Mengenai Empati

[EDIT] Diskusi di kolom komentar Facebook dengan DOKTER BENERAN membuat gue cukup yakin kalau ini bukan kasus PPD, tapi gue rasa ini tidak mengubah ide yang mau gue sampaikan mengenai empati dan jaga mulut, so I’m leaving the post as it is. With that in mind, please read away.
———

Baca berita soal kasus ibu yang membunuh anaknya itu dan gue merasa sangat-sangat sedih. Bukan hanya karena beritanya, tapi melihat komentar yang ada di dalamnya.

Secara biologis gue jelas nggak mungkin mengalami yang namanya depresi pasca melahirkan karena… y’know, nggak punya rahim to begin with. Makanya gue berusaha nggak komentar apa-apa karena setinggi apapun level empati gue, gue nggak akan bisa paham apa yang semua perempuan ini rasakan. Gue cuma bisa mencoba memahami kondisi mengapa kasus ini bisa terjadi tanpa memberikan penghakiman apa-apa.

Karena menjadi seorang ayah adalah salah satu impian gue, maka sudah sewajarnya gue membuka mata soal ini. Memahami masalah ibu, masalah perempuan, adalah sesuatu yang sangat krusial dan kebanyakan laki-laki sering miss.

Lalu gue membaca komentar-komentar di berita tersebut dan… sakit sih. Bukan karena membaca komentar laki-laki sok tahu, sok religius dan minim empati, gue udah expect kerak selangkangan macam begitu akan muncul, tapi karena membaca komentar dari sesama perempuan.

I expected more empathy, more comforting PoV, more stories being said to give the clueless men to understand more, but… none was actually found.

Iya ada komentator perempuan yang simpatik, yang berusaha menjadi voice of reason di tengah-tengah kegilaan ini, tapi sisi lainnya terdengar jauh lebih kencang. Orang-orang dengan mulut jahat yang menuduh macam-macam, mereka yang sok tahu dan mendadak jadi “ahli psikologi” sampai yang menurut gue paling parah… mereka yang meremehkan si ibu karena sudah punya pengalaman melahirkan sebelumnya. Mereka ini yang cenderung paling jahat komentarnya.

Tapi bukankah memang selalu begitu? Kita cenderung sok tahu dan sok jago untuk hal-hal yang kita pernah alami sebelumnya, merasa bahwa kalau kita bisa maka orang lain pasti harusnya juga bisa, melupakan bahwa masalah yang mungkin nampak sama di permukaan bisa jadi sangat berbeda di prakteknya.

Karena kita tidak tahu keuntungan apa yang kita miliki dibandingkan orang lain. Kita cenderung took our blessing for granted; melupakan fakta bahwa kita mungkin lebih kaya, lebih pintar, lebih stabil secara psikologis atau sesederhana kita punya lebih banyak teman.

Menjadi judgemental itu manusiawi, gue pun sering memiliki pikiran dan omongan jahat semacam itu. Tapi ada baiknya kita coba tahan sedikit sebelum kita beneran post/comment di area publik karena kita tidak tahu seberapa besar pengaruh tulisan kita ke orang lain yang membaca. Terdengar munafik memang, tapi ada baiknya yang jahat-jahat itu dilepaskannya di area yang lebih tertutup supaya yang mengkonsumsi juga bisa lebih tersaring.

Coba pikirkan aja kalau komentar jahat mengenai ibu malang itu dibaca oleh seorang ibu lain yang sedang mengalami stres pasca melahirkan. Stres yang sudah ada akan makin di-amplify karena komentar yang sebenernya juga nggak ada gunanya.

Buat apa sih? Terdengar pintar di kolom komentar detikcom? Cukup percaya bumi sebulat tahu aja kalian udah terdengar jenius kok di sana.

Your voice have effects. Use it wisely, please.

Tabik.

Kursi Nggak Salah Apa-Apa

Berapa sering kita melihat seorang anak berlari dan tersandung kursi dan menangis? Saya rasa ini adalah pemandangan yang sangat umum kita lihat. Dan setiap kejadian ini terjadi, berapa sering kita melihat pengasuh mereka (baik orangtua atau babysitter) yang memukul kursi tersebut sambil memarahi kursinya dan mengatakan kalau “kursinya nakal”? Bukan hal yang jarang, bukan?

 

Mungkin terlihat sederhana, tapi ada satu hal yang menurut saya cukup fatal di sini. Anak tersebut bisa tersandung bukanlah karena salah kursi tersebut, melainkan karena dia berlari dengan tidak hati-hati dan pengasuhnya tidak mengawasi. Si pengasuh, entah karena tidak mau merasa salah atau tidak mau menyalahkan si anak, akhirnya melimpahkan kesalahan tersebut ke sebuah benda mati yang tentu saja tidak bisa membantah dan akhirnya ada perasaan bebas dari rasa bersalah untuk si anak dan si pengasuh.

 

Kadang hal kecil kita sepelekan, namun hal besar bisa terjadi karena hal-hal kecil yang berkaitan; contohnya ya kebiasaan menyalahkan benda mati ini.

 

KPAI belum lama ini menuntut pemblokiran server game dan penghapusan beberapa game dari pasar Indonesia. Menyatakan bahwa game ini merusak anak-anak Indonesia dan hanya membawa dampak negatif pada mereka. Poin yang sesungguhnya debatable; permasalahannya adalah game-game tersebut memang dibuat untuk konsumsi dewasa, bukan anak-anak. Game itu tidak secara aktif meminta si anak untuk memainkan mereka, yang memiliki keputusan aktif untuk pergi memainkan game tersebut adalah si anak yang (seringkali) tidak diawasi atau dibimbing orangtuanya.

 

Namun seperti saat si anak tersandung kursi, di saat sesuatu hal yang buruk terjadi kita sudah punya defensive stance bahwa orangtua (atau pengasuh) dan anak itu tidak salah. Yang salah adalah “benda”; kenapa kursi itu harus ada di situ saat anak gue lari? Kesandung kan jadinya!

Dan hal ini membuat gue sangat sedih ketika membaca kasus pemerkosaan Yuyun beberapa hari yang lalu. Hell, kasus pemerkosaan manapun, karena selalu ada “benda” yang disalahkan selain si pemerkosa tersebut. Dia habis nonton film porno, oh salah film pornonya karena bikin nafsu. Dia habis minum bir, oh salah alkohol karena alkohol bikin dia mau memperkosa (?). Ceweknya pake baju seksi, oh salah ceweknya karena bikin nafsu.

 

Pause there.

 

Kalimat terakhir terasa kurang sreg? Tentu saja, saya juga ngetiknya kesel pake banget. Tapi faktanya kalimat itu sering banget terlontarkan dengan berbagai variasi yang intinya cuma satu: si cewek yang salah karena (isi sendiri).

 

Inilah yang bikin saya sedih sekaligus malu karena terlihat betapa masyarakat melindungi sekali “kelelakian” ini. Lelaki ini bagai anak yang tidak boleh salah, harus dilindungi oleh masyarakat sebagai pengasuh yang berkewajiban memberikan support agar si anak terus bisa berlari seenaknya dia tanpa halangan dan ketika dia tersandung atas kesalahannya sendiri, yang disalahkan adalah “benda” yang dihajarnya.

 

Ya, bagi si pengasuh kelelakian ini perempuan adalah “benda” yang ada untuk menggoda laki-laki agar mereka terjatuh. Andaikan si perempuan tidak “menggoda” (baca: tidak pake baju seksi) tinggal cari kambing hitam lain, bisa “kenapa keluar malam”, atau “salah sendiri jalan sendirian” atau, “nafsu habis nonton film porno” atau “namanya juga mabok”, atau banyak lagi alasan-alasan lainnya.

 

Seriously guys, people, how fragile is our masculinity? How weak are we, as men, until everyone have to protect us from the world rather than admitting the fact that we fuck up. Why do our masculinity have to be pampered like a rich baby being pampered by their maid to the point that we blame everything and degrading our VICTIM, a fellow human being, to a “thing” that “make us do evil stuffs”.

 

Kita manusia, kita punya akal. Di saat kita melakukan kesalahan dan itu adalah tanggungjawab kita sepenuhnya, bukan tanggungjawab siapa-siapa lagi. Ketika suatu saat kita terjatuh, ketika suatu saat kita berbuat salah, ingat satu hal sederhana:

 

Kursi nggak salah apa-apa.

 

Ditulis karena tergugah memberikan sekeping pikiran setelah membaca tulisan Bonni Rambatan di Rolling Stone mengenai budaya patriarkis kita.

Mengenai Jatuh Cinta

Apakah ada yang ingat pertama kali kalian merasakan naksir orang? Segala kebodohan, segala gugup, ragu, takut, bahkan mungkin malu adalah beberapa dari rasa dan laku yang mungkin ada pada masa-masa itu. Semalam gue melempar pertanyaan soal ini di Twitter, menanyakan apa hal terbodoh yang pernah kalian lakukan di kala naksir, dan jawabannya variatif mulai dari yang agak sedih sampai yang beneran lucu (in cute way, not ha-ha way of course).

Ada yang nelpon ke rumah gebetan hanya untuk dengar suaranya dan begitu dia bilang “halo” langsung ditutup, ada yang kirim salam lewat radio (we missed that, don’t we?), ada yang “nembak” dengan cara yang… unconventional.

(ini nembak ala shonen manga banget sih)

Tapi sedihnya semakin kita dewasa segala kebodohan ini perlahan menghilang dari hidup kita seiring dengan banyaknya tuntutan dan syarat dalam hubungan antara dua manusia. Semakin banyak ego, semakin banyak kepentingan, semakin banyak perasaan orang yang harus dijaga membuat kita jauh lebih berhati-hati dalam mengolah perasaan di kepala kita dan tentunya bagaimana mengekspresikannya.

Pun terkadang interaksi kita dengan manusia lain kadang mengubah bagaimana cara kita memandang perasaan kita sendiri.

Is this love?
Is this lust?
Is this just a willing to “own” someone?
Do I really like this person or do I just curious about her?
Does she really like me or she just want to uses me?
Does she only want me for my body?
Do I want her only because of her body?

All the questions, all the thinking, all the overthoughts, it gets tiring somehow.

Rasa-rasanya ini agak malu-maluin kalau diucapkan orang seumuran gue tapi… gue kangen jadi bego karena suka sama cewek. Gue kangen perasaan gugup dan malu-malu yang timbul cuma karena presensi seorang cewek, dan gue kangen dengan fakta bahwa semua itu muncul dari satu pikiran:

“Gue suka dia, harus gimana ya?”

Di mana gue hanya berpikir mengenai “bagaimana”, bukan “kenapa”. Jatuh cinta yang sederhana tanpa pretensi apa-apa, tanpa memikirkan “apa yang lo cari dari dia”, “kenapa lo bisa suka dia”, dan semua itu.

Karena jatuh cinta itu kan sederhana, kitanya aja yang suka bikin ribet sendiri.

“Cewek Banget”

Apa yang membuat gue sedih selama beberapa minggu belakangan ini adalah bagaimana gue tersadar betapa keras macho culture tertanam di pikiran kita tanpa kita sadari. Bahwa kita melihat laki-laki kemayu, laki-laki dandan, atau apapun yang “banci” sebagai “salah” karena mereka terlihat ingin menjadi perempuan; gender yang ditindas.
 
Mungkin terdengar terlalu kejam kalau gue ngomong seperti itu, tapi coba kita pikirkan; ketika perempuan mengenakan celana mereka dianggap sebagai pihak yang “empowered”, lebih dominan dibanding perempuan yang masih mengenakan rok. Sebaliknya, tidak usahlah kita bicara mengenai pria yang mengenakan rok, v-neck yang terlalu turun pun sudah dikomentarin: “melambai banget jadi laki”.
 
Melambai itu konon salah karena itu tidak manly, tidak “kuat”, tidak “dominan”, dan…
 
“Cewek banget.”
 
Omongan “cewek banget” dengan nada mengejek ini bukan sesuatu yang hanya dikatakan laki-laki ke laki-laki lainnya, tapi juga sangat sering diucapkan oleh perempuan, tanpa sadar bahwa mereka sedang merendahkan diri sendiri di saat bersamaan.
 
Dan ini baru ngomongin baju, belum ngomongin stereotip lain semacam bergosip, lama mandi, apalah-apalah.
Karena laki-laki selalu dianggap sebagai simbol kekuatan dan dominasi; maka perempuan adalah sosok yang dianggap sebagai simbol submisi, pasif, mereka yang harus ditindas dan diatur.
 
Pemikiran ini sudah terpatri kuat di pikiran kita sejak kecil sampai sekarang sehingga kita menerima saja fakta tersebut tanpa bertanya banyak.
 
Dan memandang aneh ketika seorang laki-laki memutuskan tinggal dan bekerja di rumah untuk lebih banyak menjaga anak karena istrinya memiliki pekerjaan yang lebih padat.
 
Dan memandang aneh ketika seorang perempuan memutuskan untuk fokus bekerja dan tidak berkeluarga.
 
Dan menerima begitu saja saat seorang istri berhenti dari pekerjaan dengan posisi tinggi untuk “ikut suami”.
 
Beranggapan bahwa suami harus berpenghasilan lebih tinggi dari istri, yang mengakibatkan konflik yang sebenarnya tidak perlu di rumah tangga.
 
Pola pikir inilah juga yang membuat perang gender nggak penting dan berujung anggapan bahwa feminisme itu adalah semacam balapan siapa yang lebih dominan; bahkan di kalangan beberapa feminis yang gue kenal.
 
And it’s sad, really. Karena ini sebetulnya bukan perkara dominasi-submisi, tapi perkara bahwa semua orang, apapun jenis kelaminnya, memiliki kesempatan yang sama di masyarakat untuk menjadi dan melakukan hal yang mereka inginkan. Terlalu banyak perempuan yang kehilangan kesempatan karena stigma berdasarkan kelamin dan terlalu banyak laki-laki yang depresi karena ego yang sebetulnya tidak berharga apa-apa.
 
All in the name of “kamu perempuan” dan “kamu laki-laki”.
 
Ini semua sudah terlalu melebar. Mari kita kembalikan ke awalnya yang sederhana dengan berhenti mengatakan “lo cewek banget deh” sebagai ejekan kepada laki-laki.
 
Karena jadi perempuan itu bukan sesuatu yang salah, ataupun terhina.
 
Selamat Hari Perempuan Internasional.

Empat Dinihari

So my first music video EVER is finally here. It took quite awhile to get everything handled and mastered, but with an IMMENSE amount of help from my college mates I finally be able to finish all the stuffs I need to finish.

I will release a full mixtape later this month, but for now please enjoy the song!

[Lyrics]

Jemari bertaut di penghujung hari
Sepasang kekasih pukul empat dinihari
Tersenyum dalam diam menikmati sepi
Detik berlari, seiring lampu kota menari

Mulut membisu, hati berlagu
Degup seirama seolah jadi satu
Terbisik kata cinta di penghujung asa
Disambut kecup lembut dan ia berkata:

Ikuti rasa, satukan kita,
kau terlalu berharga ‘tuk menjadi yang sementara
Waktu telah tumbuhkan cinta,
biarkan dia bersemi sekarang dan selamanya

Karna kuingin kamu sekarang dan selamanya
Kuingin kita bersama dalam susah dan bahagia
Berbagia cerita dalam duka maupun suka
Karna kau Puspita yang mekar hiasi dunia

Maka menikahlah denganku, kumohon jangan kau ragu
Engkau separuh jiwa, tanpamu ku tak ada, tanpamu ku tak akan ada

Genggam tanganku, rasakan cinta dariku
kuingin kita bersama meski waktu berlalu
Tatap mataku, lihat gelora di sana
lebih dari cinta yang terucap lewat kata

Genggam tanganku, rasakan cinta dariku
kuingin kita bersama meski waktu berlalu
Tatap mataku, lihat gelora di sana
lebih dari cinta yang terucap lewat kata

Ikuti rasa, satukan kita,
kau terlalu berharga ‘tuk menjadi yang sementara
Waktu telah tumbuhkan cinta,
biarkan dia bersemi sekarang dan selamanya

Untukmu…

Matahari Antasari

Hidup itu selalu bergerak. Meskipun tinggal di Depok, tapi hampir tiap minggu sepanjang masa SD gue main ke rumah oma gue di flat Jalan Sriwijaya, Blok M. Di jaman itu belum ada handphone, belum ada distraksi macam-macam dan membuat gue tanpa sadar menjadi lebih observant dengan lingkungan sekitar gue. Rumah, toko, baliho, gue memperhatikan semuanya lewat jendela mobil dan gue pun menyadari segala pergerakan dan perubahan mereka.
Perubahan paling drastis yang bisa gue ingat adalah hilangnya matahari di Antasari.
Jakarta Selatan selalu rimbun dan Antasari adalah satu jalan yang tidak luput dari kerimbunan itu. Seberapapun teriknya matahari selalu ada tempat untuk berteduh di bawah pohon sambil menikmati panasnya matahari yang menjadi hangat setelah ditahan dedaunan. Perlindungan yang natural dari serangan yang sama naturalnya, kompromi antara langit dan bumi untuk manusia. Kompromi yang sayangnya hilang seiring dengan berdirinya flyover yang angkuh. Keteduhan itu berubah menjadi halangan yang dingin tanpa satu pun celah untuk matahari mengintip malu-malu atau bersinar dengan cerah.
Don’t get me wrong, gue tidak masalah dengan adanya flyover tersebut. Itu adalah perubahan yang wajar seiring perkembangan jaman dan kebutuhan kita semua di kota ini. Ini adalah proses pendewasaan kota yang paralel dengan pendewasaan kita. Think about it, kita tumbuh dewasa dari anak-anak kecil yang penuh imajinasi liar menjadi orang dewasa yang terpola rapih dengan semua nilai, angka dan statistika, ini adalah pertumbuhan yang tidak bisa dielakkan.
Meskipun begitu gue percaya ada garis tengah di sana. Kita bisa menjadi orang dewasa yang terpola dengan tetap menyimpan sisi kreatif kekanakan kita, kota bisa tumbuh kaku dengan pilar-pilar pencakar langit dengan tetap memiliki taman dan kehidupan di antaranya. Itu semua adalah pilihan seiring waktu berjalan.
Ya, hidup itu selalu bergerak, selalu berubah, dan memiliki kendali untuk mengatur pergerakan itu. Bertahan sebagai pohon, berubah menjadi tiang beton yang angkuh atau berkompromi untuk hidup dengan keduanya pun adalah pilihan.
Dan pilihan-pilihan itulah yang membuat hidup kita, hidup.

I Don’t Understand People Sometimes

I don’t understand people sometimes.

We live in a patriarchal society where men are basically forced to dominate, to be leader, to “own”, otherwise he’ll be seen as someone that… well… not a man. And I don’t understand that.

Maybe I am an anomaly, but I always see these domination part of men as a sign of weakness. The very proof of how incompetent they are as a human being. I’m not a good guy. I fuck around, I break hearts, I have potty mouth and all that jazz. But one thing I really try not to do is making my partner a trophy for me.

There’s a sense of pride in men when they have a partner that follow whatever their order is.

“Don’t hang out with your bad friends!”
“Don’t wear revealing clothes!”

And all those fucking beta bullshit. When a man say that to a girl, she’s a trophy, not a partner.

You don’t need to tell your partner what to do, you trust them to never do anything that will hurt you. You inform them your problems and let them decide what to do (or not) to accommodate you dealing with your problems and insecurity. You give them the freedom as a human being to decide what is best to do according to their judgement.
Why? Because that way you let them get inside your head, understands you, knows what you want and what you need. You instill the understanding part in the relationship, not just fear of being scold or the misogyistic necessity to follow a certain rule because of the gender they born in. This way, the communication and the understanding goes both ways.
But then again you also need a partner with progressive mind, not those women who willingly let themselves to be the trophy and proud of being one.
Maybe I really am an anomaly at this because most people don’t see this the way I see it, and that’s why I don’t understand people sometimes.
– April 2015