Life’s Bullshit

Pohon-pohon seperti bersekongkol dengan cuaca. Beberapa hari Jakarta diguyur hujan dan angin, pepohonan di bagian selatan kota ini terlihat makin hijau, subur, dan menghalangi pandangan ke banyak marka jalan membuat para pendatang terutama supir-supir bajaj dan ojek pasca lebaran tersesat di anatara belitan jalur tikus dan tarif yang dimurah-murahkan oleh penumpang licik.

 

“Lumayan lho, dari Fatmawati sampai gereja cuma ceban. Hemat sampai limapuluh persen tuh Lex!” ujar Vincent sambil menggulung lengan kemejanya, mengekspos sederetan tato berbeda yang dipaksa matching oleh berbagai seniman dengan jarum yang pernah singgah di sana.

 

“Elo mau ibadah aja masih culas, gimana mau gendut itu badan?” balas Alexa sambil menyeruput soda dari dalam gelas plastik. Kedua orang tersebut sedang duduk di bawah payung besar yang menjadi satu dengan meja yang bergambar produk minuman ringan, di atas meja itu tergeletak berbagai gelas plastik dan bungkus makanan ringan yang terbuka tanpa dibuang oleh mereka yang duduk di tempat itu sebelumnya. Air sisa hujan masih menetes dari pucuk dedaunan rindang di atas convenient store tempat mereka duduk-duduk itu.

 

“Beb, gue nggak perlu gendut,” ujar Vincent sambil terkekeh. “Gue perlunya jadi tajir melintir supaya bisa beli otot, istri cantik, sama Chevy Impala ‘63.”

“Najis.”

“Lho, impian lelaki, tahu!”

“Ngebeli istri?”

“Hari gini lo nggak bakal dilirik kalo nggak kelihatan keren. Gue banyak duit, gue investasi di penampilan. Penampilan menarik, ada cewek nyangkut. Ada cewek nyangkut, ntar nikah deh. Kalau modal awalnya aja namanya investasi, ya berarti secara nggak langsung gue ngebeli istri gue di masa depan dong!” ujar Vincent merepet sambil terkekeh dan menyalakan rokok.

 

“Lo tahu kan lo lagi ngobrol sama cewek sekarang?” tanya Alexa ketus.

“Meskipun rambut lo cepak dan kayaknya masih pake miniset, gue sadar kok elo masih cewek.”

 

“Tai lo.”

 

“Makasih.”

 

“Jadi menurut lo cewek itu kayak barang, gitu?”

 

“Gue belum nemu satupun cewek yang memperlakukan gue kayak manusia. Mereka mau titit gue di kasur, pamerin gue ke temen-temennya kalo lagi jalan, keren-kerenan di klub, dan lain-lain. Buat dapetin itu semua mereka investasi ke penampilan mereka, jadi tit for tat aja, gue beli yang mereka jual dan mereka beli apa yang gue jual.”

 

“Itu kan cewek, bukan istri.”

 

“Istri gue pasti cewek kan? Statistically speaking, nine out of ten women I met are bitches. I have no reason to believe I’m gonna marry someone that want me for nothing.”

 

There’s still the last one out of ten.”

 

Then I have to marry you. Sedangkan gue nggak yakin lo suka laki.”

 

“Tai lo.”

 

“Makasih.”

 

Alexa mendengus kesal dan menyambar bungkus rokok berwarna merah dari meja di hadapan Vincent. Asap putih tipis merambat tipis dari sela-sela bibirnya yang melengkung turun. Matanya yang sipit memicing memandang lelaki di hadapannya itu. Rambut bergelombang acak-acakan dengan warna kecoklatan, jenggot beberapa helai yang lupa dicukur, mata tajam yang tersembunyi di balik lingkaran hitam yang mengelilinginya menghiasi raut wajah dengan rahang keras dan tulang pipi tinggi tersebut.

 

This just crossed my mind. Ngapain lo ke gereja?” tanya Alexa setelah emosinya sedikit lebih mereda.

 

To pray, is there any other reason? Ini minggu pagi, dan tadi ada mi….”

 

“KTP lo itu Katolik, dan gereja tempat lo ‘misa’ tadi itu…” potong Alexa sambil menunjuk ke sebuah bangunan yang tidak seberapa jauh dari tempat mereka duduk-duduk ”…gereja HKBP. Jangan sok mau ngebegoin gue deh.”

 

“Oh, pantesan…”

“Jangan belagak bego.”

 

“Oke, oke. Gue tadi nyariin si Evan. Dia udah beberapa hari nggak bisa gue kontak, padahal gue janjain ngetake guide gitar di kosan dia,”

 

“Ketemu?” tanya Alexa.

 

“Lah ini kita berdua doang, kira-kira ketemu nggak?”

 

Alexa terdiam. Dia menatap ke kejauhan, ke antara kerumunan orang-orang yang berjalan keluar dari bangunan tersebut. Beberapa berjalan dengan keluarganya, beberapa dengan pasangannya, beberapa sendiri. Wajah-wajah itu diperhatikan satu-persatu oleh Alexa, mencari raut lelaki gondrong dengan rahang keras dan kacamata kotak berbingkai tebal.

 

Nihil.

 

“Dan elo ikut kebaktian mereka dari pagi?” tanya Alexa lagi, memecahkan keheningan.

“Iya, gue ikut misa pagi terus nunggu sambil muter-muter nyari sampai bete, baru siangan nelpon elo nyuruh ke sini.”

“Kebaktian,” potong Alexa.

“Maksud lo apaan sih motong mulu? Gue tadi ikut misa kok,” Vincent mendengus kesal sambil setengah melotot ke arah Alexa.

 

Alexa terdiam, mulutnya sedikit ternganga.

 

“Lo terakhir ke gereja kapan?” tanya gadis berambut pendek itu.

“Emang yang tadi bukan misa?” Vincent bertanya balik.

You’re impossible,” ujar Alexa sambil membenamkan wajahnya ke dua belah telapak tangannya.

 

11th June

Travel Bus to Jakarta

 

I fucking hate funeral. I hate seeing people cry, I hate seeing them throwing desperate bargain to God for what He took away. I hate seeing them overreact in everything

.

Actually, these people really blew my mind, they claimed themselves to be God-fearing religious people. Real believer that follow His words to the fullest, but they cry like a fucking brat when He do things that don’t favor them. So far with “faith”, ain’t it? Do they really believe in heaven and hell when they cry at dead people that supposedly in a better place now? Do they really love their loved one when they cry at the funeral of people that SUPPOSEDLY be one with Him now?

 

Do they, or they’re just sick selfish bastards that think God should serve them as good as he could to pay all that long prayer they do on His name?

 

Fucking hypocrites.

 

I don’t know, maybe it’s the unmainstreamly (is that even a word?) religious me that see Him in different point of view or whatever. I’m not a preacher, what the fuck do I know?

–       S.S.S

 

 

Matahari sudah condong ke barat dan jalanan yang basah sudah mulai mengering, hanya genangan-genangan air berkumpul di tepi jalan yang sesekali berkecipak terlindas mobil-mobil yang berlalu. Salah satu mobil van yang berlalu berhenti tepat di atasnya, memuntahkan sejumlah wajah penat setelah terjebak kemacetan jalan tol antar kota selama lebih dari tiga jam.

 

Lucu ya, gue ke Kuala Lumpur dan gue ke Bandung makan waktu lebih lama ke Bandung, batin salah satu lelaki yang turun dari kendaraan itu. Rambutnya yang panjang diikat di belakang dan bagian atas kepalanya ditutup sebuah topi trucker hitam yang sudah terlihat belel seperti jins biru yang dikenakannya. Dia menyulut sebatang rokok dan melangkah menjauh menuju perempatan terdekat dan menghampiri tukang ojek pertama yang menyadari kedatangannya.

 

“Tadi pagi saya ditipu, kang! Masa saya muter-muter jauh banget cuma dibayar sepuluh ribu? Kata penumpangnya deket, saya teh percaya aja kang, nggak tahunya jauh bener. Saya mau ngomel takut, orangnya tinggi, gondrong, tatoan. Mirip si akang, tapi akang mah baek, jujur, nggak kayak yang tadi siang…” cerocos tukang ojek tanpa mempedulikan fakta bahwa penumpangnya tidak menunjukkan reaksi ketertarikan sedikitpun.

 

“Jarak itu relatif, bang. Yang deket bisa jauh, yang jauh bisa deket. Yang masih hidup bisa terasa jauuuh banget, yang udah mati malah berasa nempel,” ujar Evan, sang penumpang ojek tersebut.

 

“Ah, si akang mah omongannya serem banget, bawa-bawa yang udah mati nempel segala.”

“Serem ya bang?” tanya Evan dengan nada santai

“Iya atuh kang, saya mah biar kata sayang sama istri saya juga males kalo ditempelin seumur hidup saya, hiii…”

 

“Emang istri abang udah meninggal?”

“Nikah juga belom, kang.”

“Ya udah, ngebujang aja seumur hidup bang, supaya nggak ditempelin hantu mantan istri.”

“Ah, si akang mah… nyumpahin sih.”

 

Pembicaraan terputus ketika mereka tiba di depan sebuah bangunan empat lantai dengan banyak jendela. Terletak di sebelah taman kecil, suasana kos-kosan itu terasa rindang dan bersahabat. Seorang bapak tua yang terlihat tambun dengan seragam satpam yang tidak dikancing sedang menyapu dedaunan kering di depan gedung itu. Dia menengadah dan tersenyum sopan kepada Evan yang menyapanya sambil melangkah masuk.

 

“Eh iya Pan, pacarnya nungguin tuh di depan kamar,” teriak satpam itu kepada Evan dengan logat Betawi yang kental.

 

Evan berhenti sesaat sebelum melangkahkan kakinya menaiki tangga lagi. Dia tidak punya pacar, jadi kemungkinan besar itu adalah salah satu dari antara dua wanita dari bandnya.

 

Katt.

 

Gadis itu duduk berselonjor di lantai depan pintu kamar kos Evan. Rambutnya yang biasa disisir ke samping kini menutupi sebagian besar wajahnya, seperti berusaha menutupi matanya yang memerah namun tidak ditemani setetespun air mata di pipinya. Sebungkus kotak hitam berisi rokok tergeletak pasrah di sisinya dikelilingi puntung-puntung hitam yang tidak semuanya terbakar habis.

 

He’s dead, ain’t he?” tanya gadis itu dengan suara berat yang terdengar serak. Dia mengangkat kepalanya dengan ogah-ogahan, menatap Evan yang berdiri dengan gejolak emosi bercampur di dalam dadanya.

 

Get up,” balas Evan singkat sambil menarik Katt berdiri. Gadis itu terangkat namun terhuyung jatuh dan dengan sigap ditangkap oleh Evan.

 

Two motherfucking death, and I’m barely twenty two. This life is bullshit, I’m bullshit,” desis Katt.

 

“Udahlah, kita masuk dulu aja. Lo kalem dulu.”

 

Tidak ada suara apa-apa dari gadis itu. Dia tertidur dengan nafas lambat dan nyaris tanpa suara. Dengan satu desahan pelan, Evan menahan tubuh gadis itu dan membuka pintu kamar kosnya.

 

 

Evan merebahkan dirinya di karpet kasar dan bantal kotak yang jelas-jelas terlalu besar untuk menjadi bantal normal. Dia menarik seprei yang masih wangi dan jelas terlihat tarikan garis-garis lipatannya. Dia melirik ke sudut kamar itu di mana Katt meringkuk di atas kasur dengan tumpukan kain acak-acakan tertindih olehnya.

 

Dengan satu desahan keras, Evan menutup wajahnya dengan seprei itu dan memaksa dirinya turun ke Tartarus mini di kepalanya sampai esok pagi.

RustyrevolveR

1 thought on “Life’s Bullshit”

Leave a Reply