Late Night Show

Handphone itu tergeletak di atas meja plastik berwarna oranye yang dikelilingi tiga orang berbaju hitam-hitam, dua orang laki-laki berambut panjang dan seorang wanita. Lelaki pertama bertubuh tinggi dengan bahu lebar namun kurus, kaosnya yang berkerah longgar menampilkan tulang-tulang yang menonjol dari balik kulitnya yang pucat kontras dengan warna hitam choker kulit yang melingkari lehernya. Sementara lelaki kedua bertubuh lebih kekar, meskipun sedikit lebih pendek dari lelaki satunya, dengan rambut hitam panjang yang terurai lurus sampai ke batas belikat.

“Gue nggak ngerti mau dia apa,” ujar satu-satunya wanita di antara tiga orang itu. Rambutnya digelung di atas kepalanya dengan ditahan sepasang sumpit.
“Mau… telat?” jawab lelaki yang bertubuh kurus.
“Ya itu gue juga tahu sih Ron. Nggak usah bercanda deh, gue lagi kesel nih.”

“Sabar Lin,” lelaki yang lebih kekar menepuk bahu wanita itu sambil tersenyum tipis. “Elu kayak nggak tahu Dio aja.”
“Ya karena gue tahu, Ricko! Udah bertahun-tahun ngeband masih gini aja kelakuannya. Taik banget, tahu nggak sih?”

“Dia nggak telat karena nganter-nganterin itu cewek kan?” ujar Aylin, wanita berbaju hitam itu.
“Nggak kok, saya lihat Fira sudah di studio dari tadi,” jawab lelaki kurus yang dipanggil dengan nama Ron.
“Terserah dia deh,” Aylin berkata sambil berdiri dengan tiba-tiba sampai bangku yang didudukinya jatuh. Dia menendang bangku itu dengan seoatu boot tebalnya dan pergi meninggalkan ruangan tempat mereka berbicara itu.

“Kamu mau ke mana, Aylin?” potong lelaki separuh baya dengan rambut belah tengah kecoklatan yang mendadak muncul dan berdiri menghalangi pintu keluar ruangan itu.
“Bukan urusan lo,” jawabnya sambil mendorong lelaki itu minggir.

Lelaki berambut kecoklatan itu menoleh ke arah Ricko, alisnya terangkat dari balik kacamata hitamnya.

“Paling ngerokok, Mas Yos,” seloroh Ricko menjawab pertanyaan non-verbal lelaki itu.
“Dio mana?”
“Entah, katanya mungkin telat.”

“Kebiasaan. Ya udah, nanti main tanpa dia sekalian. Si Aylin aja suruh nyanyi atau kamu lipsync!”

Mas Yos melangkah mundur keluar dari ruangan itu, meninggalkan dua orang lelaki yang saling bertukar tatapan.

“Saya mah ikut kata Mas Yos aja,” ujar Ron memecah keheningan.
“Gua ngerokok juga deh,” Ricko berdiri tanpa sedikit pun niat menanggapi.

-x-

Jeritan melengking terdengar membahana di sebuah gedung terbengkalai. Suara itu terputus seiring terpisahnya kepala dari bahu makhluk neraka itu, ditarik oleh seorang ksatria dengan zirah dan jubah hitam. Zirah itu berubah menjadi gumpalan asap yang hilang ditiup angin, meninggalkan sosok Dio yang sedang memeriksa sms di telepon genggamnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih memegang kepala monster yang baru saja dibunuhnya.

10 menit lagi on air. Cepetan, njing.

Dio mengerang keras. Dia melempar kepala di tangannya dan berlari ke arah jendela yang terbuka lalu melompat ke sana sambil tubuhnya berubah menjadi kelebatan bayangan di malam yang belum terlalu gelap.

-x-

Amplifier oranye itu mengeluarkan suara berdenging saat Aylin mengarahkan gitarnya ke sana. Diiringi hentakan drum bertempo cepat dari Ricko, Aylin memainkan riff-riff bernada rendah dengan iringan bass ritmis dari Ron. Asap putih dari gun smoke memenuhi lantai studio TV tersebut dengan warna yang berubah mengikuti sorotan lampu.

Tigapuluh detik lagu dimainkan, perlahan asap itu berubah menjadi hitam dan semakin kencang berpusar. Lampu warna-warni studio itu mendadak mati satu-persatu, namun band tersebut tetap bermain dengan konstan.

“Taik kan,” maki Aylin sambil terus bermain. Dia melirik kedua rekan bandnya, dan mereka mengangguk.

“ONE, TWO!” Ricko berteriak sambil memukul simbalnya, memberikan cue.

Lampu panggung tersebut mati total.

Dengan ditemani satu hentakan chord berulang, seluruh lampu menyala menyorot ke arah tengah panggung di mana dia berdiri merentangkan tangannya dikelilingi asap hitam yang perlahan memutih seperti warna asalnya. Di belakang mereka sebuah proyektor menampilkan nama dan logo band itu, menandakan dimulainya konser.

—-

Apakah nama dan bagaimana bentuk logo tersebut? Semua itu tergantung kepada elo. Buatlah logo dan berikan nama untuk band ini, sertakan juga latar belakang pemilihannya dan kirim ke email: macan@rustyrevolver.net dengan subject #HellKnightContest. Gue akan memilih nama dan logo terbaik yang akan mendapatkan satu buah S.I.C Kiwami Tamashii dan poster Hell Knight spesial, plus nama band serta logo lo akan dipake buat band Dio di seri ini.

Deadlinenya tanggal 20 Oktober ya. Gue tunggu submisi lo!

Hell Knight: Belial – Chapter 03

“Kak Dio?” Fira bertanya sambil berusaha berdiri menggunakan tongkat bisbol untuk menopang tubuhnya. Kakinya masih bergetar, namun dengan diiringi satu tarikan nafas dia bisa berdiri tegak di belakang ksatria berzirah hitam itu.

“Fira, mundur. Ini jauh lebih berbahaya dari tengkorak-tengkorak itu,” ujar Dio.
Gadis itu menurut. Dia melangkah mundur dan merapatkan punggungnya ke salah satu tiang jalan layang sambil tetap menggenggam erat stik bisbolnya.

Incredibilus…” ujar lelaki berambut pirang itu. “Miles Infernus; aku tidak menyangka kamu menjadi salah satu dari mereka,” lanjutnya sambil terkekeh.
“Sebutkan namamu,” desis Dio.

Dux Obcasus, Appolyon. Penuai jiwa manusia, penabur benih neraka,” jawabnya sambil tersenyum.
“Ksatria Neraka, Belial,” jawab Dio sambil memasang kuda-kuda.
“Ah… kamu masih sangat hijau. kelahiranmu belum lagi satu jam dan kamu sudah ingin memulai pertarungan melawanku?” Appolyon berkata sambil tersenyum.

“Ya.”

Dio berlari menerjang Appolyon dengan kedua kepalan tangan menyala berapi di hadapan wajahnya. Dia melompat dan detik berikutnya suara besi beradu terdengar membahana di jalanan kosong itu. Kedua petarung itu terpental mundur dengan lengan bergetar dan telinga berdenging namun sepasang wajah itu masih saling menatap dengan waspada. Appolyon melompat dengan kedua pedangnya terangkat di atas kepala, bersiap menebas ksatria berzirah hitam di bawahnya. Lelaki pirang itu mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, namun Dio berguling menyamping menghindar sehingga pedang itu hanya menghajar udara kosong berlanjut Dio melompat dan memukul pinggang Appolyon sekeras yang dia bisa dengan kepalannya yang berapi.

Appolyon menggeram, matanya menatap tajam ke arah Dio sambil menahan sakit di sisi tubuhnya.
“Hijau ya?” ujar Dio sambil terkekeh.

Diiringi teriakan keras mereka berdua kembali beradu. Dentangan keras bersahut-sahutan ketika sepasang pedang dan tinju besi berlapis api bergesekan liar di bawah sinar bulan diakhiri lompatan mundur dari keduanya untuk menjaga jarak. Meski nafas mereka terengah namun kuda-kuda Dio masih kokoh dan pedang Appolyon terbidik ke arah lawannya.

“Sudahlah,” ujar Appolyon sambil menyarungkan pedangnya. “Anggap saja sudah untuk malam ini.”
Dio menatap lelaki pirang itu dengan curiga, dia menurunkan kepalannya sedikit.

“Aku serius. Kamu muncul secara mendadak dengan kekuatan penuh semntara aku sudah lelah begini. Ada baiknya aku pulang, kamu pulang dan kita sudahi malam ini,” lanjutnya sambil merentangkan tangannya dan berjalan ke arah Dio.

“Jadi bagaimana? Kita sama-sama mundur?”

Seketika saat Dio menurunkan kepalannya, Appolyon mengayunkan kedua tangannya dalam gerakan menyilang. Sepasang pisau melayang keluar dari lengan baju dan digengam erat olehnya, terhunus mengarah ke mulut Dio yang tidak tertutup helm. Dio berjongkok menghindari tebasan itu dan melompat mendorong tinjunya menghantam dagu Appolyon.

“Ayolah, Opa. Trik seperti itu sudah terlalu tua,” seloroh Dio sambil melangkah mendekati Appolyon yang terkapar di atas aspal. Dia lalu berjongkok dan terkekeh sambil mengelus pipi lelaki pirang itu dan mencengkeram bagian bawah wajahnya dengan telapak tangannya yang menyala berapi. Appolyon menjerit sambil mencoba menarik lepas wajahnya, namun cengkeraman Dio terlalu kuat. Suara Appolyon tenggelam tertahan telapak tangan yang menutupi mulutnya, asap tipis membawa aroma daging terbakar ke udara dan seringai di wajah Dio melebar memperlihatkan taring-taring yang tumbuh perlahan.

“Kak Dio, UDAH!”

Seringai di wajah Dio menghilang.

“Kakak udah janji…”

Dio menoleh, dia beradu pandang dengan Fira. Suara gadis itu sedikit bergetar, namun tubuhnya tidak lagi gemetar. Dia berdiri tegak dengan tatapan lurus ke arah lelaki berzirah hitam di hadapannya.

“Kakak udah janji jaga emosi, kan?”

Dio melepaskan genggamannya dari wajah Appolyon.

“Udah cukup ya, kak? Kita pulang aja ya…”

Dio melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki pirang yang masih mengerang kesakitan itu. Zirah hitamnya perlahan menguap menjadi asap hitam yang melayang menjauh, menyisakan tubuh yang kini hanya terbalut kaus putih dan celana jins. Nafasnya memburu, langkahnya semakin cepat berlari mendekati Fira.

“Maafin kakak, Fir,” ujar Dio sambil memeluk adiknya yang mulai sesenggukan di dadanya. Kelentang pelang terdengar saat stik bisbol yang digenggam Fira jatuh. ”Kamu takut ya? Maafin kakak.”

“Iya, nggak apa-apa kok,” ujar Fira sambil sedikit mendorong dirinya lepas dari pelukan Dio. Fira melebarkan matanya dan menatap wajah Dio, menunjukkan bahwa tidak ada air mata di sana.

Kedua orang ini menengok waspada saat mendengar suara keras, seperti cemeti yang diletarkan. Sumber suara itu adalah sebuah retakan merah di atas aspal yang menutup perlahan, menyisakan kekosongan seolah tidak ada apa-apa di sana. Angin berhembus, dan Dio mendengar bisikan lirih di telinganya.

“Omnia cum pretio, Dio…”

…つづく

Hell Knight: Belial – Chapter 02

Mereka bilang, saat kematian menjemput maka seluruh hidupmu akan berlalu di hadapan matamu, seperti instant replay di siaran olahraga atau penayangan ulang sitkom dari dua dekade lalu yang itu-itu saja. Kini aku tahu bahwa itu benar, dan aku membencinya. Tidak bisakah aku mati begitu saja? Aku tidak butuh siaran ulang dari pertunjukan konyol ini.

Dio membatin seiring kilas hidupnya berlalu. Dia merasa aneh, kesadarannya penuh namun dia tidak bisa merasakan apapun, tidak ada satupun indra yang bekerja kecuali penglihatan yang tidak bisa diatur.

Tidak, Dio. Kamu tidak bisa pergi begitu saja.

Suara gaib itu bergaung di dalam kepala Dio, nadanya rendah dan tenang namun tidak lembut. Suara itu seperti jangkar bagi kesadaran lelaki muda itu, perlahan ingatan yang berlalu di matanya kabur digantikan pemandangan dinding-dinding berwarna daging. Dio menatap sekitarnya, dia merasa tubuh telanjangnya mengapung di dalam cairan kental transparan. Saat mencoba membuka mulut, Dio menyadari bahwa dia tidak lagi memiliki mulut, hidung, dan telinga. Seluruh kepalanya hanyalah bentuk kosong tanpa organ kecuali lubang mata, begitu pun seluruh tubuhnya kosong seperti manekin berwarna putih gading.

“Selamat datang di Rahim,” ujar suara yang kini terdengar nyata, tidak lagi seperti gaung di kepala. Dio menoleh ke arah suara itu berasal dan melihat makhluk tinggi besar bertubuh seperti Pan di legenda Yunani. Kaki makhluk itu berbentuk kaki kambing dengan bulu coklat kasar, sementara sisi atasnya adalah tubuh lelaki kekar dengan dada bidang dan rambut hitam yang jatuh bergelombang sampai ke pinggang sementara sepasang tanduk panjang berbentuk ranting tajam mencuat tinggi. Senyum terkembang dari wajahnya yang tampak seperti wajah wanita muda.

“Siapa kamu?” ujar Dio. Lelaki itu lalu terdiam, menyadari dia kembali memiliki mulut meski hanya celah melintang yang belum terbuka secara sempurna.

“Namaku tidak penting, sebut saja Pangeran Utara,” jawabnya. “Lebih penting ‘di mana kamu’ dan ‘kenapa kamu ada di sini’, toh?”

“Ini adalah Rahim, tempat jiwa-jiwa dilahirkan kembali untuk kehidupan selanjutnya,” lanjut pangeran itu sambil tersenyum.

“Dilahirkan kembali, maksudnya aku sudah…”
“Mati. Jarang manusia yang bisa selamat kalau paru-parunya dilubangi pisau.”

Dio menatap tangannya. Jemarinya sudah membentuk namun punggung tangannya ditumbuhi sisik dengan kuku panjang dan tajam di ujungnya.

“Kenapa badanku jadi seperti ini?” teriak Dio kepada Pangeran Utara.

“Tubuhmu sedang menyesuaikan bentuk dengan kehidupan selanjutnya di Neraka. Nampaknya nasibmu lebih baik dibanding mereka yang terlahir kembali sebagai tengkorak rapuh.”

“Kenapa badanku jadi seperti ini?”

Pangeran Utara menunduk dan menggeleng perlahan.

“Secara singkat, setan-setan yang menyerangmu datang ke Bumi untuk menarik arwah manusia sebanyak-banyaknya. Setiap nyawa yang mereka cabut akan terlahir kembali di Neraka sebagai pasukan… salah satu pangeran,” ucap makhluk separuh kambing itu.

“Untuk apa mereka mengumpulkan pasukan?” tanya Dio.
“Politik,” jawab Pangeran Utara sambil tersenyum. “Aku di sini untuk memberimu penawaran,” lanjutnya. “Perubahanmu belum sepenuhnya selesai, masih ada kesempatan untukmu hidup kembali di tubuh lamamu dan tidak menjadi anak buah pembunuhmu itu.”

“Apa syaratmu?” tanya Dio. Pangeran Utara mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan manusia di ambang nyawanya itu.

“Aku berasal dari dunia showbiz. There’s no free lunch on Earth, why should I believe they exist in Hell?”

Pangeran Utara terbahak.

“Ternyata benar, sangat sayang kalau dijadikan pasukan rendahan semata,” ujarnya sambil melangkah mendekati Dio. Dia lalu menunduk agar tinggi mereka sejajar dan berucap: “aku mau kamu membunuh setiap makhluk Neraka yang ada di sana. Hentikan suplai pasukan mereka.”

“Kenapa kamu tidak melakukan itu sendiri? Kamu nampaknya cukup kuat.”
“Politik.”
“Oke.”
“Jadi?”
“Jadi aku akan hidup kembali dengan cara menjadi salah satu pasukanmu?”

“Jangan terlalu banyak tanya. Pilihanmu sekarang hanya menjadi anak buah dari setan yang mengembalikan kehidupanmu atau anak buah setan yang membunuhmu.”

-x-

Bulan bersinar di antara sela-sela gedung Jakarta, cahayanya menyoroti seorang gadis bertubuh kurus yang mengayun-ayunkan tongkat bisbol ke arah tengkorak hidup yang mendekatinya. Rambutnya yang pendek terlihat acak-acakan dan jatuh menutupi matanya membelalak.

“Tsk, sudahlah menyerah saja. Tidak ada gunanya melawan nasib,” ujar pemimpin pasukan tengkorak itu. Rambutnya yang pirang tersisir rapi ke belakang, memperlihatkan wajah berkulit putih dengan rahang tegas dan tulang pipi tinggi. Dia nampak seperti manusia normal kecuali matanya, sepasang bola itu berwarna hitam polos dengan setitik putih di pusatnya.

“Sebentar lagi kakakmu itu akan bergabung dengan kami,” ujarnya lagi sambil melangkah mendekati Fira. “Berhentilah melawan, kamu akan tetap bersamanya di kehidupanmu selanjutnya. Janji.”

Lelaki pirang itu tertawa kecil, namun tawa itu terputus suara keras benda yang jatuh menusuk tubuh Dio yang terbaring di atas aspal. Diiringi satu geraman keras, lelaki itu melompat mundur dan menghunuskan pedang di kedua tangannya ke arah tombak merah bermata tiga yang berdiri tegak di atas Dio. Fira terjatuh dan menatap senjata yang terpancang angkuh dengan bibir bergetar itu sementara para tengkorak yang mengelilinginya memasang kuda-kuda waspada.

Tombak itu terbakar dan menghilang di balik jilatan-jilatan api yang bergerak turun membungkus tubuh Dio. Perlahan tubuh itu terangkat dengan lengan terentang dan kaki di atas. Tubuh itu masih terbalut api yang memusar seperti tornado dengan warna perlahan berubah kehitaman. Angin berhembus keras ke pusat tornado mini itu selama satu detik dan keheningan datang bersambut setelahnya. Seluruh makhluk yang berdiri di aspal itu menatap ke atas di mana bergantung tubuh yang seolah terbungkus sarkofagus api.

“In excelsis spiritus malum, Belial.”

 

Suara berat bergaung mengiringi ledakan dari tubuh yang tergantung itu, api hitam yang membungkusnya berubah bentuk menjadi ratusan kelelawar api yang beterbangan. Kelebat hitam bergerak bersama ratusan kelelawar itu, menyapu tengkorak-tengkorak hidup dalam lingkaran dan berhenti di samping Fira yang masih terduduk lemas.

Tubuh Dio yang terbakar tadi kini berdiri tegak dengan jas kulit sepanjang betis, di dalamnya dia terlindung oleh zirah ringan yang tidak mengurangi kelincahan geraknya dengan sarung tangan besi yang menyala berapi dengan ujung cakar-cakar di setiap jarinya. Wajahnya ditutupi helm perang dengan bagian mulut terbuka menyerupai mulut bertaring yang menyeringai dan tanduk panjang di atasnya.

“Belial,” desis lelaki pirang bermata hitam tadi dan menatap ksatria yang disebutnya sebagai Belial dengan pedang terhunus, siap menyerang kapan saja.

Dio mengangkat tangannya yang masih membara dan menunjuk lelaki pirang di hadapannya dan berucap:

“Kamu, jauh-jauh dari adikku.”

Hell Knight: Belial – Chapter 01

Suara berdesis keras terdengar keras saat asap putih dihembuskan ke atas panggung dan mengambang dengan warna kemerahan disorot lantai yang berpendar. Suara kick drum menghentak diiringi lampu yang menyala dari belakang panggung, memperlihatkan siluet lelaki berambut panjang. Lampu itu lalu berkelap-kelip mengiringi musik keras yang dimainkan band pimpinan lelaki tersebut. Lampu menyorot sang vokalis band itu bersamaan dengan dia mengeluarkan lengkingan panjang mengawali pertunjukan malam itu.

Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah, namun bibir yang tak nampak tersenyum itu tetap terlihat menemani tatapannya yang tajam ke arah para audiens yang berlompatan seiring hentakan musik yang dimainkan. Dio nama lelaki itu, sosoknya yang tinggi ramping terbalut celana kulit dan kaos putih dengan lengan dan kerah yang dipotong. Satu kakinya diletakkan di atas monitor panggung dan kedua tangannya direntangkan saat dia chord terakhir dimainkan oleh band pengiringnya, mengakhiri pertunjukan malam itu.

-x-

Sebuah sedan empat pintu melaju melintasi jalanan utama Jakarta yang sudah kosong. Aspal basah malam ini hanya dihiasi bias-bias lampu jalanan sambil sesekali genangan air di atasnya terpecah lindasan kendaraan yang berlalu. Jam di dashboard menunjukkan waktu hampir melewati tengah malam saat mobil itu berhenti di lobby sebuah mall yang masih cenderung ramai dengan segerombolan remaja tanggung di depannya. Kerumunan itu terpecah dan tiga orang gadis keluar dari tengahnya sambil melambaikan tangan kepada fans-fans yang tadi mengerumuni mereka. Salah satu dari ketiga gadis itu langsung duduk di jok depan mobil, sementara dua temannya duduk di sisi belakang. Gadis yang duduk di jok depan itu berambut lurus sepanjang dagu yang disisir ke sisi kanan wajahnya, sementara sisi kiri rambutnya dijalin dengan model cornrow sampai ke belakang telinganya. Raut mukanya nampak lelah, namun senyum lebar terpampang di wajahnya.

“Gimana tadi konsernya, Fir?” tanya Dio yang mengendarai sedan tersebut kepada gadis yang duduk di depan itu.
“Ih, kak Dio sih pedulinya cuma sama Fira doang,” sela salah satu gadis yang duduk di belakang yang disambut tawa temannya.
“Tadi bukan konser kok, kita cuma meet and greet aja,” ujar Fira sambil mendorong wajah temannya yang menjulurkan wajah ke samping Dio.

“Tapi fans kalian itu cenderung tertib ya,” Dio berseloroh sambil melirik kaca spion. “Kalau aku ngadain acara yang mirip bisa rusuh, barangkali.”
“Fans kakak itu kan cewek-cewek histeris, beda lah pasarnya…” jawab gadis yang sedari tadi hanya tertawa. Rambutnya yang hitam tergerai lurus sampai melewati bahunya.
“Tapi Risa, memangnya fans kita nggak histeris?” tanya gadis satunya.
“Ya histeris sih, tapi nggak agresif kan. Paling mesem-mesem malu-malu, yang agresif juga cuma sok kenal, ga berani nyenggol,”jawab Fira.
“Soalnya image kita kan dibentuk jadi imut, bukan sexy ka–”

“Risa sama Ai mau diantar sampai apartemen?” ucapan Risa yang belum selesai itu dipotong Dio.

“Oh boleh, ‘makasih ya kak,” jawab dua gadis yang duduk di jok belakang itu bersamaan.

-x-

“Kamu bisa gugup juga ternyata ya, kak…” ujar Fira sambil terkikik.
“Sst ah, kamu tahu kalau aku paling susah dipuji,” balas Dio. Mereka berdua baru saja pergi meninggalkan apartemen di daerah pusat kota tempat Ai dan Risa tinggal dan meluncur menjauh melintasi kolong jalan layang yang belum selesai dibangun menuju area pinggir Jakarta di mana Fira tinggal.

Dio memelankan laju mobilnya ketika dia melihat keramaian di kejauhan. Orang-orang berlarian dikejar orang yang membawa senjata tajam, tidak satu pun polisi nampak di dekat situ.

“Aduh, tawuran warga kayaknya nih. Kita cari jalan lain saja ya Fir,” ujar Dio sambil memundurkan mobilnya. Namun belum jauh kendaraan itu bergerak, Fira mendadak menjerit melihat pemandangan di depannya.

Salah satu orang yang dikejar itu berlari ke arah mobil mereka dengan tangan menggapai-gapai sebelum jatuh berlumuran darah. Di belakangnya beberapa tengkorak manusia berjalan sambil mengacungkan pedang-pedang berkarat. Mayat-mayat hidup itu lalu membacoki orang tadi yang menjerit-jerit meregang nyawanya. Tanpa menunda, Dio menginjak pedal gas sedalam-dalamnya namun laju kendaraan itu mendadak berhenti dibarengi suara keras dari atas kap mesinnya.

Sesosok raksasa setinggi lebih dari dua meter bersimpuh di atas kap mesin yang kini hancur dengan sebuah lubang besar di tengahnya di mana tinju raksasa tadi memukul. Dia berwajah singa, dengan surai berkibar dihembus angin malam. Dari antara surai itu, sepasang tanduk kemerahan mencuat seolah menyatakan dari mana asal makhluk itu. Raksasa singa itu menatap tajam ke arah mata Dio, nampak kilatan puas di matanya. Dia lalu pergi menjauh sambil mengedikkan kepala kepada para tengkorak itu, memberikan kode sebelum melompat menjauh.

Dio menarik tuas di sisi tempat duduknya, membuka bagasi mobil itu.

“Kamu kunci pintu sembunyi di jok belakang, Fir,” ujarnya sambil melangkah keluar mobil itu, mengabaikan Fira yang mencoba menahan langkah nekatnya itu.

Lelaki itu berlari ke bagasi, mengambil Tongkat golf yang tersimpan di sana dan berjalan ke arah para tengkorak hidup itu sambil berteriak sekencang-kencangnya dan mengayunkan tongkat golf di tangannya. Tongkat itu menghantam tengkorak pertama yang mencoba menyerang Dio, meninggalkan retakan di pelipisnya sebelum tersungkur saat hantaman kedua diberikan Dio di ubun-ubunnya.

Tiga tengkorak lain mengeluarkan desisan aneh, dan bergerak mengelilingi Dio yang memasang kuda-kuda bertahan dari serangan yang bisa datang dari mana saja itu. Ketika salah satu tengkorak itu menyerang, Dio bergerak mundur dan memukul ke arah ubun-ubunnya, menghasilkan suara keras yang menggema di kolong jalan layang itu. Dengan sigap Dio mengacungkan stik golf itu ke arah dua tengkorak yang tersisa, menatap tajam memperkirakan serangan berikutnya. Belum sempat mereka menyerang, sebuah tongkat bisbol besi menghantam kepala salah satu tengkorak itu dari belakang, membuatnya terhuyung sebelum hantaman-hantaman berikutnya menyusul. Tengkorak satunya menoleh kaget dan kelengahan tersebut digunakan Dio untuk menghajar sisi belakang lehernya dan memukulinya sekuat tenaga ketika dia tersungkur di atas aspal.

“Aku tadi nyuruh kamu sembunyi, kan. Ngapain kamu keluar?” ujar Dio kepada pemegang tongkat bisbol itu, Fira.
“Terus aku diam di dalam sana, cuma menonton kakak dikeroyok? Kakak pikir aku perempuan manja atau lemah? Aku bisa ngelindungin diri aku sendiri,” balas Fira dengan tatapan membelalak ke arah Dio.
“Kita omongin nanti, sekarang yang penting kita lari dulu.”

Dio memegang bahu Fira, mengarahkannya untuk berlari menjauh dari keramaian di kejauhan itu. Mereka lalu bergerak dengan cepat sambil tetap memegang senjata masing-masing. Belum jauh mereka melangkah, Dio merasakan besi dingin di punggungnya, bergerak cepat menembus kulitnya memasuki organ tubuhnya. Nafasnya mendadak tertarik dari mulutnya ketika besi dingin itu merobek paru-parunya, seperti menarik arwahnya menjauh dari tubuhnya yang jatuh tengkurap di atas aspal dengan sebilah pisau tertancap di sisi belakang tubuhnya.

Fira dengan kaget membalikkan badan dan menyadari pisau itu dilempar oleh seorang lelaki berambut pirang yang memimpin sepasukan tengkorak hidup. Pasukan itu mengelilingi Fira dan tubuh Dio yang terkapar itu. Salah satu tengkorak itu berjalan mendekat dengan mengeluarkan suara seperti tawa yang dihasilkan keletak tulang-tulang. Dia menjulurkan tubuh seolah mengejek, namun detik berikutnya kepala tengkorak itu sudah melayang karena hantaman tongkat bisbol Fira.

“JAUH-JAUH DARI KAKAK GUE,” teriak Fira sambil mengacungkan senjatanya ke arah monster-monster yang mengelilinginya.

…つづく

Hell Knight: Belial – Chapter 00

Jakarta, di suatu malam.

Gemuruh musik berkumandang di sisi selatan kota yang tidak pernah padam tersebut, dari panggung yang berdiri megah di lapangan parkir salah satu televisi swasta. Lampu warna-warni berkelip dan menyoroti wajah-wajah ceria pengisi acara yang tetap terlihat cerah dengan kelelahan terlindungi topeng kebal keringat bernama make up waterproof.

Seorang lelaki muda menatap keramaian itu dari ketinggian, dia menyandarkan diri di balkon apartemennya yang terletak di seberang stasiun televisi tersebut. Rambutnya yang menutupi sebagian lehernya berkibar dihembus angin, sesekali berkilat keunguan saat terkena kilasan-kilasan cahaya spot light yang ditembakkan ke angkasa. Asap tipis melayang tipis dari sela-sela bibirnya, membawa aroma nikotin yang langsung hilang di udara. Dia memicingkan matanya, menatap ke arah ribuan penonton yang memadati pelataran parkir itu, seolah mencari sesuatu.

“Udah berapa kali aku bilang, berhenti ngerokok! Nanti suara kakak hilang baru tahu rasa,” ujar seseorang dari belakang lelaki tersebut.

Lelaki itu menoleh, menatap sesosok gadis bertubuh kurus dengan potongan rambut pendek yang ditahan ke belakang dengan bando hitam. Mata gadis itu menatap langsung lawan bicaranya yang berusaha menghindar dengan menoleh ke kiri dan ke kanan.

“Nggak akan hilang juga suaranya sih, Fira…” ujar lelaki itu yang dipotong gerakan cepat gadis itu merebut sebatang rokok dari sela jemarinya dan melemparnya dari balkon.

“Nanti yang di bawah kesundut lho.”

“Ini lantai tigapuluh lima, sampai bawah juga udah mati. Nggak usah ngalihin omongan, kakak ngapain masih ngerokok? Mau bengek di panggung lagi kayak kemarin?” hadrik gadis yang bernama Fira itu.

“Galak ih.”

“Kalau nggak galak Kak Dio mana mau nurut?” jawab Fira sambil berpaling meninggalkan balkon itu. “Udah sini, tadi aku beli martabak di bawah. Bantuin aku ngerapi…”

Balkon di mana Dio tadi berdiri kini kosong. Fira bergegas menatap ke bawah hanya untuk melihat siluet hitam jatuh dan berkelebat menjauh.

-x-

Suara hiruk-pikuk musik bercampur teriakan para penonton terdengar sayup-sayup di kejauhan. Kelebat hitam yang jatuh dari ketinggian tadi melesat di antara bayang-bayang bangunan memasuki gang sempit menuju sisi belakang panggung. Bayangan itu terkoyak menjadi beberapa siluet kelelawar hitam yang terbang menjauh, meninggalkan sosok ramping Dio.

Dio merogoh kantung celana jinsnya, mengambil sebungkus rokok yang isinya segera diselipkan di antara bibir yang sedikit bergetar. Dari satu jentikan jari Dio, sepercik api menjilat ujung rokok itu dan menyulutnya.

“Mas, jangan di sini mas!” sebuah suara terdengar dari belakang Dio, seseorang dengan seragam putih-biru datang dengan langkah tergopoh-gopoh, wajahnya nampak kelelahan dengan lingkaran hitam melingkari matanya dan ludah mengering di ujung bibirnya, sisa tidur colongan di sela-sela shift kerja yang padat.

“Eh, mas Dio. Bukannya mas hari ini nggak ada show? Kok tumben?” ujar penjaga keamanan tersebut.

Lelaki tinggi itu terkekeh.

“Memangnya nggak boleh, Pak Aman? Saya mau nonton, tapi nggak mungkin kan kalau dari depan. Bisa habis saya dicubitin mbak-mbak genit,” seloroh Dio dengan suaranya yang berat.

“Ya nggak apa-apa juga sih mas…”
“Balik ke pos lagi aja pak, saya di belakang sini juga cuma mau ngerokok. Di dalam nggak boleh soalnya.”

Pak Aman mengangguk pelan dan berjalan kembali menuju pos jaganya. Begitu lelaki tambun itu menjauh, Dio berlari menuju deretan generator listrik. Dia melirik sekitarnya, suara generator berdengung monoton terdengar mengaburkan indera pendengaran. Dio berusaha berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah di kejauhan dan mendadak sebilah pisau melayang ke arah wajahnya.

Dengan gerakan cepat Dio menghindari serangan itu dan menatap ke arah asal pisau itu melayang. Sebuah garis merah terlihat membelah udara kosong, dari dalamnya terdengar suara berkeletak kencang tulang-tulang yang beradu dan belasan tengkorak manusia merangkak keluar.

Tengkorak-tengkorak itu memekik, berlari mendekati Dio dengan pisau dan pedang terhunus. Lelaki berambut panjang itu berlari melebarkan tangannya dan dua kali menjentikkan jemarinya. Api memercik dan melingkari kedua belah kepalan tangannya. Tengkorak pertama melompat, menebas ke arah kepala Dio namun pergelangan tangannya berhasil ditangkap dan detik berikutnya dia sudah terhempas keras di aspal dengan tinju berlapis api meremukkan rusuknya.

Satu persatu tengkorak hidup itu menyerang dan Dio hanya menghindar dengan gerakan-gerakan memutar kecil sambil mengibaskan tangannya, menari meninggalkan jejak api di udara. Pada ujung tariannya, Dio menyentakkan kedua tangan dan jejak api itu bergerak mencambuki udara, mementalkan para tengkorak yang lalu terpecah saat tubuh mereka menyentuh tanah.

“Ayolah,” ujar Dio. “Kamu tidak berpikir bahwa mereka cukup untuk melawanku kan?”

Suara tawa melengking bergema dari dalam retakan di udara tempat tengkorak-tengkorak tadi muncul, mengiringi sesosok makhluk melayang keluar.

Wajah makhluk itu kosong tanpa hidung maupun mata, hanya segaris senyum tanpa bibir melintang melintasinya. Bahunya kurus dengan tangan berjari panjang tajam seperti pisau sementara badannya terputus di pinggang.

Dia melayang menuju Dio, meninggalkan jejak tetesan darah dari ususnya yang terburai.

“Berubah,” desis Dio sambil menggerakkan tangannya membentuk lingkaran. Lidah api dari kepalannya bergerak mengikuti gerakan itu, membentuk pusaran membungkus tubuh Dio dan membakarnya.

Pusaran api itu berputar kencang dan sesosok tubuh melangkah tegap dari dalamnya. Wajah sosok itu ditutupi helm hitam dengan pelindung besi berbentuk menyerupai sayap kelelawar. Bagian mulutnya terbuka berbentuk seringai lebar dengan taring tajam membingkai bibir asli sang ksatria yang tersenyum hanya dengan satu sisi.

“Ksatria Neraka Belial siap mengantarmu kembali ke tepian Styx, suka atau tidak,” ucapnya sebelum melompat menerjang monster di hadapannya.

Suara keras terdengar saat cakar monster itu beradu dengan tinju Belial yang dibungkus sarung tangan besi. Dentangan itu terdengar sahut-menyahut selama beberapa kali diakhiri lengkingan keras saat ujung sepatu ksatria itu menghantam dagu monster yang langsung melayang mundur.

Tanpa menunggu lama, monster itu menangkupkan tangan di depan tubuhnya, mengarahkan cakar-cakar tajamnya ke dada Belial dan melayang cepat menyerangnya.

Jubah Belial berkibar saat dia berputar menghindari serangan bertubi-tubi. Monster itu mengeluarkan suara mendesis saat dia melayang tinggi dan mengambil ancang-acang sebelum melesatkan diri ke arah Belial sambil memutarkan badannya dalam gerakan seperti bor.

“Manticore!” teriak Belial sambil membuka telapak tangan kanannya. Lidah api keluar dari telapak itu, membentuk garis panjang dan berubah menjadi tombak bermata tiga di satu sisi dan bermata satu di sisi sebaliknya. Dengan lincah Belial menunduk menghindari serangan monster itu dan menggunakan pegangan tombaknya untuk memukul sisi tubuh lawannya tersebut.

Monster itu terpental menghantam salah satu generator listrik. Belial berdiri jumawa sambil mengarahkan sisi mata tiga dari tombaknya dan belari ke arah monster yang masih menggelepar itu. Wajah kosong monster itu menengadah ke arah Belial yang sedang berlari, garis tipis tanpa bibir di wajahnya membuka, mengeluarkan jeritan yang seketika tercekat mata tombak yang menembus tenggorokannya dan muncul di pangkal lehernya.

-x-

Tombak dengan mayat monster menggantung di ujungnya itu ditancapkan Belial ke aspal seperti bendera kemenangan. Darah mengalir dari luka menganga di leher dan menetes-netes dari ujung jarinya. Belial merogoh kantung di sisi dalam jaket panjang yang menutupi zirahnya dan mengambil sebatang rokok dari sana. Dia menyelipkan rokok itu di bibirnya dan kembali menyulutnya dengan jentikan jari.

Di bawah sinar bulan, asap dari sela-sela bibir ksatria neraka itu melayang bersatu dengan serpihan mayat monster itu yang perlahan hancur dan terbang ke udara.

Tidurlah, Sayang

tidurlah, sayang

biarkan mentari memanjati langit

biarkan burung-burung bernyanyi

biarkan mawar mekar, layu, kemudian mati

 

karena hatimu butuh berhenti

setelah lelah tahunan berlari

 

tidurlah, sayang

tidur yang nyenyak

karena detik akan terus berdetak

hari akan terus bergerak

dan lampumu perlu meredup

agar tetap bisa hidup

sampai saat buku ini perlu kau tutup

 

tidurlah, sayang

pesanku dari balik bayang

 

– Agustus 2013

Aku, Di Atas Normal

Teriakan mereka menulikan telingaku, ribuan kelvin cahaya berjuta warna menyorot tubuhku yang mulai mengurus dimakan waktu yang berjalan dengan penuh dinamika di dunia yang kuhidupi saat ini. Aku mengangkat tanganku, mengacungkan sepasang jemari yang terlingkari cincin-cincin perak membentuk tanda “V” yang disambut dengan acungan yang sama dari lautan manusia di hadapanku.

 

“Lagu terakhir untuk kalian malam ini!” teriakku lantang yang disambut koor memanggil judul lagu yang selalu menutup konserku dari kota ke kota sepanjang tahun ini; “Damai Kita di Ujung Senja”

 

“Damai kita di ujung senja, kala mentari menuju peraduan. Bisikanlah kata asmara untukmu, cinta tak bertuan.”

 

Dan lampu-lampu itu pun meredup.

 

 

Aku berjalan gontai memasuki kamar hotel tempatku menginap. Seperti biasa, kamarku tidak boleh dimasuki siapapun selain manajerku dengan sepengetahuanku. Bahkan room service pun tidak boleh. Aku ingin semuanya tertata sama persis seperti aku meninggalkannya sebelum menaiki panggung. Tentu saja, banyak gosip berputar di antara para kru dan pihak manajemen yang haus drama untuk dijual sekenanya ke infotainment mengenai kebiasaanku yang satu ini, mulai dari narkoba sampai tidur dengan model-model ternama.

 

Aku tahu, dan aku membiarkannya. Bicaralah semaunya, aku dibayar untuk menjadi seorang “artis”, figur tak terjamah yang hidup dalam imaji individu-individu yang butuh hiburan dan karakter yang menjalani mimpi mereka akan kehidupan seperti di televisi. Dramatis, penuh intrik, dan menggairahkan.

 

Tidak, teman-temanku sayang. Ini adalah nirvana kecilku, taman surgawi yang berantakan dengan baju kotor berserakan mengalasi remah keripik kentang dan berkaleng-kaleng soda kosong. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri, penyanyi single di penghujung usia duapuluhan yang kurang tidur.

 

“Kamu nggak capek?”

 

Aku tersentak mendengar suara itu, aku duduk menatap sekitarku dan ada hanya tembok berwarna krem dengan isi koper yang berserakan di lantai kayu ruangan yang cukup luas ini. Televisi mati, laptop mati, dan telepon genggam memang kumatikan. Tidak ada suara apa-apa lagi, bahkan hembusan angin dari sela kisi-kisi besi pendingin ruangan kamar ini seolah mendadak bisu. Lucu bagaimana di saat seperti ini aku baru menyadari betapa banyak suara kecil yang ada sehari-hari.

 

“Capek apa?” tanyaku kepada keheningan absurd yang mengelilingiku.

 

“Menjadi ‘kamu’. Yang berdiri angkuh menentang dunia di atas panggung itu,” balas suara yang entah dari mana datangnya itu. “Menjadi ‘kamu’ yang egois, menutup diri di ruangan ini dan berpura-pura tidak peduli dengan semua gunjingan miring yang membangun karirmu.”

 

“Kamu siapa?” hadrikku kesal.

 

Kamu yang siapa?” ujarnya pelan yang diakhiri tawa kecil yang perlahan menghilang ditelan suara-suara tidak penting yang mendadak kembali serentak, memberikan kebisingan sesaat sebelum telingaku menjadi terbiasa dan mereka kembali menjadi tidak penting.

 

 

“Lo nggak mau beres-beres? Kita harus pulang ke Jakarta sore ini.”

 

Aku menengok malas ke lelaki yang berdiri di samping tempat tidurku. Dia melipat tangan di dadanya sambil melihatku melempar-lempar gumpalan tisu ke tempat sampah di pojokan kamar hotel. Angin, lelaki bernama unik yang merupakan manajer personalku selama bertahun-tahun. Aku pertama kali bertemu dia bahkan sebelum aku menandatangani kontak pertamaku. Aku baru memutuskan meninggalkan kuliah untuk mengejar karir sebagai musisi, dan dia memasuki dunia ini sebagai pelarian dari kerasnya mengejar karir di bidang manajemen perusahaan untuk lulusan S1.

 

Dan mungkin selama lebih dari seperempat abad hidupku, dia adalah orang yang paling bisa menebak mauku apa. Karena bahkan aku sendiri terkadang tidak tahu itu.

 

“Menurut lo, gue tuh siapa ya?” tanyaku sambil menarik selembar tisu lagi dari kotaknya, menggulungnya dan melemparnya.

 

“Elo? Elo tuh orang sakit jiwa. Jenius sinting yang kebetulan bisa nyanyi. Puas?” jawabnya.

 

“Belom.”

 

“Elo itu… layangan. Nggak bisa eksis di langit kalau nggak didorong sama Angin.”

 

“Harus ya colongan narsis gitu?”

 

“Harus banget. Lo mau siap-siap kapan? Gue males ngurusin tiket lo kalau sampai kita ketinggalan flight. Anak-anak kru udah pada jalan bareng segala tetek-bengek logistik dari semalem, jangan sampe big boss nelpon gue nanyain lo di mana.”

 

“Bilang aja gue ga mau keluar kamar kayak biasa, ga bisa digedor.”

 

“Udah gue pake alasan itu dari semalam, lo pikir kenapa lo bisa beda pesawat? Udah deh jangan rewel!”

 

“Okaaaaaay, fine…” ujarku sambil beringsut malas meninggalkan tempat tidurku.

 

 

Dan itu adalah pembicaraan terakhirku dengan Angin. Tidak banyak yang kuingat setelahnya, kami tidak banyak bicara pada saat perjalanan menuju bandara, bahkan saat pesawat lepas landas pun kami tidak bicara karena aku mengenakan penutup mataku dan tidur dengan lelap.

 

Lalu aku siapa?

 

Ingatanku kabur, yang kuingat hanya suara keras dan rasa sakit luar biasa dari benturan entah apa. Hal berikutnya yang kuingat adalah terbangun di rumah sakit berbulan kemudian dengan berbagai karangan bunga di sekitarku dan berita bahwa Angin Utara sudah berhenti berhembus, dan tali layangan ini sudah putus.

 

Mereka bilang aku selamat karena sebagian besar tubuhku dilindungi olehnya pada saat benturan, beberapa mengatakan kalau mereka menemukan jasadnya yang kaku masih memelukku yang sekarat dengan erat. Jujur saja, saat ini aku sudah tidak peduli. Seperti suara-suara pendingin ruangan yang menghilang dalam keheningan di kamar waktu itu, aku tidak sepenuhnya menyadari betapa absurdnya dunia tanpa hal yang biasa kita temui sehari-hari.

 

Dan “aku”, siapa “aku”? Aku jelas bukan semata layang-layang yang memerlukan Angin untuk mendorongku. Aku Elang angkuh yang bisa terbang tinggi di udara tanpa dorongan. Sewindu sudah berlalu sejak kecelakaan itu dan aku masih di sini, di atas panggung yang masih sama kekar meski tahun-tahun berlalu. Kamarku masih tertutup, makin tertutup, terkunci untuk semua.

 

“Dan nirvana berubah menjadi neraka?” ujar suara yang sama yang kudengar tahunan lalu saat aku mengunci pintu kamar hotelku. Kali ini suara itu jelas dari mana datangnya, seorang wanita dari balik bayangan di sudut kamar. Dia melangkah mendekat, menunjukkan wajahnya dengan rahang yang keras untuk ukuran wanita, tulang pipi tinggi dan rambut bergelombang yang terurai melewati bahu.

 

“Halo, aku,” ujarnya.

 

“Kamu?”

 

“Aku. Kamu. Kita. Aku yang kamu buang tahunan yang lalu. Kamu mencari siapa dirimu kan? Aku sudah di sini sekarang.”

 

“Bukan aku yang mencari, kamu yang ingin kutemukan,” jawabku.

 

“Sudah cukup kamu berbohong, seberapa banyak operasi yang kamu lakukan, seberapa banyak kebohongan yang kamu katakan untuk dirimu sendiri tidak akan bisa merubah siapa kamu sebenarnya. Kamu ingin bertemu aku yang kamu benci.”

 

“Oh, begitu?” jawabku kesal sambil melewatinya dan melemparkan diriku ke atas tempat tidur.

 

“Hadapilah, sayang,” ujarnya sambil berbaring di sisiku. “Kamu tetap seorang gadis. Buah dadamu boleh menghilang di ujung pisau-pisau operasi, tapi hatimu di dalam sana masih merindukan dirimu yang “aku”. Terima diriku, dan biarkan kita satu lagi.”

 

“Untuk apa, untuk mencinta Angin yang sudah mati?”

 

“Untuk jujur. Siapa yang kamu benci, “aku” yang wanita dan lemah di matamu atau “kamu” yang lelaki dan tidak bisa berkata pada tuan yang tiada sebelum sempat mendengar cinta? Yang kamu tulis secara rahasia di lirik-lirikmu yang menjual itu?”

 

Hening.

 

“Pilihan ada di dirimu sepenuhnya, “aku” atau “kamu”. Hanya ada satu.”

 

 

Dua orang wanita duduk bergunjing di depan meja rias yang kosong, sang artis sedang ada di atas panggung dan seluruh kru sibuk dengan urusan masih-masing. Memecah hening, mereka bergunjing.

 

“Mati?”

“Iya, bunuh diri! Kamu tahu kan, dia itu paliiiiing nggak mau diganggu kalau lagi di kamar! Eh terus masa katanya pas dimandiin juga konon nggak ada… “itu”nya!”

“Masa?”

“Iya, pantes aja ngumpet melulu, operasinya belum selesai kali ya, stress terus bunuh diri.”

“Hush, jangan gitu lah, udah nggak ada juga orangnya!”

“Iya, iya, hihihi…”

 

–oOo–