Mengenai Jatuh Cinta

Apakah ada yang ingat pertama kali kalian merasakan naksir orang? Segala kebodohan, segala gugup, ragu, takut, bahkan mungkin malu adalah beberapa dari rasa dan laku yang mungkin ada pada masa-masa itu. Semalam gue melempar pertanyaan soal ini di Twitter, menanyakan apa hal terbodoh yang pernah kalian lakukan di kala naksir, dan jawabannya variatif mulai dari yang agak sedih sampai yang beneran lucu (in cute way, not ha-ha way of course).

Ada yang nelpon ke rumah gebetan hanya untuk dengar suaranya dan begitu dia bilang “halo” langsung ditutup, ada yang kirim salam lewat radio (we missed that, don’t we?), ada yang “nembak” dengan cara yang… unconventional.

(ini nembak ala shonen manga banget sih)

Tapi sedihnya semakin kita dewasa segala kebodohan ini perlahan menghilang dari hidup kita seiring dengan banyaknya tuntutan dan syarat dalam hubungan antara dua manusia. Semakin banyak ego, semakin banyak kepentingan, semakin banyak perasaan orang yang harus dijaga membuat kita jauh lebih berhati-hati dalam mengolah perasaan di kepala kita dan tentunya bagaimana mengekspresikannya.

Pun terkadang interaksi kita dengan manusia lain kadang mengubah bagaimana cara kita memandang perasaan kita sendiri.

Is this love?
Is this lust?
Is this just a willing to “own” someone?
Do I really like this person or do I just curious about her?
Does she really like me or she just want to uses me?
Does she only want me for my body?
Do I want her only because of her body?

All the questions, all the thinking, all the overthoughts, it gets tiring somehow.

Rasa-rasanya ini agak malu-maluin kalau diucapkan orang seumuran gue tapi… gue kangen jadi bego karena suka sama cewek. Gue kangen perasaan gugup dan malu-malu yang timbul cuma karena presensi seorang cewek, dan gue kangen dengan fakta bahwa semua itu muncul dari satu pikiran:

“Gue suka dia, harus gimana ya?”

Di mana gue hanya berpikir mengenai “bagaimana”, bukan “kenapa”. Jatuh cinta yang sederhana tanpa pretensi apa-apa, tanpa memikirkan “apa yang lo cari dari dia”, “kenapa lo bisa suka dia”, dan semua itu.

Karena jatuh cinta itu kan sederhana, kitanya aja yang suka bikin ribet sendiri.

“Cewek Banget”

Apa yang membuat gue sedih selama beberapa minggu belakangan ini adalah bagaimana gue tersadar betapa keras macho culture tertanam di pikiran kita tanpa kita sadari. Bahwa kita melihat laki-laki kemayu, laki-laki dandan, atau apapun yang “banci” sebagai “salah” karena mereka terlihat ingin menjadi perempuan; gender yang ditindas.
 
Mungkin terdengar terlalu kejam kalau gue ngomong seperti itu, tapi coba kita pikirkan; ketika perempuan mengenakan celana mereka dianggap sebagai pihak yang “empowered”, lebih dominan dibanding perempuan yang masih mengenakan rok. Sebaliknya, tidak usahlah kita bicara mengenai pria yang mengenakan rok, v-neck yang terlalu turun pun sudah dikomentarin: “melambai banget jadi laki”.
 
Melambai itu konon salah karena itu tidak manly, tidak “kuat”, tidak “dominan”, dan…
 
“Cewek banget.”
 
Omongan “cewek banget” dengan nada mengejek ini bukan sesuatu yang hanya dikatakan laki-laki ke laki-laki lainnya, tapi juga sangat sering diucapkan oleh perempuan, tanpa sadar bahwa mereka sedang merendahkan diri sendiri di saat bersamaan.
 
Dan ini baru ngomongin baju, belum ngomongin stereotip lain semacam bergosip, lama mandi, apalah-apalah.
Karena laki-laki selalu dianggap sebagai simbol kekuatan dan dominasi; maka perempuan adalah sosok yang dianggap sebagai simbol submisi, pasif, mereka yang harus ditindas dan diatur.
 
Pemikiran ini sudah terpatri kuat di pikiran kita sejak kecil sampai sekarang sehingga kita menerima saja fakta tersebut tanpa bertanya banyak.
 
Dan memandang aneh ketika seorang laki-laki memutuskan tinggal dan bekerja di rumah untuk lebih banyak menjaga anak karena istrinya memiliki pekerjaan yang lebih padat.
 
Dan memandang aneh ketika seorang perempuan memutuskan untuk fokus bekerja dan tidak berkeluarga.
 
Dan menerima begitu saja saat seorang istri berhenti dari pekerjaan dengan posisi tinggi untuk “ikut suami”.
 
Beranggapan bahwa suami harus berpenghasilan lebih tinggi dari istri, yang mengakibatkan konflik yang sebenarnya tidak perlu di rumah tangga.
 
Pola pikir inilah juga yang membuat perang gender nggak penting dan berujung anggapan bahwa feminisme itu adalah semacam balapan siapa yang lebih dominan; bahkan di kalangan beberapa feminis yang gue kenal.
 
And it’s sad, really. Karena ini sebetulnya bukan perkara dominasi-submisi, tapi perkara bahwa semua orang, apapun jenis kelaminnya, memiliki kesempatan yang sama di masyarakat untuk menjadi dan melakukan hal yang mereka inginkan. Terlalu banyak perempuan yang kehilangan kesempatan karena stigma berdasarkan kelamin dan terlalu banyak laki-laki yang depresi karena ego yang sebetulnya tidak berharga apa-apa.
 
All in the name of “kamu perempuan” dan “kamu laki-laki”.
 
Ini semua sudah terlalu melebar. Mari kita kembalikan ke awalnya yang sederhana dengan berhenti mengatakan “lo cewek banget deh” sebagai ejekan kepada laki-laki.
 
Karena jadi perempuan itu bukan sesuatu yang salah, ataupun terhina.
 
Selamat Hari Perempuan Internasional.

Dari Sudut Kota, Untuk Puspita || #30HariMenulisSuratCinta: Day 11

Kamu memiliki hidupku.

Ya, kamu tahu sepenuhnya bahwa aku telah menyia-nyiakan banyak waktu dari hidupku untuk seorang wanita yang bahkan tidak pernah ingin tinggal. Menyerahkan porsi besar hidupku untuk seseorang yang tidak menginginkan aku di hidupnya sementara ada orang lain yang menginginkanku seperti aku menginginkanmu.

Ribet ya?

Memang ribet. Cinta, maaf, relasi dan keterikatan asmara antara dua manusia itu selalu ribet dan menyebalkan ketika keduanya memiliki pandangan yang berbeda akan keterikatan tersebut. Di mataku kamu adalah masa depan yang potensial; seorang wanita cerdas yang bisa berdebat denganku mengenai banyak hal, sangat disukai oleh wanita nomer satu di hidupku, bisa mengimbangiku di banyak hal sampai aku bisa berani bilang bahwa kamu adalah cerminan sempurna dariku. Macan versi wanita.

Tapi aku lupa satu hal. Aku adalah seseorang yang egois, brengsek, menyebalkan, dan begitu pula pun kamu.

Di matamu aku adalah… hanyalah “bad boy” (atau lebih tepatnya bed boy). Seseorang yang mengisi waktu senang dan luang selagi hidupmu masih bisa bebas sebelum terikat dalam pernikahan yang tradisional dengan suami baik-baik dari keluarga baik-baik.

Aku adalah seekor Macan, terlahir liar dan mendominasi di dalam chaos, bukan seseorang yang bagus untuk memimpinmu di rumah tangga karena yang kamu butuhkan adalah Naga… atau mungkin Sapi.

Dan ini bukan salahmu juga kok, ini juga sebagian besar adalah kesalahan dari ekspektasiku sendiri atas kita dan atas diriku sendiri.

Sudah satu setengah tahun sejak kita berpisah, dan hampir setahun sejak terakhir aku menatap wajahmu di pelaminan sebelum aku melangkah keluar dari gedung tua dengan aroma kental orba tersebut. Dan nampaknya… aku masih belum bisa melepaskan diri dari bayanganmu.

Aku rasa memang kamu memiliki bagian besar dari hidupku dan ada sisi kecil di dalam hatiku yang tidak ingin mengambilnya kembali. Seperti sandalmu yang masih berjejer rapih di depan pintu kamarku, high heels dan sepatu gym-mu yang masih ada di sudut kamarku, dan serpihan-serpihan kenangan di kota kecil tempat kita berdua dibesarkan.

Mungkin memang saatnya aku melangkah maju, namun bagaimana caranya aku tak tahu.

Dan jujur saja, aku rindu kamu.

– M

Untuk Intan

Halo Intan,

Aku sempat ragu haruskah aku membalas suratmu dengan cara kamu mengirim (yang berarti ini mungkin baru bisa kamu baca besok malam) atau haruskah aku balas langsung?

Tapi kamu tahu bagaimana aku lah, makanya kamu bisa membaca ini malam ini alih-alih besok ;).

Pertama dan sangat pertama, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih sudah berani mengungkapkan perasaan yang mungkin tidak banyak yang bisa mengutarakan, apalagi melalui medium yang cukup publik seperti ini. Dan jujur saja lah, siapa sih yang nggak senang mendapat surat cinta?

Kamu menuliskan banyak sanjungan, banyak curahan perasaan, dan sejujurnya aku merasa tidak pantas mendapatkannya.

Segala kebaikanku yang kamu saksikan itu bukannya sesuatu yang tak berpamrih kok. Untukku, menolong dan mendengarkan masalah seseorang adalah cara terbaik untukku terus mengoreksi diri, mengingatkan diriku bahwa masalah dalam hidupku bukanlah masalah terbesar yang pernah ada, dan semua itu juga membantuku mendapatkan rasa nyaman karena aku merasa… “dibutuhkan”.  I’m a selfish human being with selfish intention of living and I admit that, don’t give me too much credit, hahaha.

Aku sering berkata bahwa “never put your love for someone else above your love for yourself” saat ini aku ingin meminta itu dulu ke kamu.

Jangan pernah merasa kamu tidak cukup cantik.
Jangan terhambat imaji yang kamu tempel ke dirimu sendiri.
Jangan berpikir bahwa kamu “kurang” untuk pasanganmu, siapapun itu.
Jangan merasa minder untuk sesuatu yang tidak perlu.

Dan biar bagaimanapun kamu ragu, jangan pernah menunjukkan itu kepada dunia. Cobalah berdiri, jadilah manusia yang kuat dan tantanglah dunia dimulai dari menantang dirimu sendiri dengan menghapus semua “tapi” di hati.

Karena cinta yang paling abadi seharusnya adalah cintamu kepada diri sendiri.

Terima kasih untuk membagi perasaanmu, terima kasih karena sudah membuatku tersenyum malam-malam begini.

Dan terima kasih semangatnya. Tunggu hasilnya ya 14 Februari nanti :).

-M

Bagaimana Surga? || #30HariMenulisSuratCinta Day 4

Bagaimana surga, Guys?

Sudah hampir dua tahun lho, dan aku masih kangen sampai sekarang. Aku masih ingat hari-hari di mana kalian selalu menyambutku dengan semangat setiap kali aku membuka pagar rumah, menggongong rusuh sambil tabrak-tabrakan di antara lumpur dan rumput kebun rumah.

Mereka bilang: “all dogs goes to heaven” dan aku sepenuhnya percaya. Kalian adalah temanku di hari terkelam hidupku, di saat semua orang menghilang dan meninggalkanku kalian terus ada menemani.

Sungguh, aku rasa tanpa kalian aku tidak akan ada di sini hari ini. Di saat malam terasa sangat dingin, kalian datang menyelusup dengan tubuh hangat dan penuh bulu kalian. Di saat semua orang menolak bicara kepadaku, kalian mendengkur kecil di telinga seolah mengingatkan aku bahwa aku tidak sendiri.

Mama kemarin curhat kalau dia suka kangen sama kalian, terutama Pinot yang sering mengikuti dia ke kamar mandi dan menjaga di depan pintu. Atau ketika siapapun berdebat dan kamu menyelusup di antara kami dan mendorong-dorong untuk melerai.

Aku? Aku hanya menyesal datang terlambat ke pemakaman kamu, Pinot; serta tidak berhasil menemukan lapo mana yang menculikmu, Piglet. Aku sering merasa gagal menjadi sahabat yang baik untuk kalian, mengingat betapa baik kalian kepadaku.

Mungkin suatu hari di masa depan aku akan memiliki rumah sendiri dengan halaman luas, dan di saat itu aku akan mengadopsi kawan-kawan kalian untuk menjadi sahabatku, sahabat anakku, dan aku dapat meneruskan cinta yang kalian pernah berikan ke dunia.

Untuk saat ini, tenang berdua di sana ya. Aku berusaha jadi orang yang baik juga kok, supaya saat waktunya tiba aku akan bisa ada di taman yang sama dengan kalian.

– M

Maaf || #30HariMenulisSuratCinta: Day 2

Selamat siang Eka,

Sudah berapa lama sejak kita terakhir bersua? Sudah berapa purnama, berapa senja, berapa cahaya dan berapa Bayang berlalu?

Entah, aku tak menghitungnya dan nampaknya kamu pun juga. Namun aku melihat sepertinya hidupmu berjalan terus dengan bahagia dan dengan sepenuh kejujuran aku akan mengatakan bahwa aku senang melihatnya. Hidupku? Ah, masih sama seperti biasa, tidak banyak yang berubah meskipun banyak tanjakan dan turunan yang memberikan dinamika untuk keseharian yang begitu-begitu saja.

Ada banyak hal yang bisa kutulis, banyak hal yang bisa kubagi, banyak cerita dan banyak penjelasan yang sebenarnya perlu kukatakan. Tapi semua rasanya hanya bisa kurangkum dalam satu kata:

Maaf.

Maaf karena kekanakanku dahulu, ujar dan drama, segala argumentasi yang tak perlu terjadi, maaf untuk itu semua. Sepantasnya aku dahulu lebih dewasa.

Ah dewasa, sampai menjelang dasawarsa ketiga hidupku ini aku merasa diriku masih lelaki yang sama. Spontan, keras, emosional dan baru berpikir setelah bicara. Sifat yang merusak apa yang (mungkin) pernah ada di antara kita, entah itu cinta atau sekedar saling perlu. Sesuatu yang masih menjadi hantu bisu di sudut hatiku bahkan setelah lebih dari setengah windu berlalu.

Dan aku pun tak mengharap apa-apa, hanya sekedar dibaca saja tak mengapa. Karena toh pada akhirnya barisan kata ini bisa dirangkum dalam empat huruf saja.

Maaf.

Maaf untuk yang terjadi.
Maaf untuk yang tak sempat terjadi.
Maaf untuk kebohongan.
Maaf untuk jujur yang kadang keterlaluan.

Dan terima kasih. Untuk apa yang sempat terjadi, terima kasih untuk lima menitnya hari ini, dan pada akhirnya teruslah berbahagia. Seburuk apapun kenangannya, percayalah bahwa di sana sempat ada cinta.

– M

Normal || #30hariMenulisSuratCinta: Day 1

Mereka bilang aku normal. Aku adalah seorang laki-laki yang menyukai wanita, bertubuh tegap dengan rambut botak dan otot maskulin yang terlatih. Aku selalu hidup sebagai mayoritas. Di segala lini aku terlindungi, di segala sisi aku aman, dan mereka bilang aku normal.
Meski untukku
Kenormalan ini sakit
Kenormalan ini tidak wajar
Karena kenormalan ini seolah membuatku memiliki hak untuk menyerang mereka yang “tidak normal”. Kenormalan ini memberikan justifikasi untuk menekan mereka yang terlahir berbeda, menghinakan semua yang berjalan di jalur yang “tak seharusnya”, karena semua ketidaknormalan itu adalah ancaman bagi semua yang normal.
Dan apakah jika aku berkata sejujurnya, sepenuhnya, bahwa aku mencintai kalian yang “tidak normal” maka kenormalanku akan hilang?
Jika demikian, maka biarkan aku berkata dengan lantang bahwa aku mencintai kalian semua.
Kamu yang mencintai sejenismu, aku cinta padamu
Kamu yang terjebak di area abu-abu, aku pun cinta padamu
Kamu yang terlahir dengan jiwa yang tak serupa dengan raga, aku mencintaimu juga
Bahkan kalian yang “normal” dan menjalani hari dengan kebencian di hati
Biarkan kalian kucintai
Biarkan kemarahanku berhenti di laku dan aksi
Dan aku tak terjerumus di kebodohan generalisasi
Biarkan aku melepas kenormalanku
Karena cinta
Niscaya selalu gila