Dari Sudut Kota, Untuk Puspita || #30HariMenulisSuratCinta: Day 11

Kamu memiliki hidupku.

Ya, kamu tahu sepenuhnya bahwa aku telah menyia-nyiakan banyak waktu dari hidupku untuk seorang wanita yang bahkan tidak pernah ingin tinggal. Menyerahkan porsi besar hidupku untuk seseorang yang tidak menginginkan aku di hidupnya sementara ada orang lain yang menginginkanku seperti aku menginginkanmu.

Ribet ya?

Memang ribet. Cinta, maaf, relasi dan keterikatan asmara antara dua manusia itu selalu ribet dan menyebalkan ketika keduanya memiliki pandangan yang berbeda akan keterikatan tersebut. Di mataku kamu adalah masa depan yang potensial; seorang wanita cerdas yang bisa berdebat denganku mengenai banyak hal, sangat disukai oleh wanita nomer satu di hidupku, bisa mengimbangiku di banyak hal sampai aku bisa berani bilang bahwa kamu adalah cerminan sempurna dariku. Macan versi wanita.

Tapi aku lupa satu hal. Aku adalah seseorang yang egois, brengsek, menyebalkan, dan begitu pula pun kamu.

Di matamu aku adalah… hanyalah “bad boy” (atau lebih tepatnya bed boy). Seseorang yang mengisi waktu senang dan luang selagi hidupmu masih bisa bebas sebelum terikat dalam pernikahan yang tradisional dengan suami baik-baik dari keluarga baik-baik.

Aku adalah seekor Macan, terlahir liar dan mendominasi di dalam chaos, bukan seseorang yang bagus untuk memimpinmu di rumah tangga karena yang kamu butuhkan adalah Naga… atau mungkin Sapi.

Dan ini bukan salahmu juga kok, ini juga sebagian besar adalah kesalahan dari ekspektasiku sendiri atas kita dan atas diriku sendiri.

Sudah satu setengah tahun sejak kita berpisah, dan hampir setahun sejak terakhir aku menatap wajahmu di pelaminan sebelum aku melangkah keluar dari gedung tua dengan aroma kental orba tersebut. Dan nampaknya… aku masih belum bisa melepaskan diri dari bayanganmu.

Aku rasa memang kamu memiliki bagian besar dari hidupku dan ada sisi kecil di dalam hatiku yang tidak ingin mengambilnya kembali. Seperti sandalmu yang masih berjejer rapih di depan pintu kamarku, high heels dan sepatu gym-mu yang masih ada di sudut kamarku, dan serpihan-serpihan kenangan di kota kecil tempat kita berdua dibesarkan.

Mungkin memang saatnya aku melangkah maju, namun bagaimana caranya aku tak tahu.

Dan jujur saja, aku rindu kamu.

– M

Bagaimana Surga? || #30HariMenulisSuratCinta Day 4

Bagaimana surga, Guys?

Sudah hampir dua tahun lho, dan aku masih kangen sampai sekarang. Aku masih ingat hari-hari di mana kalian selalu menyambutku dengan semangat setiap kali aku membuka pagar rumah, menggongong rusuh sambil tabrak-tabrakan di antara lumpur dan rumput kebun rumah.

Mereka bilang: “all dogs goes to heaven” dan aku sepenuhnya percaya. Kalian adalah temanku di hari terkelam hidupku, di saat semua orang menghilang dan meninggalkanku kalian terus ada menemani.

Sungguh, aku rasa tanpa kalian aku tidak akan ada di sini hari ini. Di saat malam terasa sangat dingin, kalian datang menyelusup dengan tubuh hangat dan penuh bulu kalian. Di saat semua orang menolak bicara kepadaku, kalian mendengkur kecil di telinga seolah mengingatkan aku bahwa aku tidak sendiri.

Mama kemarin curhat kalau dia suka kangen sama kalian, terutama Pinot yang sering mengikuti dia ke kamar mandi dan menjaga di depan pintu. Atau ketika siapapun berdebat dan kamu menyelusup di antara kami dan mendorong-dorong untuk melerai.

Aku? Aku hanya menyesal datang terlambat ke pemakaman kamu, Pinot; serta tidak berhasil menemukan lapo mana yang menculikmu, Piglet. Aku sering merasa gagal menjadi sahabat yang baik untuk kalian, mengingat betapa baik kalian kepadaku.

Mungkin suatu hari di masa depan aku akan memiliki rumah sendiri dengan halaman luas, dan di saat itu aku akan mengadopsi kawan-kawan kalian untuk menjadi sahabatku, sahabat anakku, dan aku dapat meneruskan cinta yang kalian pernah berikan ke dunia.

Untuk saat ini, tenang berdua di sana ya. Aku berusaha jadi orang yang baik juga kok, supaya saat waktunya tiba aku akan bisa ada di taman yang sama dengan kalian.

– M

Maaf || #30HariMenulisSuratCinta: Day 2

Selamat siang Eka,

Sudah berapa lama sejak kita terakhir bersua? Sudah berapa purnama, berapa senja, berapa cahaya dan berapa Bayang berlalu?

Entah, aku tak menghitungnya dan nampaknya kamu pun juga. Namun aku melihat sepertinya hidupmu berjalan terus dengan bahagia dan dengan sepenuh kejujuran aku akan mengatakan bahwa aku senang melihatnya. Hidupku? Ah, masih sama seperti biasa, tidak banyak yang berubah meskipun banyak tanjakan dan turunan yang memberikan dinamika untuk keseharian yang begitu-begitu saja.

Ada banyak hal yang bisa kutulis, banyak hal yang bisa kubagi, banyak cerita dan banyak penjelasan yang sebenarnya perlu kukatakan. Tapi semua rasanya hanya bisa kurangkum dalam satu kata:

Maaf.

Maaf karena kekanakanku dahulu, ujar dan drama, segala argumentasi yang tak perlu terjadi, maaf untuk itu semua. Sepantasnya aku dahulu lebih dewasa.

Ah dewasa, sampai menjelang dasawarsa ketiga hidupku ini aku merasa diriku masih lelaki yang sama. Spontan, keras, emosional dan baru berpikir setelah bicara. Sifat yang merusak apa yang (mungkin) pernah ada di antara kita, entah itu cinta atau sekedar saling perlu. Sesuatu yang masih menjadi hantu bisu di sudut hatiku bahkan setelah lebih dari setengah windu berlalu.

Dan aku pun tak mengharap apa-apa, hanya sekedar dibaca saja tak mengapa. Karena toh pada akhirnya barisan kata ini bisa dirangkum dalam empat huruf saja.

Maaf.

Maaf untuk yang terjadi.
Maaf untuk yang tak sempat terjadi.
Maaf untuk kebohongan.
Maaf untuk jujur yang kadang keterlaluan.

Dan terima kasih. Untuk apa yang sempat terjadi, terima kasih untuk lima menitnya hari ini, dan pada akhirnya teruslah berbahagia. Seburuk apapun kenangannya, percayalah bahwa di sana sempat ada cinta.

– M

Normal || #30hariMenulisSuratCinta: Day 1

Mereka bilang aku normal. Aku adalah seorang laki-laki yang menyukai wanita, bertubuh tegap dengan rambut botak dan otot maskulin yang terlatih. Aku selalu hidup sebagai mayoritas. Di segala lini aku terlindungi, di segala sisi aku aman, dan mereka bilang aku normal.
Meski untukku
Kenormalan ini sakit
Kenormalan ini tidak wajar
Karena kenormalan ini seolah membuatku memiliki hak untuk menyerang mereka yang “tidak normal”.┬áKenormalan ini memberikan justifikasi untuk menekan mereka yang terlahir berbeda, menghinakan semua yang berjalan di jalur yang “tak seharusnya”, karena semua ketidaknormalan itu adalah ancaman bagi semua yang normal.
Dan apakah jika aku berkata sejujurnya, sepenuhnya, bahwa aku mencintai kalian yang “tidak normal” maka kenormalanku akan hilang?
Jika demikian, maka biarkan aku berkata dengan lantang bahwa aku mencintai kalian semua.
Kamu yang mencintai sejenismu, aku cinta padamu
Kamu yang terjebak di area abu-abu, aku pun cinta padamu
Kamu yang terlahir dengan jiwa yang tak serupa dengan raga, aku mencintaimu juga
Bahkan kalian yang “normal” dan menjalani hari dengan kebencian di hati
Biarkan kalian kucintai
Biarkan kemarahanku berhenti di laku dan aksi
Dan aku tak terjerumus di kebodohan generalisasi
Biarkan aku melepas kenormalanku
Karena cinta
Niscaya selalu gila