan memegang kemudi mobil sepanjang perjalanan sambil sesekali meminta tukar dengan anaknya yang paling dewasa kalau capek, sementara di keluarga B si bapak duduk di belakang karena sudah menyewa supir untuk perjalanan ini.

Bapak di keluarga A dan B sama-sama “pemimpin”, jelas. Tapi kedua bapak ini menggunakan otoritas mereka dengan cara yang berbeda. Apakah kalian bisa mengatakan bahwa bapak di keluarga A itu adalah “pekerja” karena dia mengerjakan hal yang sesungguhnya bisa dilaksaakan oleh orang lain juga? Nggak usah dijawab, direnungkan aja. Kalau setuju kalo dia semata “pekerja” ya nggak apa-apa juga lagian.

Di mata gue, perbedaan approach inilah yang membedakan antara “leader” dan “boss”.

Sedihnya kita terlalu terbiasa dengan stamp pemimpin yang baik adalah mereka yang keras; yang otoriter. Dimulai dari jaman sekolah, kita takut dengan guru killer yang galaknya minta ampun, di kantor kita takut berbuat salah karena atasan bisa marah-marah, kita terbiasa dipaksa menurut dengan ancaman bahkan dari jaman kita masih bercelana merah.

Makanya banyak dari kita yang mudah terbutakan oleh image besar dan tegap, image menjajah, lupa bahwa kepemimpinan itu bisa dilaksanakan melalui cara-cara lain.

Lalu kembali ke Jokowi dan Prabowo, gue tidak akan menyangkal bahwa Prabowo memiliki kualitas untuk memimpin, namun di saat yang sama gue juga akan mempertahankan pandangan gue bahwa Jokowi juga memiliki kualitas seorang pemimpin. Keduanya memiliki cara yang berbeda, tinggal kita yang memilih mau yang mana.

– M

Kita Seharusnya Tidak Mendukung Jokowi

(Pilpres beneran membuat gue produktif menulis ya)

“Ngapain sih ngepost capres melulu? Lo pikir dia dewa yang harus dipuja-puja? Ngapain ngomongin kejelekan Prabowo, emangnya Jokowi sempurna?”

Omongan ini selalu membuat saya tertawa miris. Banyak relawan Jokowi yang bersikap memuja seolah dia bisa menyelesaikan semua masalah di negara ini dengan mudahnya, pun para skeptis yang cenderung ingin golput yang muak dengan segala puja-puji berlebihan dan hinaan yang sama berlebihannya.

Kenapa tertawa miris? Karena seperti sudah saya tulis sebelumnya, pemujaan ini adalah mentalitas yang sesungguhnya harus direvolusi.

Teman-teman yang berpihak pada Jokowi serta teman-teman yang masih berada di tengah, saya ingin memberikan satu pernyataan yang menurut saya harusnya sudah jelas:

Jokowi tidak sempurna, dia manusia dengan banyak cela. Dan kita harusnya tidak mendukung dia.

Pun dia bukan juru selamat, satrio piningit, atau apalah itu. Dia manusia biasa seperti kita yang kebetulan memiliki etos kerja dan itulah yang membuat dia layak dipilih. Betul, layak dipilih, bukan didukung. Pola pikir kita selama ini sudah dibentuk bahwa presiden itu adalah seseorang yang kita angkat ke atas untuk kemudian memerintah negara ini.

Salah.

Presiden adalah pemimpin, benar. Namun posisi presiden dalam hirarki kenegaraan ada di bawah warga negara. Maka dari itu, kita tidak mendukung mereka untuk naik, kita memilih mereka untuk bekerja. Ingat, presiden adalah seorang pejabat negara yang kita gaji, dia bukan raja, kaisar atau sultan, presiden adalah pegawai.

Oleh atas dasar inilah saya memilih untuk membantu Jokowi agar dia terpilih. Saya tidak mendukung dia yang secara harfiah berarti saya menaruh posisi saya di bawah dia dan mendorong dia agar terangkat, namun saya menjalankan kewajiban saya sebagai warga negara untuk memilih pimpinan eksekutif negara ini.

Warga negara, bukan rakyat. Karena saya masih memiliki kebanggaan diri sebagai seorang manusia, maka saya menolak menyebut diri saya sebagai “rakyat kecil”.

Jokowi adalah pemimpin yang melaksanakan pola “lead by example“, saya sudah menjelaskan itu. Di sinilah kunci yang membedakan dia dengan calon satunya. Pola pikir dan pola pimpin bekerja-bukan-memerintah ini menunjukkan bahwa dia tidak kebal kritik, malahan mungkin dia membutuhkan kritik dari warga negaranya agar dia bekerja lebih baik.

Pola pimpin “lead by example” serta ide besar “revolusi mental” inilah yang membuat saya berpikir bahwa mungkin bisa ada perubahan, sekecil apapun itu, di pola hidup masyarakat. Karena “revolusi mental” ini bertujuan untuk membuat setiap manusia menjadi berdaya dan mampu melakukan perubahan atas dirinya sendiri namun tetap bertanggungjawab karena memiliki sense of belonging terhadap negara.

Ini sedikit-banyak utopis, tapi ini adalah ide yang menarik untuk dicoba diimplementasikan.

Hal inilah yang menurut saya membuat banyak aktivis yang sebelumnya sangat apatis terhadap pemerintahan bisa bergerak merapat ke Jokowi. Karena saat Jokowi terpilih maka oposisi, baik dalam pemerintahan ataupun di masyarakat, tetap terjamin keberadaannya. Dan mereka-mereka yang berada di sisi Jokowi, sekarang maupun nanti, memiliki hak dan kewajiban untuk mengkritisi kerja presiden yang mereka pilih.

Karena pilpres ini tidak bertujuan mencari orang yang sempurna, hanya mencari yang lebih cocok dengan kebutuhan kita sebagai warga negara.

– M

(credit untuk seorang wartawan penuh mudharat yang kadang ada manfaatnya yang pemikirannya saya pinjam sedikit)

Berhenti Membenci Lawan, Mulai Menyukai Kawan

(Juga ditulis saat panas-panasnya Pilpres)

“I was once asked why I don’t participate in anti-war demonstrations. I said that I will never do that, but as soon as you have a pro-peace rally, I’ll be there.” – Bunda Teresa.

Gue teringat quote ini tadi pagi di perjalanan menuju kantor saat memikirkan keberpihakan gue dalam capres kali ini. Stance gue adalah “anti Prabowo”, suara gue didorong oleh ketidaksukaan gue terhadap dia dengan segala alasan yang gue rasa harusnya sudah self-explanatory dan tidak perlu gue ulang-ulang terus. The quote struck me because this whole election fiasco has pull the positivity away from me. Maybe I should set aside my hate towards Prabowo and think about why I should vote for Jokowi, aside from he’s the lesser evil and the enemy of my enemy.

See? I start to sound like George Fucking Bush. Let’s move away from that.

Jokowi menginginkan perubahan, revolusi mental, seperti yang pernah gue singgung di tulisan gue sebelum ini. Dan gue teringat sama sebuah desa utopia di jaman Orba, desa Sukamaju. Ada yang masih inget nama desa yang selalu ada di setiap buku pelajaran Bahasa Indonesia dan PMP ini?

Desa Sukamaju ini adalah Indonesia ideal di mata Orba. Namun lepas dari propaganda mereka, ada satu hal yang menurut gue bagus untuk dikenang: “gotong royong”.

Ya, warga Desa Sukamaju selalu bergotong-royong dalam menyelesaikan masalah, mulai dari bekerja bakti, membantu tetangga yang kesulitan, membangun fasilitas umum, semuanya dikerjakan bersama-sama dan dirawat bersama. Setiap warga memiliki sense of belonging kepada desa tersebut, maka dari itu semua warga merasa bertanggungjawab terhadap desa tersebut.

Utopis gila-gilaan, tapi ini adalah identitas “Indonesia” yang diidentikkan dengan Pancasila, dan inilah identitas “Indonesia” yang semakin hilang semakin hari berjalan.

Tapi itulah yang perlahan gue rasakan setiap gue menelaah isi kampanye Jokowi. Dia mengajak merevolusi pola pikir kita, mengembalikan rasa memiliki itu. Dia menginginkan politik yang bertanggungjawab karena kesamaan visi, bukan karena transaksional. Revolusi mental yang dia kemukakan tidak hanya untuk memperbaiki negeri ini, tapi juga untuk memperbaiki diri kita sendiri dengan mengembalikan rasa memiliki itu.

Maka dari itu dia membuka rekening untuk menerima sumbangan dari para pendukung, agar setiap pergerakan yang dia lakukan didanai langsung oleh orang-orang yang percaya akan dia, agar pergerakan kampanye ini bukan menjadi kampanye “Jokowi-JK”, tapi menjadi kampanye “kita semua”.

Maka dari itu juga dia tidak menukar dukungan dengan janji-janji politis. Tidak ada posisi menteri yang dipersiapkan untuk parpol pendukung; praktek politik yang umum dilakukan di sini selama bertahun-tahun. Posisi menteri disediakan untuk mereka yang benar-benar mampu dan mau. Menteri berharga karena apa yang mereka bisa lakukan, bukan karena asal partai mereka.

Dan karena ini gue merasa tertarik untuk memberikan dukungan, melalui bilik suara maupun melalui tulisan, karena gue merasa kampanye ini menghargai manusia sebagai manusia, bukan sebagai statistik.

Gue bisa salah menilai, manusia tentu saja bisa berkhianat, tapi yang jelas sekarang gue merasa nyaman. Setelah melihat apa Jokowi janjikan, gue bisa mulai berhenti berpikir untuk membenci lawan dan mulai berpikir untuk menyukai kawan. Dan gue rasa ini jauh lebih sehat

– M

Baju Batik, Distro, dan “Indonesia Banget”

Jadi kemaren ada buzzer pendukung Prabowo yang nyindir soal baju kotak-kotak Jokowi yang kayak dibeli di distro. Nggak usah sebut nama lah, most of us know who he is and he’s not significant anyway. Yang menjadi sorotan gue adalah istilah “baju distro” yang seolah-olah tidak ada keren-kerennya, padahal menurut gue baju distro adalah sesuatu yang memiliki nilai ke-Indonesia-an tersendiri.

Mari kesampingkan pilpres dan segala embel-embel yang menyertainya. Mari fokus sama baju distro saja.

“Indonesia banget” adalah label yang sering kita kenakan kepada sesuatu dengan nilai-nilai budaya tradisional tinggi. Misalnya wayang, batik, dan… ya biasanya wayang dan batik aja karena banyak dari kita yang tahu Indonesia hanya segitu aja.

Padahal ada sesuatu yang menurut gue lebih menarik dari sekedar penampilan, sesuatu yang lebih dari sekedar “kulit”. Iya, batik dan wayang itu hanyalah kulit dengan nilai-nilai yang baru bisa kita rasakan saat kita telaah lebih dalam. Indonesia kuno (yang technically speaking belum “Indonesia”) adalah area dagang, berada di antara dua laut dan dua benua, dan kita ulang pelajaran IPS jaman SD yadda-yadda. Anyway, gue cuma pengen bilang bahwa batik adalah fashion di jamannya dulu, dengan desain yang mengadaptasi berbagai budayayang datang dan pergi di kepulauan ini; mulai dari India, Hindu-Buddha, Persia, dan seterusnya. Ada akulturasi budaya di dalam batik, dan itulah yang menurut gue menjadi esensi “Indonesia”.

Pada akhirnya sekarang batik sudah menjadi simbol semata. Nilai sejarah dan budayanya sudah mulai dilupakan dan direduksi menjadi hanya “motif batik”. Lepas dari banyaknya usaha untuk melestarikan ini dan usaha untuk meneruskan pengetahuan mengenai batik, pertanyaannya adalah: apakah batik adalah “Indonesia”?

Gue nggak setuju. Batik adalah bagian dari Indonesia, namun bukanlah Indonesia secara keseluruhan. Nilai-nilai yang terkandung di dalam batik itulahyang mendefinisikan Indonesia. Bukan kulitnya, namun isinya. Maka ketika sekarang batik abal-abal impor dipromosikan sebagai “produk nasionalis” ya gue tinggal menghela nafas aja.

Lalu apa hubungannya dengan baju distro?

Seiring gue makin… tua (meskipun belum 30, but hey), gue selalu senang melihat entrepreneurship. Dan distro ini adalah bentuk entrepreneurship paling mudah dan umum untuk anak-anak muda yang ingin memulai bisnis untuk nambah duit dan/atau sekedar mau melepas diri dari bayang-bayang orangtua. Ini adalah ruang kreatif yang pada awalnya diremehkan dan akhirnya menjadi sebuah industri tersendiri.

Dan industri ini adalah salah satu industri yang benar-benar “lokal”. Beberapa distro memang menjual produk luar, namun mereka juga memiliki produk sendiri yang didesain sendiri, diproduksi sendiri, dijual sendiri, memberikan lapangan pekerjaan untuk masyarakat lokal.

Dengan logika ini, industri ini menurut gue malah lebih “nasionalis” dibandingkan dengan mengibarkan batik secara asal tempel. Membeli barang distro berkualitas itu secara tidak langsung menyumbang kepada produsen lokal untuk menghasilkan produk lokal yang bagus secara berkesinambungan.

Maka dari itu, cobalah sedikit lebih mencintai barang distro. Dan cobalah sedikit lebih berpikir sebelum measangkan label “Indonesia banget” ke sesuatu.

Udah gitu aja sih, hehe.

– M

Jatuh Cinta Itu Bisa Biasa Saja

(Ditulis di tengah panasnya Pilpres 2014)

Politik sedang panas belakangan ini, dan gue adalah salah satu yang terjerumus ke dosa politik itu. Harus gue akui, gue punya masalah lumayan major dengan Prabowo, dan gue minta maaf kalau sering kepancing komentar dengan emosi. Padahal seperti judul tulisan ini, jatuh cinta (dan benci) itu bisa biasa saja.

Kemarin Joseph (yang menginspirasi judul artikel ini, btw) mengingatkan bahwa jatuh cinta (kepada Jokowi) itu bisa biasa saja. Dan pagi ini gue baru sempat menonton pidato Jokowi di Rakernas Nasdem yang juga cenderung biasa saja (meskipun menyenangkan ditonton).

Tapi di pidato ini gue melihat satu hal yang menarik. Pernyataan dia soal “revolusi mental”. Sesuatu yang kurang-lebih isinya:

“Percuma kita punya infrastruktur baik kalau kita tidak punya mentalitas yang baik.” – Jokowi.

Dan itu mengembalikan gue ke pemikiran lama gue bahwa kita memang punya masalah mentalitas yang membuat banyak orang mendukung Prabowo. Semua orang beranggapan bahwa mentalitas bangsa yang rusak ini bisa bener kalau pemimpinnya ditakuti.

Meskipun gue nggak setuju, itu bisa sangat dimengerti.

Mentalitas apa sih yang bermasalah? Coba kita ingat, apa yang sudah dibangun selama ini kan jarang banget yang dirawat, kita sering ngelunjak dengan segala fasilitas yang diberikan pemerintah. Pun kita punya kebiasaan untuk mengekor secara membabi-buta sampai sering lupa menegur atasan, dan ketika sang atasan mengecewakan, semua orang langsung lompat ke hate-train sebagai barisan sakit hati.

Satu alasan kenapa orang Jakarta sering ngeluh soal Jokowi kerjanya nggak beres, Jakarta masih macet dan banjir, masih ini dan masih itu, harapan tidak sesuai kenyataan dan seterusnya.

Sebagai orang yang sehari-hari bekerja dan hidup di Jakarta, gue bisa bilang bahwa sebagian besar masalah itu ada di mentalitas juga. Kita masih terbiasa melanggar aturan, nyuri lampu merah dikit-dikit, lawan arus dikit-dikit, ngetem dikit-dikit, naik trotoar dikit-dikit, buang sampah sembarangan dikit-dikit. Kebiasaan kecil yang saat dilakukan secara kolektif memberikan andil besar kepada chaos kota ini.

Dipadu dengan kebiasaan mengekor yang keterlaluan, jadilah itu masalah yang lebih besar.

Pembangunan image Soekarno sebagai “pemimpin kemerdekaan” membuat kita terbiasa dengan sosok “sang juru selamat” seolah-olah pemimpin yang kuat adalah satu-satunya yang kita perlukan untuk mencapai kemerdekaan. Dan ini bercampur dengan kepemimpinan Soeharto yang otoriter, membuat kita terbiasa manut kepada “pemimpin” dan membiarkan “pemerintah menangani semuanya” karena membantah adalah subversif.

Ini membuat peran kita kita sebagai “warga negara” direduksi menjadi “rakyat kecil”. Kita menjadi another brick in the wall, bergerak hidup rutin menghidupi keluarga tanpa perlu ngurusin negara. Dan di sisi lain kita menjadi orang-orang manja yang merasa hidup itu sudah cukup karena semuanya diurusin negara, we took this country for granted, dan kita menjaga apa yang ada semata karena sistem dan ketakutan dengan pihak yang memiliki kewenangan mengatur negara.

Seperti murid yang nggak berani nyontek karena takut ketahuan, bukan karena mau mengukur kemampuan dan pengetahuan.

Lalu 1998 terjadi, kita kehilangan sosok otoriter tersebut dan kita kembali hidup tanpa rasa tanggung jawab kepada negara, tapi kali ini juga tanpa rasa takut dan menghasilkan banyak dari kita jadi seenaknya sambil mengharap datang Soeharto atau Soekarno berikutnya yang akan membereskan masalah negara ini dan kita bisa hidup dengan diurusin “sang juru selamat”.

Gue lihat, mentalitas inilah yang di mata Jokowi perlu direvolusi dan ironisnya mayoritas pendukung Jokowi justru melihat dia sebagai juru selamat itu.

Kepada para pendukungnya, tolonglah, dia bukan juru selamat, satrio piningit, atau apalah itu. Dia cuma orang yang berasal dari bawah kayak kita dan mau bekerja sampai terdorong ke atas secara politis. Dia tidak spesial, dan itulah kelebihan dia. Maka dari itu, jangan perlakukan dia seolah dia sempurna dan spesial. Jokowi berkampanye dengan menundukkan kepala, kalian tidak perlu menunduk lebih rendah untuk menjadi pijakan dia. Coba biasa saja.

Berhentilah mencari juru selamat karena juru selamat itu tidak ada. Hanya kita yang bisa menyelamatkan diri kita sendiri melaui apa yang kita lakukan di keseharian. Berhentilah bergantung kepada pemimpin, karena kita ini manusia yang berdaya. Siapapun yang naik nantinya, kita bisa maju karena kita maju sama-sama, bukan karena diangkat satu-dua manusia.

Saya menulis ini tidak untuk mengajak kalian mendukung Jokowi atau Prabowo. Kita semua punya pilihan masing-masing dan saya (mencoba) menghargai itu. Tapi siapapun pemimpin yang kalian pilih, coba pikirkan mengenai revolusi mental ini, karena tanpa perubahan di sana sampai kapanpun kita sebagai bangsa tidak akan bisa maju.

28 Mei 2014

Satu, Sebagian, Semua

Hingar-bingar PKS (dan semacamnya) ini lucu, kalau belum memuakkan. Tapi dari semua ini ada satu hal yang membuat gue selalu merasa terganggu, yaitu seolah bahwa anti PKS = anti Islam.

Let’s cut it short, no.

Mungkin ada yang lupa logika dasar, tapi mari kita telaah secara sederhana:

Apakah PKS adalah bagian dari Islam? Ya. PKS adalah partai politik berdasarkan Islam, tentu saja sebagian besar (kalau tidak mau dibilang seluruh) anggotanya adalah penganut agama Islam yang ingin menjalankan hidup berdasarkan aturan agamanya. Maka bisa kita bilang bahwa PKS adalah bagian dari Islam.

Apakah PKS adalah Islam? Tidak. PKS (seperti juga parpol lainnya), bukanlah representasi Islam secara menyeluruh karena tidak semua umat Islam di Indonesia memilih atau merupakan anggota PKS. Pun, tidak semua orang yang taat beragama Islam memilih PKS. Maka suara PKS bukanlah suara umat Islam di seluruh Indonesia.

Simpel kan?

Udah gitu aja sih, dari sini sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa:

  • Anti PKS tidak sama dengan anti Islam.
  • Kalau ada kader PKS yang korupsi, yang korupsi adalah manusia yang kebetulan beragama Islam, bukan Islam per se.
  • Kalau ada kader PKS yang poligami, bukan berarti semua lelaki Islam berpoligami.
  • (isi sendiri sesuai logika)

Kenapa pake PKS sebagai contoh? Karena lagi panas aja sih, mau diganti PKB, PAN, PPP, nggak masalah karena logikanya nggak berubah. Agamanya diganti dan nama partainya disesuaikan juga bisa kok.

Intinya sih, jangan merasa tersinggung kalau ada yang menghina partai berbasis agama, yang dihina partainya karena kelakuannya kok, bukan agamanya.

Begitupun sebaliknya.

Kalau ada orang dari parpol berbasis agama melakukan hal negatif, yang dihina orangnya, jangan agamanya.

Logis kan?

Akur ya?

Akur…

(ini sih kenapa gue ga suka agama dan politik dicampur)

(originally posted on