Site Overlay

Capres, Identitas

Selama ini gue lihat pendukung capres itu sudah seperti pendukung sepakbola atau wota. Capres dukungan mereka itu selalu dibelain mati-matian dan melupakan fakta kalau yang mereka bela itu, in fact, jauh dari sempurna. Gue percaya fanatisme ini terjadi karena kita menyematkan identitas kelompok sebagai identitas kita.

Di satu sisi ini sangat wajar karena ya namanya juga euphoria. Seperti saat kita ada di lapangan bola atau tribun konser, energi “kami” sebagai kelompok itu sangat kuat sehingga saat satu berteriak semua bisa ikutan teriak, satu goyang dan satu stadion langsung Mexican Wave.

Yang jadi masalah kan ketika ini ada di ruang-ruang personal.

Banyak komentar yang merasa pilpres itu memecah mereka, dan ini bener banget karena “identitas” baru beberapa orang sebagai bongpret (sila pilih sisi) itu disematkan beberapa individu di atas identitas mereka sebagai manusia.

Gampangnya begini.

Selain bongpret elu itu siapa sih? Apa yang mendefinisikan elu sebagai manusia? Mungkin elu EXO-L yang juga Sobat Padi merangkap Liverpudian Trekkie. Elu menempatkan prioritas satu identitas di atas identitas lain, jadi elu bisa berantem dengan sesama Trekkie karena beda tim bola dan lo bisa berantem sama sesama fans Liverpool karena ternyata mereka ARMY dan berakhir berantem dengan sesama EXO-L Karen perkara bongpret.

Setiap tingkat “identitas” ini mempersempit ruang pergaulan dan membuat kita makin masuk ke dalam bubble yang isinya kita-kita aja yang beridentitas sama dan memiliki pandangan yang sama.

Ujungnya ya kita jadi susah menerima hal baru karena kita terlalu sibuk mengerucutkan diri melalui berbagai layer identitas banal.

Padahal kan bisa dibalik.

Lo suka BTS dan gue suka EXO? Gapapa, kita sama-sama suka Liverpool.

Lo suka Tottenham dan gue suka Liverpool? Gapapa, kita sama-sama suka Star Trek.

Lo suka Star Wars dan gue suka Star Trek? Gapapa, kita sama-sama cebong.

Lo cebong gue kampret? Ya gapapa, sama-sama manusia Indonesia kok. Lo suka EXO, Liverpool, atau Star Trek nggak? Beda politik bisa jadi nyambung di hal lain, kan?

Identitas kelompok yang lo sematkan di dada lo jangan sampai jadi alasan lo menyempitkan identitas, malah kalau bisa gunakan itu untuk memperluasnya, untuk mendapatkan teman di kelompok yang berseberangan dengan lo.

Contoh lain yang paling konkrit mungkin driver ojek online. Mereka bisa aja berantem karena yang satu Gojek dan yang satu Grab, tapi di jalanan mereka nongkrong bareng karena sama-sama cari duit dan sama-sama sadar kalau ya percuma ribut.

Ya kayak kita ini, percuma juga ribut.


record scratch

“Tapi Can, bukannya lo pernah bilang kalau Pilpres/Pilkada ini bagus buat saringan pertemanan?”

Ya memang. Tapi saringannya bukan menyaring siapa yang berbeda pandangan dengan kita, tapi siapa yang rasis dan GUWOBLOG.

Dan perkara itu nggak kenal identitas atau pandangan politik. Mau bong mau pret, kalau goblok ya goblok aja.

RustyrevolveR
Scroll Up