Empat Dinihari

So my first music video EVER is finally here. It took quite awhile to get everything handled and mastered, but with an IMMENSE amount of help from my college mates I finally be able to finish all the stuffs I need to finish.

I will release a full mixtape later this month, but for now please enjoy the song!

[Lyrics]

Jemari bertaut di penghujung hari
Sepasang kekasih pukul empat dinihari
Tersenyum dalam diam menikmati sepi
Detik berlari, seiring lampu kota menari

Mulut membisu, hati berlagu
Degup seirama seolah jadi satu
Terbisik kata cinta di penghujung asa
Disambut kecup lembut dan ia berkata:

Ikuti rasa, satukan kita,
kau terlalu berharga ‘tuk menjadi yang sementara
Waktu telah tumbuhkan cinta,
biarkan dia bersemi sekarang dan selamanya

Karna kuingin kamu sekarang dan selamanya
Kuingin kita bersama dalam susah dan bahagia
Berbagia cerita dalam duka maupun suka
Karna kau Puspita yang mekar hiasi dunia

Maka menikahlah denganku, kumohon jangan kau ragu
Engkau separuh jiwa, tanpamu ku tak ada, tanpamu ku tak akan ada

Genggam tanganku, rasakan cinta dariku
kuingin kita bersama meski waktu berlalu
Tatap mataku, lihat gelora di sana
lebih dari cinta yang terucap lewat kata

Genggam tanganku, rasakan cinta dariku
kuingin kita bersama meski waktu berlalu
Tatap mataku, lihat gelora di sana
lebih dari cinta yang terucap lewat kata

Ikuti rasa, satukan kita,
kau terlalu berharga ‘tuk menjadi yang sementara
Waktu telah tumbuhkan cinta,
biarkan dia bersemi sekarang dan selamanya

Untukmu…

Surat Terakhir

Pantai ini masih sama, selalu sama. Aku menatap cakrawala hitam di kejauhan sambil menghisap rokok mentol dan membiarkan asap putih melayang lesu di udara, menyapu wajahku yang semakin lesu.

Ya, mungkin ini surat terakhir yang kutulis untukmu, cinta. Nampaknya kita sudah terpisah masa dan dinding maya yang menutupi mimpi yang pernah aku punya selama tahunan kita bersama. Perpisahan ini adalah salah satu perpisahan yang paling menyakitkan, membuatku kehilangan kewarasan, kehilangan kewajaran, dan terseret dalam pusaran emosi yang berlebih.

Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, itu sesuatu yang aku rasa kita sama-sama mengerti. Tapi cinta ini ternyata tidak baik untuk aku dan untukmu, dan aku (terpaksa) harus mengerti.

Maka sudahlah cinta, aku rasa mungkin sudah sepantasnya kamu pergi, rumahmu bukan di sini.

Aku? Aku rasa kamu tidak peduli lagi denganku kini, namun bukankah cinta memang seharusnya tidak memaksa memiliki?

Aku selalu mendambakan kita menua bersama, aku mendambakan Jibril kecil di rahimmu di suatu waktu saat kita menyatu. Namun itu hanyalah mimpi yang kini berlalu bagai abu rokok yang melayang tertiup bayu di pantai ini.

Aku mendengar gemeletak suara bara yang membara tercumbu udara dari hisapan yang menyembunyikan desah asa dan bergulirnya air mata menanti pagi yang tak kunjung jua.

Ah cinta, kamu memang membuatku gila.

Entah besok, entah lusa, entah kapan mungkin aku akan sepenuhnya pergi dan lupa. Mungkin aku akan menerima apa yang kini ada atau apa yang sudah terjadi.

Sudahlah, memang mungkin saatnya aku tutup lembar yang ini.

Aku pergi.

9.11.2014

Kata-Kata

Tersebutlah sebuah kedai kopi ternama di sudut Jakarta, diwarnai pria dan wanita muda yang bercengkrama diiringi irama nada-nada musik bossanova. Setiap mereka nampak bahagia, tertawa, meski aku tahu di baliknya tersimpan sejuta rahasia kelam yang terkungkung bagaikan kotak Pandora.

Dan di antara merekalah aku duduk, menunduk menuliskan rangkaian kata-kata yang mungkin tidak berguna bagi sesiapa selain aku semata. Sebutlah aku Hamlet era modern, dengan sakit jiwa dan obsesi yang sama serta keterikatan yang terlalu nyata dengan dia sang pencabut nyawa.

Dengan ini aku berkata:
Lawanlah tirani yang membelenggu hati
Biarkan rasa itu membara menggelora
Karena pada akhirnya yang berarti adalah “kita”.

Aku merenggut kertas itu dari buku tulisku dan meremasnya menjadi gumpalan sebelum melemparnya ke keranjang sampah. Kata-kataku adalah senjata, dan saat mereka menjadi banal maka senjataku pun tidak lebih dari pisau tumpul.

Ah hidup, tidak ada yang lebih menyedihkan dari pujangga tanpa kata. Aku merasa bagai prajurit tua yang hanya bisa memoles popor senjata di penghujung kala sebelum senja tiba merenggut nafas dari tubuhnya yang renta. Mengingat masa-masa jaya saat dia menghormat kepada Sang Saka dengan bintang-bintang tersemat bangga di dadanya.

Namun semua itu fana.

Sefana seisi dunia yang tak lagi bermakna dilahap sang waktu yang perlahan namun pasti berlalu. Pada akhirnya lencana hanyalah lencana, bintang tanda jasa yang akan terlupa seiring masa, seperti aku dan kata-kata yang tertuang dari ujung pena.

Mungkin aku bukan Hamlet, aku adalah ayahnya, sang Raja Tua yang melayang menembus malam di antara tembok-tembok granit kastil Denmark, menolak melepas ikatan dengan dunia dan melangkah ke kehidupan selanjutnya.

Mungkin pula aku adalah Ophelia, yang terus berdoa kepada Santo Valentine di tepi jendela untuk menanti sang kekasih datang menjemput dan membawanya berkeliling dunia.

Tapi aku tersadar. Aku bukanlah mereka, aku hanyalah pria dengan kertas dan pena di pojok sebuah kedai kopi kelas menengah ternama yang dipenuhi pemudi dan pemuda yang bercengkerama.

– Agustus 2014

Untuk Sang Puspita

Mungkin bisikku hanya romansa
Mungkin kecupku hanya sekelebat rasa
Mungkin degupku hanya sekedar gema
Meski kau tahu adanya, dalam setiap detak di dada namamu akan terus ada

Tersebut
Terlarut
Menjadi udara di nafas yang kuhela
Menjadi hemoglobin terjalin di getir gelisah mengalir di darah yang berdesir

Asmara kita surya yang menyala
Dan aku Ikarus denganmu sebagai sayapnya

Terlalu panas, cinta
Aku terlepas, terhempas, terjun bebas
Tanganku menggapai udara
Dan kutatap sang surya

Tataplah aku, Puspita
Saat ajal menjemput pun aku akan menggenggam sebuah nama
Yang selalu terucap di hembusan nafas yang fana

– Agustus 2014

Ancol, 12:53

Langit hitam, laut hitam, cahaya lampu jalan di rerumputan
Kutatap utara, menghadap batas tanpa cakrawala
Dan aku pun berkata
Aku rindu kalian, cinta
Aku rindu sosok kalian yang selamanya maya
Karena kalian hanya ada di hembusan sang bayu yang mendayu memeluk biduk berayun seolah merajuk

Kukecup hampa dan kupeluk
Mataku redup mengantuk

Dan terbisik maaf di sela doa
Untuk janji yang gagal kujaga
Mungkin kalian kecewa, tapi kumohon tetaplah percaya
Suatu masa kita akan berjumpa

Entah di dunia yang fana
Atau saat aku menangis bahagia di surga

– Agustus 2014

Kisah Nafsu Yang Sederhana

Suara tawa kecil terdengar dari speaker komputerku yang mulai pecah, menemani gambar patah-patah yang menunjukkan apa yang terjadi di sisi lain bumi ini. Internet mempermudah segalanya, beberapa tahun yang lalu mungkin aku tidak menyangka bisa menatap wajah Erika lagi selain melalui foto-foto yang dia bagi di laman Facebook-nya.

Sudah berapa tahun sejak dia meninggalkan negara ini? Lima? Sepuluh? Atau baru tiga? aku tidak bisa mengingatnya, yang aku tahu hanya satu: ini sudah terlalu lama.

“Nggak malam mingguan, Ya?” tanyanya dengan suara sedikit tersendat koneksi negara dunia ketiga ini.
“Enggak, Er. Aku malam ini di rumah aja.”
“Lah, pacar ke mana?”
“Tidur, masih jetlag kayaknya. Habis dari Rotterdam.”
“Terus kamu sendirian aja di kosan? Uuu… kecian kecepiaaan…”

Aku tertawa.

“Nggak pantes, kamu tuh bagusnya yang galak-galak gitu,” ujarku.
“Ah basi lo, Ya. Kayak baru kenal aja…”

Kami berdua lalu tertawa, entah mentertawakan apa. Mentertawakan jarak yang mempermudah masa lalu terhapus, mentertawakan kisah yang mungkin tidak akan pernah ada, atau mentertawakan aku yang tidak pernah berani berkata…

“Aku kangen, Er.”

Ah, terucap juga, kan?

“Kan kita lagi ngobrol, Arya…”
“Kangen ketemu sih maksudnya.”
“Udah jam berapa di sana?”
“Setengah tiga.”

Erika tersenyum.

“Pasti lo udah ngantuk deh, makanya ngawur begitu. Tidur dulu gih. Kita ketemu di mimpi aja.”

Aku mengangkat sebelah bibirku, menggerakkan bahu naik dan turun sambil mengucapkan selamat malam dan mematikan komputerku.

“Mimpi ya…” desahku sambil menarik selimutku menutupi kepala.

“Arya,” ujar Erika. “Bibir kita mirip ya, kamu sadar nggak?”

Aku menatap wajah di hadapanku, melihat bibirnya yang berwarna kemerahan dan sedikit tebal. Wajah wanita itu nampak seperti refleksi diriku yang lebih manis, jauh lebih manis.

“Iya, beda warna aja,” aku membalas ucapannya dan mengelus pipi serta membiarkan ibu jariku meraba bagian bawah dari sepasang bagian tubuh yang membuatku tergila-gila kepadanya itu.

“Kamu suka?”
“Suka banget,” jawabku.
“Dasar narsis, kamu cuma suka sisiku yang mirip-mirip sama kamu,” Erika terkikik kecil sambil mencubit daguku.

“Emang,” aku berkata sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. “Dan kamu tahu? Bibir-bibir yang mirip itu wajib saling berkenalan.”
“Bersentuhan.”
“Berciuman.”

You’re taking too long,” ujarnya.
Not as long as you coming here.”

Detik berikutnya, kami sudah saling bertukar nafas dalam kecupan-kecupan panas. Tanganku menggenggam erat kepalanya, sementara dia mengalungkan kedua lengannya di leherku. Dengan hentakan keras, gadis ini terangkat dan mengaitkan kakinya di pinggangku sementara tanganku yang satunya mengangkat seluruh tubuhnya dari balik summer dress yang dikenakannya.

Lust makes you strong, isn’t it?
“Pastinya,” ujarku sambil memberikan satu remasan kuat dan gerakan pasti melalui jemari yang bergerak menyusupi sela-sela yoni.

Teriakan Erika tertahan saat aku membungkamnya dengan bibirku. Dia memberikan satu gigitan kencang dan memelukku erat.

Too long, Arya.”
Get used to it. It’s not the only thing from me that’s too long for you, dear.”

Erika memekik saat tubuhnya terjatuh turun saat kulepaskan dan disambut pinggulku yang bergerak menahannya.

Aku membuka mata, nafasku sedikit memburu. Jam dinding meunjukkan pukul sepuluh, dan lampu indikator handphoneku berkedip-kedip merah.

Sebuah SMS dari Erika.

“Gimana tidurnya, Arya? Eh, aku juga semalem mimpiin kamu lho. Dua bulan lagi aku mau ke Jakarta, kita ketemuan yuk. Ternyata aku juga kangen.”

Tanpa sadar satu sisi mulutku terangkat saat mulai mengetik balasan ke Erika:
Best dream I’ve ever had for some times.

(Kisah nafsu yang sederhana, dengan premis dari seorang kawan)

Prelude

Kita semua terlahir spesial, begitulah pesan dari sosok sempurna yang berdiri gagah menghalangiku dari sinar matahari. Aku selalu berjalan di belakangnya, menatap tubuh yang tegap ditempa olahraga dengan bahu lebar tempatku berpegangan saat dia memboncengku dengan sepeda BMX berkeliling kota kecil tempat kami tinggal. Kamu terlahir membawa sial, begitulah katanya. Dia duduk di bayang-bayang gelap rumah kami, berwujud tidak lebih dari siluet di depan televisi. Menghabiskan hari dalam diam meski tawa maupun air mata melintasi layar perak yang tak pernah mati.

Aku mengenal sepasang lelaki tua dan muda ini di ulangtahunku yang keempat, saat telapak gempal Bibi menepuk bahuku dan berbisik: ”Tuh, papa sama kakak kamu. Kenalan gih!”

Senyuman hangat melintangi sosok lelaki yang lebih muda saat dia menghampiriku dan berjongkok agar tinggi kami sejajar. Tubuhnya tinggi dengan rambut belah tengah dan alis tajam yang mengingatkanku pada lelaki di acara televisi hari Minggu yang bisa berubah menjadi ksatria belalang. Aku merasa nyaman dengan senyumnya, namun lelaki satunya yang lebih tua menatapku dengan tatapan datar, tanpa senyum. Dia lalu berbincang dengan Bibi, meninggalkanku berdua dengan orang yang mulai hari itu kukenal sebagai kakakku.

-x-

“Mulai hari ini kamu tinggal sama aku dan Papa ya”

“Bertiga? Aku nggak punya mama?”

“Punya, cuma Mama ndak tinggal sama kita. Dia tinggal sama Tuhan.”

“Kenapa?”

“Karena kita semua nanti akan tinggal sama Dia, tapi Mama aku dan kamu berangkat duluan.”

“Aku nggak boleh nyusulin Mama?”

“Ndak, kita punya giliran masing-masing. Sekarang kamu sama Kakak dan Papa saja ya.”

Satu hari telah berlalu sejak aku meninggalkan rumah Bibi di Jakarta, matahari senja mewarnai langit menjadi jingga, bias cahayanya merambati udara dan menembus jendela kamar tempat aku dan kakak saat itu berbicara. Ruangan itu dipenuhi buku yang berjajar rapih dengan sebuah televisi kecil di sudut ruangan, di sampingnya terletak sebuah mesin game berwarna abu-abu dengan beberapa CD game berserakan. Di sisi lain kamar itu terdapat sebuah tempat tidur tingkat dengan kasur atas rapi sementara kasur bawahnya sedikit berantakan dengan bantal dan guling yang terlihat sudah digunakan sebelumnya.

“Kamu mau tidur di kasur atas atau bawah?” tanya Kakak.

“Atas!”

“Kamu ndak takut jatuh?”

“Enggak, kan ada pinggirnya. Emangnya Kakak takut?”

“Dikit.”

Aku tertawa kecil dan berlari memanjat tempat tidur itu, kakakku hanya menatapku sambil tersenyum.

-x-

Konon harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri, namun itu hanya sebatas konon di mataku. Aku pernah menonton satu episode Discovery Channel yang membahas mengenai singa jantan yang membunuh anaknya selagi kecil untuk mempertahankan posisinya sebagai alpha male. Aku pun pernah membaca kisah di buku Kakak mengenai raja yang membunuh anaknya hanya karena ramalan. Aku tidak percaya kalau darah menihilkan kebencian.

Dan aku sangat yakin Papa membenciku.

Sudah duabelas tahun sejak aku tinggal di rumah itu dan Papa mungkin hanya pernah mengatakan sepuluh kata per tahun dan itu pun penuh pengulangan kata “remote TV mana?”. Sapaanku hanya dibalas suara menggumam, bahkan uang jajan hanya dititipkan melalui Kakak. Kesehariannya dihabiskan di depan televisi atau di bengkel miliknya dan hanya berbincang sesekali dengan Kakak. Suasana rumah selalu tegang untukku saat dia ada, dan semua ini memuncak di satu malam saat aku tidak sengaja mencabut kabel televisi saat menyapu lantai.

Hal pertama yang aku ingat adalah suara keras saat asbak itu menghantam pelipisku. Aku tersungkur dan hantaman-hantaman berikutnya menyusul dengan berbagai makian terdengar menusuk telingaku. Dia memanggilku pembunuh, pembawa sial, dan nama-nama lain yang menghilang tenggelam di dalam geraman amarahnya. hal berikutnya yang kuingat adalah tinju Kakak yang melayang telak ke wajah Papa. Suara berisik terdengar semakin sayup sebelum aku akhirnya hilang kesadaran.

Esoknya aku tidak sekolah, aku tidak mau wajahku yang memar menjadi pertanyaan. Kakak memintaku untuk tidak keluar kamar, setidaknya sampai Papa berangkat kerja ke bengkel sementara dia berjanji akan pulang secepatnya setelah urusan kuliahnya beres. Aku menuruti sarannya, dan hari itu kuhabiskan di kamar sampai kulihat Papa meninggalkan rumah.

Aku menyelinap turun untuk mengambil minum, dan saat aku tiba di dapur terdengar suara wanita berbincang di pekarangan. Aku mengintip dan melihat beberapa pembantu rumah tangga dan seorang ibu pemilik toko kelontong bercengkerama, salah satunya adalah Siti yang datang sesekali untuk mencuci dan membereskan rumahku.

“Ah, mosok?” ujar Siti dengan suara keras yang disambut desisan dari teman-temannya.

Iyo, Ti! Simbokne mati wektu mbayen anake sing ragil.

“Tapi kok tega yo? Anake dhewe kok dienteki koyo ngono”.”

“Eeeh… mengko sik, bapaknya bukan dia!”

“Lhoo, terus?”

Ono limo, ning penjara!”

“Kok iso tho?”

Kene, tak kandakne…”

Obrolan itu terputus oleh suara keras dari dapur tempatku berdiri. Pecahan keramik berserakan di lantai dengan dihiasi ceceran darah dari kepalanku yang masih menetes. Di luar Siti terlihat kaget dan panik, sementara kerumunan itu bubar seketika.

“JANCUK, KON ISO HATI-HATI, ORA?” terdengar teriakan dari belakangku. Aku menoleh dan menatap wajah lelaki yang baru saja memukuliku tadi malam.
“KON SING JANCUK, ASU!” teriakku spontan sambil melempar gelas yang terletak tidak jauh dari tanganku. Aku melompat menaiki meja makan dan menerjang lelaki itu.

Kami bertukar pukulan, kepalanku terasa nyeri dengan darah masih mengucur, membasahi wajah orang yang selama duabelas tahun terakhir kupanggil Papa. Emosiku memuncak dan kupukul wajah itu sekeras-kerasnya.

Jantungku berdetak keras di dalam dadaku. Nafasku memburu, tatapanku kabur. Yang kulihat di hadapanku hanyalah lelaki tua yang mengerang kesakitan memegangi wajahnya yang berlumuran darah, entah darah siapa. Aku berdiri, meski dengan kaki bergetar aku berlari sekencang yang aku bisa sejauh-jauhnya.

-x-

Kowe iso gitaran? Nyanyi?”

Ra iso gitaran, mas. Nyanyi aku bisa.”

“Yawes, ndak apa-apa, aku ajari.”

“Tapi tanganku luka begini.”

“Sing kanan thoNdak masalah.”

Suara kereta terdengar di kejauhan, menembus tembok tripleks bedeng tempatku beristirahat. Tanganku masih terasa nyeri, namun pendarahannya sudah berhenti dibantu balutan perban. Tiga lelaki berpakaian hitam-hitam bergambar logo band metal duduk memenuhi ruangan kecil itu; beberapa gondrong, semuanya bau.

“Mulai besok kamu temenin kita ngamen ya,” ujar lelaki dengan rambut yang mau mengajariku bermain gitar. Rambutnya yang keriting terurai panjang melewati punggung, dan kaosnya memperlihatkan lelaki tua yang mengacungkan sepasang telunjuk dan kelingking ke udara.
“Omong-omong, namamu siapa?”

Aku termenung, menatap tulisan di kaos yang dikenakannya.

“Dio.”