91209 : Retrospective

Jadi yah, saya sedikit memperhatikan jalannya demo kemarin, meskipun nggak ke mana-mana juga. Unlike some people, I actually put priority to my job rather than yelling on the street about corruption while in the same time corrupting my work hour.

Seriously, people.

Jujur saja, dengan segala ekspektasi dan kehebohan yang ada dari seminggu sebelumnya, 9 november kemarin tidak ada sesuatu yang benar-benar spesial. Dengan pengecualian rusuh mahasiswa di Makassar dan demo jin di Lamongan, tentunya. Tapi jujur saja, itu juga bukannya kejadian yang jarang.

Demonstrasi massal, rusuh di satu-dua titik, orang ajaib dengan logika klenik, copet, dan diakhiri dengan bagi-bagi amplop. Just an everyday’s life in this beautiful world of democracy. Someone got a need, someone got an issue, someone got a money, there’s timing, and then voila, we got a demonstration.

Kenapa saya bilang kalau kemarin itu sama saja kayak biasanya? karena selain momen peringatan hari anti korupsi, tidak ada subjek atau aksi yang berbeda dari biasanya (sekali lagi, selain demo jin). Saya malah ragu mengenai jumlah masyarakat yang benar-benar peduli dengan demonstrasi kemarin, karena sejauh yang saya lihat kebanyakan orang justru lebih banyak yang berdiam diri di rumah karena takut rusuh.

Saya rasa pada saat ini demonstrasi sendiri juga sudah tidak efektif untuk menyampaikan pendapat. Sebagian masyarakat sudah memandang sinis karena setiap kali ada demo efektivitas kerja dan omzet perdagangan di daerah yang dilewati demo menjadi berkurang, belum lagi macet dan lain-lainnya. Saya rasa juga kalangan “tertentu” memandang demonstrasi ini dengan sinis karena dengan banyaknya jumlah pendemo bayaran, kita sulit memisahkan mana demo yang benar-benar serius mana yang cuma bayaran. Apalagi kebanyakan memang hanya berjalan ramai-ramai sambil mengangkat poster yang terlihat seperti headline koran kuning dengan kekasaran disetel pada volume 12. Belum lagi aksi-aksi konyol semacam memantati gedung putih ramai-ramai.

Entahlah, mungkin ini memang preferensi personal saja, tapi saya sangat sulit memandang serius suatu gerakan yang lebih terlihat seperti gerombolan domba dengan satu orang gembala yang menyuruh mereka mengembik ramai-ramai secara kompak setiap beberapa menit sekali. Kalau begitu apa bedanya dengan anggota dewan yang selalu kompak bilang setuju?

Dan dengan segini banyak masalah yang terlihat di dalam sebuah proses demonstrasi, bisakah kita berharap demonstrasi akan dianggap serius selain “paling BSH” atau “ada maunya tuh” atau malah “coba kita lihat siapa yang nyetir”. And we can’t blame people for thinking that way, because seriously, that happened a lot of time.

Tapi sudahlah, saya tidak ingin marah-marah terus terusan. Saya ingin bertanya saja, tidakkah ada cara lain penyampaian pendapat selain demonstrasi? At this rate, it’s kinda pointless, tiring, and kinda hypocrite seeing how much inconsistency and corruption inside the demonstration itself.

RustyrevolveR

Leave a Reply