Prayer of the Dead

Raungan menggema agungkan nama Tuhan
Iringi hilangnya nafas-nafas kehidupan

Langit memerah, tersisa jejak surya
Tanahku memerah ternoda nafsu angkara
Emosi meluap membara bagai api
Ikuti nafsu, buta mata hati nurani
Jantung m’reka berdetak meski perlahan terhenti
Bagai tetes embun tersapu panasnya matahari

Teriak, teriak, t’riak dan teruslah berlari
Teriak, teriak, t’riak dan teruslah berlari

Raungan menggema agungkan nama Tuhan
Iringi hilangnya nafas-nafas kehidupan
Raungan menggema agungkan nama Tuhan
Iringi hilangnya nafas-nafas kehidupan

Bisakah kita berdoa tanpa kehilangan nyawa?
Bisakah kita berdoa tanpa kehilangan nyawa?

Lirik lagu ini gue tulis sehari setelah insiden Cikeusik. Tribute untuk mereka. Gue nggak sangka akan ada hari di mana nada serupa masih terdengar di negara yang sama.

Membunuh manusia, membunuh pikiran, serupa.

Kita ini apa?

Love Letter for No One

Dan kita akan merayakan ulang tahun kebersamaan kita untuk yang kesekian kalinya… seharusnya.

Entahlah, suaramu sudah menjauh seiring detik yang dengan iring bersambut menabuh langkah sang kala, meninggalkan kisah kita yang perlahan, tapi pasti, terlupa.

Bukan, bukan aku. Karena wujudmu yang maya dalam kepala itu senantiasa nyata adanya. Karena mungkin aku lelaki bodoh delusional yang seperempat gila karena cinta, dan tigaperempat sudah begitu dari aslinya.

Dan ya, ini tentang kamu. Bukan dia, dia, atau mereka. Ini kamu, sang ratu yang membeku dalam kenangan bisu.

Namun dengarlah cinta, aku rindu. Rindu akan “kita” di kala lalu atau yang sempat ada di masa kita tak lagi bersama.

Sisa romansa semata, mereka berkata. Tapi biarlah, toh dengan begini tak ada yang terluka.

Terkecuali aku, tentu saja.

Dan jangan merasa bersalah tentang itu, manis. Aku adalah seorang masokis yang menikmati setiap senti hati yang teriris oleh cambuk kenangan yang tak kunjung habis.

Kuputar kembali lagu-lagu lama. Arkarna, mengenai waktu yang kita habiskan bersama. Ingatkah ketika kau menangis mendengarnya? Dan ingatkah ketika aku menyanyikannya seperti remaja dengan berjuta mimpi berbinar dari kedua bola mata?

Rindu, cinta. Rindu yang pernah ada dan tetap terangkai sama serupa. Rindu akan satu nama yang tertera selamanya di atas alur desir yang berdetak memanggil.

Dan dengarlah, meski kala telah menghantar pergi sebuah masa, rasa yang sama masih tetap ada meski kadang terlupa.

——

(Ditulis di suatu masa yang lewatnya sudah lama. Diunggah dalam rangka tidak ada apa-apa)

#2

It’s just another sight of the moment we have
A moment we see with each other’s eye
One-sided sight, ending our fight
Two-sided sight, ten sleepless night

It’s just a matter of question that matters
When neither of us know the answer
But tell me, does it really even matter
When we ain’t even sure how to stick together?

Tickety tock, clickety clock
Nine o’clock, cock the glock

Click-clack

Bam

#20puisidanlagu

#1

Rintik berjatuhan di pelupuk jendela
Hantarkan ritma dalam lautan nada
Tentang aku, kau, dan mereka
Yang tak terlahir, namun tak terlupa

Senandung bersambut, kidungpun terajut
Dan perlahan kita berdua pun larut
Dalam geliat kisah lama yang sama
Yang berlalu, namun tak terlupa

Tanpa kata kita bicara
Tanpa kata nada meronta
Tanpa kata kita bersama
Dalam rimba aksara tak nyata

#20puisidanlagu

Dear Geminis

Dear you, little self. Pay a visit to ‘ma? I hope she’s doing okay there, I know I’m being really busy lately (in fact, I’m still on my way home from working now) but that doesn’t mean I forget any of you. These tattoos will make me remember each of you, though I never hold you guys in my arm.

I love you. Equally.

I know lately I’m being a jerk. I didn’t treat ‘ma and the way I’m supposed to. I swing girls like crazy lately and overworking myself too. I dunno what’s wrong, but I fail to fulfill half of my promises to you guys.

Hahah, I guess an apology would be insufficient now, wouldn’t it?

I’m trying and still trying for the best. Please be happy wherever you are now.

Love, ‘Pa.

P.s: come see me anytime you want to :).

Di Penghujung Senja

Ini kah yang kau rasakan
Saat mentari menghilang
Kala hangatnya sang cinta
Dijemput di ujung senja

Desahkan salam terakhir
Diiringi angin berdesir
Resapi hangat yang tersisa
Dari sisa bara menyala

Kau kini pergi sinari
Sisi lain dunia ini
Meninggalkanku dalam sepi
Terdiam menanti pagi

Dan di penghujung senja
Kuhapus sisa air mata
Karena ku percaya pasti
Malaikat kan membawamu kembali

Sebut Ini Apa Yang Kau Mau

Sebut ini apa yang kau mau

Kita marah
Mata kita memerah
Kita saling membenci
Menyakiti
menyiksa nurani

Kita terluka
Saling meluka
Seiring duka
Terbias dusta

Dan aku di sini
Di tempat yang sama ini
Di mana kita selalu habiskan pagi
Dengan sepotong donat dan segelas kopi

Sebut ini apa yang kau mau

Obsesi
Intimidasi
Psikosi
Emosi

Berakar dari satu kata

Cinta

Satu ingin

Bersama

Berdua

Sampai maut memisahkan kita
Sampai laut berhenti bergelora
Sampai surya tak lagi menyala
Sampai akhir, hancurnya dunia

Rajah namamu terpahat mati
Tak hilang dari sudut hati
Di mana sebuah nisan berdiri

Cinta kita bagai kembang api
Melesat pergi
Meledak indah pecahkan sunyi
Sudah itu
Membara api
Menyebar mati
Hanya abadi
Dalam imaji

Sebut ini apa yang kau mau

Yang kutahu

Yang ku mau

Kamu