Aku, Di Atas Normal

Teriakan mereka menulikan telingaku, ribuan kelvin cahaya berjuta warna menyorot tubuhku yang mulai mengurus dimakan waktu yang berjalan dengan penuh dinamika di dunia yang kuhidupi saat ini. Aku mengangkat tanganku, mengacungkan sepasang jemari yang terlingkari cincin-cincin perak membentuk tanda “V” yang disambut dengan acungan yang sama dari lautan manusia di hadapanku.

 

“Lagu terakhir untuk kalian malam ini!” teriakku lantang yang disambut koor memanggil judul lagu yang selalu menutup konserku dari kota ke kota sepanjang tahun ini; “Damai Kita di Ujung Senja”

 

“Damai kita di ujung senja, kala mentari menuju peraduan. Bisikanlah kata asmara untukmu, cinta tak bertuan.”

 

Dan lampu-lampu itu pun meredup.

 

 

Aku berjalan gontai memasuki kamar hotel tempatku menginap. Seperti biasa, kamarku tidak boleh dimasuki siapapun selain manajerku dengan sepengetahuanku. Bahkan room service pun tidak boleh. Aku ingin semuanya tertata sama persis seperti aku meninggalkannya sebelum menaiki panggung. Tentu saja, banyak gosip berputar di antara para kru dan pihak manajemen yang haus drama untuk dijual sekenanya ke infotainment mengenai kebiasaanku yang satu ini, mulai dari narkoba sampai tidur dengan model-model ternama.

 

Aku tahu, dan aku membiarkannya. Bicaralah semaunya, aku dibayar untuk menjadi seorang “artis”, figur tak terjamah yang hidup dalam imaji individu-individu yang butuh hiburan dan karakter yang menjalani mimpi mereka akan kehidupan seperti di televisi. Dramatis, penuh intrik, dan menggairahkan.

 

Tidak, teman-temanku sayang. Ini adalah nirvana kecilku, taman surgawi yang berantakan dengan baju kotor berserakan mengalasi remah keripik kentang dan berkaleng-kaleng soda kosong. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri, penyanyi single di penghujung usia duapuluhan yang kurang tidur.

 

“Kamu nggak capek?”

 

Aku tersentak mendengar suara itu, aku duduk menatap sekitarku dan ada hanya tembok berwarna krem dengan isi koper yang berserakan di lantai kayu ruangan yang cukup luas ini. Televisi mati, laptop mati, dan telepon genggam memang kumatikan. Tidak ada suara apa-apa lagi, bahkan hembusan angin dari sela kisi-kisi besi pendingin ruangan kamar ini seolah mendadak bisu. Lucu bagaimana di saat seperti ini aku baru menyadari betapa banyak suara kecil yang ada sehari-hari.

 

“Capek apa?” tanyaku kepada keheningan absurd yang mengelilingiku.

 

“Menjadi ‘kamu’. Yang berdiri angkuh menentang dunia di atas panggung itu,” balas suara yang entah dari mana datangnya itu. “Menjadi ‘kamu’ yang egois, menutup diri di ruangan ini dan berpura-pura tidak peduli dengan semua gunjingan miring yang membangun karirmu.”

 

“Kamu siapa?” hadrikku kesal.

 

Kamu yang siapa?” ujarnya pelan yang diakhiri tawa kecil yang perlahan menghilang ditelan suara-suara tidak penting yang mendadak kembali serentak, memberikan kebisingan sesaat sebelum telingaku menjadi terbiasa dan mereka kembali menjadi tidak penting.

 

 

“Lo nggak mau beres-beres? Kita harus pulang ke Jakarta sore ini.”

 

Aku menengok malas ke lelaki yang berdiri di samping tempat tidurku. Dia melipat tangan di dadanya sambil melihatku melempar-lempar gumpalan tisu ke tempat sampah di pojokan kamar hotel. Angin, lelaki bernama unik yang merupakan manajer personalku selama bertahun-tahun. Aku pertama kali bertemu dia bahkan sebelum aku menandatangani kontak pertamaku. Aku baru memutuskan meninggalkan kuliah untuk mengejar karir sebagai musisi, dan dia memasuki dunia ini sebagai pelarian dari kerasnya mengejar karir di bidang manajemen perusahaan untuk lulusan S1.

 

Dan mungkin selama lebih dari seperempat abad hidupku, dia adalah orang yang paling bisa menebak mauku apa. Karena bahkan aku sendiri terkadang tidak tahu itu.

 

“Menurut lo, gue tuh siapa ya?” tanyaku sambil menarik selembar tisu lagi dari kotaknya, menggulungnya dan melemparnya.

 

“Elo? Elo tuh orang sakit jiwa. Jenius sinting yang kebetulan bisa nyanyi. Puas?” jawabnya.

 

“Belom.”

 

“Elo itu… layangan. Nggak bisa eksis di langit kalau nggak didorong sama Angin.”

 

“Harus ya colongan narsis gitu?”

 

“Harus banget. Lo mau siap-siap kapan? Gue males ngurusin tiket lo kalau sampai kita ketinggalan flight. Anak-anak kru udah pada jalan bareng segala tetek-bengek logistik dari semalem, jangan sampe big boss nelpon gue nanyain lo di mana.”

 

“Bilang aja gue ga mau keluar kamar kayak biasa, ga bisa digedor.”

 

“Udah gue pake alasan itu dari semalam, lo pikir kenapa lo bisa beda pesawat? Udah deh jangan rewel!”

 

“Okaaaaaay, fine…” ujarku sambil beringsut malas meninggalkan tempat tidurku.

 

 

Dan itu adalah pembicaraan terakhirku dengan Angin. Tidak banyak yang kuingat setelahnya, kami tidak banyak bicara pada saat perjalanan menuju bandara, bahkan saat pesawat lepas landas pun kami tidak bicara karena aku mengenakan penutup mataku dan tidur dengan lelap.

 

Lalu aku siapa?

 

Ingatanku kabur, yang kuingat hanya suara keras dan rasa sakit luar biasa dari benturan entah apa. Hal berikutnya yang kuingat adalah terbangun di rumah sakit berbulan kemudian dengan berbagai karangan bunga di sekitarku dan berita bahwa Angin Utara sudah berhenti berhembus, dan tali layangan ini sudah putus.

 

Mereka bilang aku selamat karena sebagian besar tubuhku dilindungi olehnya pada saat benturan, beberapa mengatakan kalau mereka menemukan jasadnya yang kaku masih memelukku yang sekarat dengan erat. Jujur saja, saat ini aku sudah tidak peduli. Seperti suara-suara pendingin ruangan yang menghilang dalam keheningan di kamar waktu itu, aku tidak sepenuhnya menyadari betapa absurdnya dunia tanpa hal yang biasa kita temui sehari-hari.

 

Dan “aku”, siapa “aku”? Aku jelas bukan semata layang-layang yang memerlukan Angin untuk mendorongku. Aku Elang angkuh yang bisa terbang tinggi di udara tanpa dorongan. Sewindu sudah berlalu sejak kecelakaan itu dan aku masih di sini, di atas panggung yang masih sama kekar meski tahun-tahun berlalu. Kamarku masih tertutup, makin tertutup, terkunci untuk semua.

 

“Dan nirvana berubah menjadi neraka?” ujar suara yang sama yang kudengar tahunan lalu saat aku mengunci pintu kamar hotelku. Kali ini suara itu jelas dari mana datangnya, seorang wanita dari balik bayangan di sudut kamar. Dia melangkah mendekat, menunjukkan wajahnya dengan rahang yang keras untuk ukuran wanita, tulang pipi tinggi dan rambut bergelombang yang terurai melewati bahu.

 

“Halo, aku,” ujarnya.

 

“Kamu?”

 

“Aku. Kamu. Kita. Aku yang kamu buang tahunan yang lalu. Kamu mencari siapa dirimu kan? Aku sudah di sini sekarang.”

 

“Bukan aku yang mencari, kamu yang ingin kutemukan,” jawabku.

 

“Sudah cukup kamu berbohong, seberapa banyak operasi yang kamu lakukan, seberapa banyak kebohongan yang kamu katakan untuk dirimu sendiri tidak akan bisa merubah siapa kamu sebenarnya. Kamu ingin bertemu aku yang kamu benci.”

 

“Oh, begitu?” jawabku kesal sambil melewatinya dan melemparkan diriku ke atas tempat tidur.

 

“Hadapilah, sayang,” ujarnya sambil berbaring di sisiku. “Kamu tetap seorang gadis. Buah dadamu boleh menghilang di ujung pisau-pisau operasi, tapi hatimu di dalam sana masih merindukan dirimu yang “aku”. Terima diriku, dan biarkan kita satu lagi.”

 

“Untuk apa, untuk mencinta Angin yang sudah mati?”

 

“Untuk jujur. Siapa yang kamu benci, “aku” yang wanita dan lemah di matamu atau “kamu” yang lelaki dan tidak bisa berkata pada tuan yang tiada sebelum sempat mendengar cinta? Yang kamu tulis secara rahasia di lirik-lirikmu yang menjual itu?”

 

Hening.

 

“Pilihan ada di dirimu sepenuhnya, “aku” atau “kamu”. Hanya ada satu.”

 

 

Dua orang wanita duduk bergunjing di depan meja rias yang kosong, sang artis sedang ada di atas panggung dan seluruh kru sibuk dengan urusan masih-masing. Memecah hening, mereka bergunjing.

 

“Mati?”

“Iya, bunuh diri! Kamu tahu kan, dia itu paliiiiing nggak mau diganggu kalau lagi di kamar! Eh terus masa katanya pas dimandiin juga konon nggak ada… “itu”nya!”

“Masa?”

“Iya, pantes aja ngumpet melulu, operasinya belum selesai kali ya, stress terus bunuh diri.”

“Hush, jangan gitu lah, udah nggak ada juga orangnya!”

“Iya, iya, hihihi…”

 

–oOo–

RustyrevolveR