Berhenti Membenci Lawan, Mulai Menyukai Kawan

(Juga ditulis saat panas-panasnya Pilpres)

“I was once asked why I don’t participate in anti-war demonstrations. I said that I will never do that, but as soon as you have a pro-peace rally, I’ll be there.” – Bunda Teresa.

Gue teringat quote ini tadi pagi di perjalanan menuju kantor saat memikirkan keberpihakan gue dalam capres kali ini. Stance gue adalah “anti Prabowo”, suara gue didorong oleh ketidaksukaan gue terhadap dia dengan segala alasan yang gue rasa harusnya sudah self-explanatory dan tidak perlu gue ulang-ulang terus. The quote struck me because this whole election fiasco has pull the positivity away from me. Maybe I should set aside my hate towards Prabowo and think about why I should vote for Jokowi, aside from he’s the lesser evil and the enemy of my enemy.

See? I start to sound like George Fucking Bush. Let’s move away from that.

Jokowi menginginkan perubahan, revolusi mental, seperti yang pernah gue singgung di tulisan gue sebelum ini. Dan gue teringat sama sebuah desa utopia di jaman Orba, desa Sukamaju. Ada yang masih inget nama desa yang selalu ada di setiap buku pelajaran Bahasa Indonesia dan PMP ini?

Desa Sukamaju ini adalah Indonesia ideal di mata Orba. Namun lepas dari propaganda mereka, ada satu hal yang menurut gue bagus untuk dikenang: “gotong royong”.

Ya, warga Desa Sukamaju selalu bergotong-royong dalam menyelesaikan masalah, mulai dari bekerja bakti, membantu tetangga yang kesulitan, membangun fasilitas umum, semuanya dikerjakan bersama-sama dan dirawat bersama. Setiap warga memiliki sense of belonging kepada desa tersebut, maka dari itu semua warga merasa bertanggungjawab terhadap desa tersebut.

Utopis gila-gilaan, tapi ini adalah identitas “Indonesia” yang diidentikkan dengan Pancasila, dan inilah identitas “Indonesia” yang semakin hilang semakin hari berjalan.

Tapi itulah yang perlahan gue rasakan setiap gue menelaah isi kampanye Jokowi. Dia mengajak merevolusi pola pikir kita, mengembalikan rasa memiliki itu. Dia menginginkan politik yang bertanggungjawab karena kesamaan visi, bukan karena transaksional. Revolusi mental yang dia kemukakan tidak hanya untuk memperbaiki negeri ini, tapi juga untuk memperbaiki diri kita sendiri dengan mengembalikan rasa memiliki itu.

Maka dari itu dia membuka rekening untuk menerima sumbangan dari para pendukung, agar setiap pergerakan yang dia lakukan didanai langsung oleh orang-orang yang percaya akan dia, agar pergerakan kampanye ini bukan menjadi kampanye “Jokowi-JK”, tapi menjadi kampanye “kita semua”.

Maka dari itu juga dia tidak menukar dukungan dengan janji-janji politis. Tidak ada posisi menteri yang dipersiapkan untuk parpol pendukung; praktek politik yang umum dilakukan di sini selama bertahun-tahun. Posisi menteri disediakan untuk mereka yang benar-benar mampu dan mau. Menteri berharga karena apa yang mereka bisa lakukan, bukan karena asal partai mereka.

Dan karena ini gue merasa tertarik untuk memberikan dukungan, melalui bilik suara maupun melalui tulisan, karena gue merasa kampanye ini menghargai manusia sebagai manusia, bukan sebagai statistik.

Gue bisa salah menilai, manusia tentu saja bisa berkhianat, tapi yang jelas sekarang gue merasa nyaman. Setelah melihat apa Jokowi janjikan, gue bisa mulai berhenti berpikir untuk membenci lawan dan mulai berpikir untuk menyukai kawan. Dan gue rasa ini jauh lebih sehat

– M

RustyrevolveR