Copy Who’s Style?

Remember this song? The one complaining about him being copied by some country’s rapper?

Well, this is an old song.

No, I don’t accuse anyone copying anyone. MAYBE it’s just him taking the irony way. You know, nyindir dengan cara.. nevermind, I’d rather not talk and let everyone to have their own judgements. Mungkin cumi. Mungkin.

Besides, using ‘sample’ is common. Right? RIGHT?

Making a Living with Comics

[ustream vid=15308192 hid=0 w=480 h=296]

Jadi singkat kata, kemarin gue mengundang banyak orang untuk datang ke event di @america yang gw inisiasi. Considering this and that, gw memutuskan untuk membagi rekaman event kemarin untuk yang membutuhkan. atau, well, nggak bisa dateng karena lagi ada di belahan bumi lain dan bersirik-sirik ria sambil misuh.

So well, enjoy!

More Than Just #PrayForJapan

Luna Sea Promise

Seperti sudah kita semua ketahui, Jepang gempa. Dan seperti kita semua sudah ketahui, banyak usaha untuk membantu mereka, lepas dari sinisme “bantuin yang deket dulu kek”, tapi terserahlah. Point is, some people are trying to help.

Mungkin kalian agak bosan karena lagi-lagi gw nulis soal Luna Sea, tapi mereka sudah merilis sebuah single berjudul “Promise” yang merupakan lagu baru pertama mereka setelah 10 tahun vakum dan rilis album yang cuma sekedar remake.

Seperti sudah bisa ditebak, lagu ini dinanti banyak orang karena selain fakta bahwa ini adalah lagu yang menyatakan kembalinya mereka sebagai sebuah band, seluruh penjualan dari lagu ini akan disumbangkan melalui Palang Merah untuk korban gempa bumi dan tsunami.

Tentu saja, link illegal downloadnya sudah beredar. Gw pun sudah mendengarkan lagunya via youtube dan akan gw embed di sini. Tapi sejujurnya, gw akan sangat senang alau setelah mendengar lagunya (yang menurut gw sangat memenuhi ekspektasi fan) cobalah ikut membeli secara legal. It’s for a good cause, and it’s not even expensive. Ada 3 pilihan di Amazon.co.jp, 200, 500, dan 1000 yen (antara 20.000 sampai 100.000 rupiah). Bebas pilih mau nyumbang berapa, lagunya tetap sama.

On serious note, I’m not affiliated to any management, this isn’t an ads, simply charity-purposed. And this is more than just another prayer.

Buat yang mau dengar lagunya dulu:

To be honest, gw juga pengen ada artis sini yang bikin lagu khusus buat tujuan amal seperti ini yang tidak terdengar memelas. I mean it, udah cukuplah tiap ada bencana dengernya Ebiet lagi, Ebiet lagi >__>;;.

Puisi Yang Mulai Ramai Diperbincangkan

Taufik Ismail – Kerendahan Hati   

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

—————————————–

Douglas Malloch – Be the Best of Whatever You Are

If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,
There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;
It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!

————————————–

CMIIW, Taufik Ismail tidak pernah menuliskan kalau itu karya saduran, no?

Kasihan Lho Anak Kecil Jaman Sekarang…

(Ini acara sunatan, btw.)

Gini sih sebetulnya masalah entertainment di negara ini. Di TV isinya “reality” show busuk dan infotainment nyampah. Kartun makin jarang, apalagi siaran edukasi. Di Bioskop untungnya mulai banyak film anak-anak, tapi jujur aja nggak semua orang tua punya cukup dana untuk membawa anak-anaknya ke sana, dan mereka dibesarkan dengan hiburan gratis yang bisa didapat dalam keseharian.

Jadi yah either TV, rental PS (karena murah), game online (idem), dan tontonan gratisan macam di atas itu.

Gw udah tuliskan pendapat singkat gw soal TV di atas. Jujur aja, susah berharap banyak sama media yang memang begitu jalannya. Yang bisa dilakukan hanya membatasi tontonan mereka atau mengawasi dan memberikan bimbingan saat mereka menatap kotak kaca itu, tapi apakah kita (orang tua, saudara, apalah) bisa dan rela melakukan itu? Kalaupun rela belum tentu sempat juga.

Belum lagi kasus ekstrim kayak video di atas.

Itu acara sunatan.

Dan kecuali anak lo namanya Robin Williams, dia pasti masih kecil.

Dan anak kecil pasti ngundang teman/saudara sebaya di acara sunatannya.

Gw tahu kalau sunatan itu salah satu momen pendewasaan anak-anak menjadi laki-lagi, TAPI NGGAK GINI JUGA CARANYA, NYEEEEET.

Kasihan lho, lepas dari kesempatan generasi di bawah kita untuk mendapatkan informasi, terbukanya pintu dunia untuk mereka juga berbarengan dengan pengetahuan yang… harusnya didapat dari mereka yang ahli ngasih tahunya. Itu aja udah jadi masalah, apalagi disodorin kayak begini.

Sigh entahlah, mungkin saatnya gw berhenti ngomel -_-;.

J, WUMF

j

Setelah kemarin gw nulis soal Luna Sea, sekarang kayaknya supaya afdol gw tulis soal masing-masing proyek solo personilnya. Nggak semuanya sih, cuma yang menarik ke gue aja, dan gw akan berfokus ke sang bassist, J.

Kenapa dia? Ini penjelasan singkat, karena setiap member Luna Sea proyek solonya ketika disband (pertama kali dan kedua kalinya) berbeda-beda mulai dari genre sampai respons audiens. Ryuichi Kawamura merilis album pop dan di 2011 ini baru saja merilis sebuah album cover yang… let’s say dia itu seperti Ronan Keatingnya Jepang. Title track dari albumnya adalah Bee Gees punya “How Deep is Your Love” yang dibikin lebih mendayu-dayu. Percayalah, BISA. SUGIZO sendiri lagunya agak ngejablai dengan sound techno dan solo gitar ala… well… dia. Jujur aja, album solo Sugi agak mengecewakan gw sebagai pendengar setia Sonora, there’s something missing aja. Inoran sendiri lagunya puya kecenderungan shoegazing dengan ritem gitar yang cukup “Luna Sea”. Karakternya kebaca lah, tapi karena gue pribadi nggak ngefans sama shoegaze ya… agak susah untuk gw suka. Inoran sekalipun.

J sendiri musiknya jauh lebih keras, raw, dan dengan vokalnya yang juga kasar. Spiritnya yang selalu meledak-ledak dari jaman Luna Sea (doi hobi lempar stand mic dan beberapa kali nyasar ke speaker dan/atau drum) membuat solo dia yang paling nyangkut di gw. Apalagi dengan slogan yang ditulis (kayaknya sih pake tipp ex) di bassnya dia; “wake up, motherfucker…!” (disingkat WUMF) kelihatan dong karakter dianya ini bagaimana. Jujur, gw baru ngesearch solo mereka beberapa lama sebelum ini karena sekarang akses untuk ngedengerin jauh lebih gampang dibanding… say… 2001.

…shit, udah 10 tahun.

Mungkin buat yang mau gampangnya, solo J ini jadi kayak semacam counterpart Jepang untuk Foo Fighter. I’ll give you one video:

(oke, gw rasa di sini pasti akan banyak wawanita yang suka Paman yang satu ini)

…apa, masih ada yang nanya solo albumnya Shinya? Selepas 2000, doski udah nggak bikin musik lagi. Bikinnya sekarang anak, berhubung nikahnya sama alumni Morning Musume =P.