Between Boss and Leader

(Last post from previous Pilpres, seriously)

Selama pilpres ini, wacana yang sering berkembang dalam perbandingan Jokowi vs Prabowo adalah yang satu “pemimpin” sedangkan yang satu adalah “pekerja” dan menurut gue, itu 50% benar. Tentu saja ini bias karena preferensi politis gue, tapi biarkan gue jelaskan dulu.

Alkisah di suatu masa waktu gue kelas 2 SMP, ada seorang kepala sekolah baru bernama Pak Ating. Dia adalah seseorang yang tahun sebelumnya tidak mengajar di sekolah gue, benar-benar baru dan di-assign untuk memegang posisi tersebut. Beliau memiliki satu kebiasaan yang menurut gue sangat jarang dimiliki orang di posisinya; selalu datang jam setengah 6 dan menyapu halaman sekolah, bahkan mendahului cleaning service sekolah gue.

Apakah ini adalah perilaku “pekerja”? Menurut logika kebanyakan orang dalam memandang Jokowi saat ini: iya. Tapi di mata gue, Bapak Ating ini adalah sosok pemimpin yang pertama kali gue temukan di lingkungan luar rumah (sosok pertama adalah Eyang Kakung gue, cuma itu kita bahas lain kali saja lah). Kenapa gue mengatakan beliau adalah “pemimpin”? Karena beliau menunjukkan bahwa kita bisa memimpin tanpa memerintah. Seiring waktu berjalan, mulai banyak murid yang datang lebih awal dan melaksanakan piket pagi karena merasa malu kalau “kalah” sama seseorang tua yang jabatannya ada jauh di atas mereka. Tidak semua murid melaksanakannya tentu saja, namun beliau telah melahirkan sejumlah murid yang memiliki keasadaran dan inisiatif melalui sikapnya.

Secara umum, ada dua jenis authorities yang gue temui sepanjang hidup: yang “leading by order” dan yang “leading by example“. Keduanya gue temui dalam beberapa kesempatan berbeda di berbagai posisi berbeda, mulai dari pemegang jabatan di kantor sampai sekedar pemimpin di rumah tangga maupun yang seremeh pacaran. Lho iya, bahkan di dalam pacaran pun biasanya ada satu pihak yang lebih memiliki kuasa dibanding satunya, sama kayak suami-istri, cuma levelnya jauh lebih rendah.

Tapi dalam interaksi-interaksi leaders-followers ini gue bisa lihat bagaiana cara mereka menangani situasi dan konflik, serta cara mereka memimpin. Kadar mungkin berbeda, tapi mindset dasar tetap sama.

Bapak Ating dan Jokowi adalah contoh “leading by example“. Tentu saja mereka bisa (dan akan) memberikan perintah dengan menggunakan hak mereka sebagai seseorang dengan kuasa, tapi mereka tidak akan semata menyuruh saja, mereka juga akan memberikan contoh dan menunjukkan kepada orang yang mereka pimpin kalau “gue nggak cuma nyuruh-nyuruh lho, gue juga kerja”.

Atau mari gunakan analogi yang lebih sederhana.

Dua keluarga pulang mudik; di keluarga A si bapak duduk di depan memegang kemudi mobil sepanjang perjalanan sambil sesekali meminta tukar dengan anaknya yang paling dewasa kalau capek, sementara di keluarga B si bapak duduk di belakang karena sudah menyewa supir untuk perjalanan ini.

Bapak di keluarga A dan B sama-sama “pemimpin”, jelas. Tapi kedua bapak ini menggunakan otoritas mereka dengan cara yang berbeda. Apakah kalian bisa mengatakan bahwa bapak di keluarga A itu adalah “pekerja” karena dia mengerjakan hal yang sesungguhnya bisa dilaksaakan oleh orang lain juga? Nggak usah dijawab, direnungkan aja. Kalau setuju kalo dia semata “pekerja” ya nggak apa-apa juga lagian.

Di mata gue, perbedaan approach inilah yang membedakan antara “leader” dan “boss”.

Sedihnya kita terlalu terbiasa dengan stamp pemimpin yang baik adalah mereka yang keras; yang otoriter. Dimulai dari jaman sekolah, kita takut dengan guru killer yang galaknya minta ampun, di kantor kita takut berbuat salah karena atasan bisa marah-marah, kita terbiasa dipaksa menurut dengan ancaman bahkan dari jaman kita masih bercelana merah.

Makanya banyak dari kita yang mudah terbutakan oleh image besar dan tegap, image menjajah, lupa bahwa kepemimpinan itu bisa dilaksanakan melalui cara-cara lain.

Lalu kembali ke Jokowi dan Prabowo, gue tidak akan menyangkal bahwa Prabowo memiliki kualitas untuk memimpin, namun di saat yang sama gue juga akan mempertahankan pandangan gue bahwa Jokowi juga memiliki kualitas seorang pemimpin. Keduanya memiliki cara yang berbeda, tinggal kita yang memilih mau yang mana.

– M

RustyrevolveR